Sunday, September 04, 2011

Waktu


Kata orang umur itu sesuatu yang merayap tanpa disadari.
Seiring berjalannya waktu, tahu-tahu sudah tua.
Mari kita mengerat daging dari tubuh.
Menumbuhkan uban di kepala.
Menambah keriput di kulit.
Selalu mengingat kematian dan tak lupa untuk bersenang-senang.

Monday, June 20, 2011

Lari

Kira-kira 8 bulan terakhir, ketika gue mengetahui bahwa ada seorang teman di tempat bekerja yang mempunyai hobi lari, akhirnya sedikit terpengaruh untuk mencoba olahraga ini, beda sekali levelnya dengan gue, yang masih pemula. Teman yang satu ini kurang lebih sudah 2 tahun berlari, dengan jadwal lari intensif. Asupan gizi serta berbagai tips kesehatan dijalaninya dengan disiplin. Hasilnya, tubuh yang dulu berlebihan lemak, saat ini terlihat lebih ramping dan tentunya terlihat secara kasat lebih sehat. Selain itu, dia juga sering mengikuti acara-acara lari yang diselenggarakan oleh komunitas ataupun event-event tertentu. Yang menarik, terakhir dia mengikuti ultra-marathon dan bisa menyelesaikannya. Benar-benar salut gue.

Gue pikir olahraga ini benar-benar olahraga yang sederhana, mudah dilakukan dan punya dampak yang cukup signifikan. Di awal berlari dulu, mungkin baru sekitar 1 - 1.5 kilometer, tubuh gue sudah terasa lelah, sekarang alhamdulillah 4-5 kilometer lari ringan tanpa henti dengan waktu tempuh 30 - 40 menit sudah bisa dicapai. Manfaat yang bisa gue rasakan antara lain : tubuh rasanya lebih fit, kalo tubuh kena flu, waktu penyembuhannya relatif lebih singkat sekitar 2-4 hari, tentunya dengan tambahan waktu beristirahat. Selain itu, semangat juga bisa lebih terjaga. Secara keseluruhan, dampak olahraga ini terasa positif.

Tapi ada yang membedakan lari saat ini dengan lari ketika gue kecil dulu. Yaitu kualitas kebahagiaan ketika berlari. Ini yang gue rasakan, ketika kecil dulu ketika balapan lari, bermain benteng, mengejar layangan putus, atau sekedar berlari cepat, ada perasaan berdebar yang sangat membahagiakan, nafas & degup jantung terasa cepat. Ingin menjadi nomor satu, ingin mendapatkan layangan, ingin menang dalam bermain. Pada saat-saat tertentu segala sesuatunya jadi terlupakan, semisal ketika menerjang belukar berduri, ketika kaki terkena pecahan kaca kecil ataupun luka karena benda-benda lainnya. Yang ada di pikiran saat itu adalah mencapai tujuan. Rasa sakit ataupun nyeri biasanya tidak terasa. Baru setelahnya, ketika moment tersebut sudah selesai, penderitaan dimulai. Dan biasanya hal ini tidak berlangsung lama, ketika sudah merasa sedikit baikan, di hari-hari berikutnya hal tersebut berulang lagi.

Saat ini, jika sedang berlari, yang gue pikirkan adalah bagaimana menjaga konsistensi kecepatan supaya tenaga cukup sampai tujuan. Mungkin satu-satunya hal yang bisa memberikan sensasi berbeda dalam berlari adalah musik yang gue dengarkan ketika berlari. Entah reggae, pop, rock ataupun klasik. Semuanya memberikan sensasi tersendiri.

Yang tidak menyenangkan, gue makin merasa bahwa kualitas udara di sekitar kampung tempat tinggal gue semakin buruk. Kalau berlari pukul 5.30 am saja bisa dipastikan sudah banyak asap kendaraan bermotor, karena jalan kecil yang berada di kampung ini digunakan sebagai jalan alternatif bagi pengendara kendaraan bermotor yang menuju tempat kerjanya di Jakarta. Dan yang pasti jumlahnya semakin hari semakin bertambah banyak. Jadi jika ingin mendapatkan waktu 30 menit dengan kualitas udara yang sedikit lebih baik, setidaknya harus mulai lari jam 05.00 am.

Terlepas dari hal yang tidak menyenangkan tersebut, kembali kepada gue sendiri untuk berdisiplin dan mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, alih-alih menyalahkan keadaan. Oh ya, gue sertakan lagu yang beberapa waktu belakangan ini sering gue dengarkan ketika berlari. Apalagi kalau larinya di antara rimbunan pohon, pemandangan hijau dan udara segar (seperti di UI Depok), sensasi yang tercipta adalah "berlari dalam kemegahan" *halah*.



Sunday, March 27, 2011

Langit


langit biru, jingga & hitam berbintang
meluaskan hati yang sempit
menenangkan gemuruh jiwa
memukau dengan segala keanggunannya

Sunday, March 20, 2011

Berita TV

Dalam satu minggu ini, waktu yang gue luangkan untuk menonton TV lebih banyak daripada minggu lainnya. Karena gue ingin mendapatkan informasi terupdate terkait dengan adanya bencana tsunami yang terjadi di Jepang. Dan kesimpulan yang didapat adalah, harus semakin selektif dalam memilih berita. Walaupun melihat acara berita jauh lebih berkualitas daripada acara humor slapstik, sinetron, reality show, ataupun musik ABG, tetap saja, gue pikir berita yang disampaikan oleh stasiun TV tertentu setara dengan berita gosip.

Pemberitaan yang disiarkan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Fakta yang ada terlalu dilebih-lebihkan dengan tujuan menaikkan rating acara. Sekedar mencari keuntungan, materialis dan sepertinya tidak punya tanggung jawab moral terhadap pemirsanya. Dan sayangnnya pembawa acara yang memandu pemberitaan atau wawancara juga gue lihat ngga lebih seperti penjual obat yang sekedar asal ramai dan heboh. Materi pertanyaan dan respon yang disampaikan tidak berkualitas. Sampe mikir bahwa mereka direkrut cuma karena modal penampilan saja.

Untuk selanjutnya, solusi yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan media lain sebagai sumber informasi. Dan tetap harus disaring, dicek dan dibandingkan dengan sumber berita lain.

Sunday, March 13, 2011

Lempeng Benua

Keberadaan negara-negara yang berada di pertemuan lempeng dunia memang rentan terjadi gempa tektonik karena pergerakan lempeng benua tersebut. Gue merasa kurang sreg kalo ada yang menghubung-hubungkan kejadian alam seperti ini dengan maksiat-dosa-atau apalah para penduduknya. Karena memang keadaan alamnya seperti itu. Dan yang lebih dibutuhkan oleh manusia yang tinggal di atas gugusan pertemuan lempeng tersebut adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan alam.

Bahkan banyak manusia yang tidak sadar bahwa mereka membuat bencana sendiri karena tidak belajar menghormati alam. Perilaku serakah, bodoh, tidak mau belajar dan peduli akan kelestarian dan keseimbangan alam pada saatnya nanti akan membinasakan manusia itu sendiri. Jumlah manusia bertambah, sumber daya alam berkurang, pencemaran & kerusakan bertambah, daya dukung bumi makin menurun. Manusia menciptakan kebinasaannya sendiri. Satu saat nanti mungkin pohon, air bersih, tanah, udara bersih, bahan tambang akan jadi barang mahal.

referensi : http://en.wikipedia.org/wiki/Plate_tectonics

Thursday, February 03, 2011

Ramahnya Jakarta

Kemarin, merupakan salah satu waktu terbaik bagi gue untuk mendapatkan bus transjakarta yang menuju ragunan pada jam pulang kerja. 1.5 jam!, itupun masuknya dipaksa sambil berdesakan.

Ditambah insiden kecil antara penumpang yang berakhir pada tindakan perkelahian. Jakarta benar-benar "ramah", segenap manusia bercampur baur di kota ini, dengan tujuan, sudut pandang, ego masing-masing. Dengan perlahan tapi pasti, Jakarta bisa merubah semuanya. Bisa menjadikan manusia yang tinggal di dalamnya tak lebih dari orang bar-bar.

Terlalu berlebihan mungkin, tapi gue sedang membayangkan alur kemarahan yang berujung pada perkelahian tersebut. Seperti ini, perusahaan merugi, pemegang saham menumpahkan kemarahan pada direktur, direktur menumpahkan kemarahan pada manager, lalu dilanjutkan kemarahannya pada staf, lalu berlanjut ke bawahan lagi hingga mentok ke karyawan level kroco. Akhirnya karyawan tersebut melampiaskan kemarahannya pada apapun yang bisa ditemuinya karena dia merasa memiliki hak untuk marah dengan berbagai alasan.

Mudah-mudahan gue bisa tetap sadar jadi manusia.

Wednesday, January 26, 2011

Homunculus Desire

i want to learn everything about this world!
i want to live freely in this vast world without being bound by anyone!
i want to become a perfect being

what's wrong with that?!
what's wrong with desiring it?!
what's wrong with wishing for it?!

Monday, January 10, 2011

Tahun Baru 2011

Gue, salah satu dari jutaan orang yang merasa bahwa waktu berjalan luar biasa cepat. Cuma beberapa tulisan dalam blog ini yang ditulis mulai bulan Januari 2010. Ternyata sekarang sudah Januari 2011. Begitu banyak hal yang terjadi. Tapi cuma sedikit yang bisa diingat. ya ampun