Monday, March 12, 2007

Katanya Sih...

Orang yang sukses dalam profesinya adalah orang yang tidak bisa membedakan, mana pekerjaan dan kesenangan

Saturday, March 10, 2007

Kemampuan linguistik

Sejauh yang gue ketahui, kemampuan linguistik meliputi kemampuan berbicara, mendengar, membaca dan menulis.

Kemampuan berbicara adalah kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik ketika ngobrol, presentasi, menyampaikan pendapat, eyel-eyelan (baca : berdebat) ataupun kegiatan lainnya. Kemampuan berbicara identik dengan penggunaan bahasa dan lisan yang tepat, sehingga pendengar dapat mengerti apa yang kita sampaikan. Selain itu, sikap dan pengetahuan menentukan waktu yang tepat untuk berbicara mendukung keberhasilan kita dalam berbicara.

Kemampuan mendengar tentunya lawan dari kemampuan berbicara, di sini si pendengar diposisikan sebagai pihak yang berusaha mengerti terhadap apa yang disampaikan oleh lawan dengarnya --dalam hal ini si pembicara. Untuk mengerti apa yang disampaikan oleh si pembicara tidak terlepas dari kemampuan untuk memberi perhatian terhadap hal yang disampaikan oleh si pembicara. Lagi-lagi masalah sikap.

Tentunya akan takberujungpangkal jika kedua pihak sama-sama berbicara tanpa mendengar, dan betapa anehnya jika kedua pihak berusaha untuk saling mendengar tapi tidak ada satupun yang berbicara --bayangkanlah dua orang saling bertatapan serius dan berusaha saling mendengarkan sementara tidak satupun berbicara. Mungkin perlu juga ya bahasa ekspresi wajah dan tatapan mata yang baku. Jadi jika satu kedipan mata berarti huruf A, kedua mata berkedip berarti B, bibir senyum berarti S, lidah melet artinya M dan seterusnya, intinya bagaimana bisa memetakan alphabet dengan ekspresi wajah :D.

Lalu kemampuan membaca, kemampuan untuk mengerti dan memahami bacaan, membaca itu penting, karena salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah dengan membaca, artinya, banyak baca jadi banyak tahu. Terlepas dari bahan apa yang dibaca, ada istilah "you're what you read", jadi secara tidak langsung untuk menilai pribadi seseorang kita dapat melihat apa yang dibacanya, lebih dari itu, mungkin membaca adalah sebuah cara yang tepat untuk melarikan diri yak, baik dari tempat, waktu, sampai kenyataan :D.

Menulis, aktivitas yang sedang gue lakukan saat ini, sampai sejauh ini kira-kira pembaca mengerti apa yang gue tulis apa nggak yak ? :D. Menulis adalah salah satu kegiatan positif, menulis merupakan cara untuk mengkomunikasikan apa yang ada di dalam pikiran kita ke dalam rangkaian aksara agar dimengerti orang lain, baik berupa ilmu pengetahuan, opini, ide, pengalaman, ocehan tak bermutu, sampai keluh kesah :D. Entah apapun tulisan yang dibuat, menurut gue akan sangat bernilai, jika si penulis melakukannya dengan segenap jiwa, jika bukan untuk orang lain ya berarti untuk kepuasan diri pribadi :D

Jujur saja, gue merasa kemampuan linguistik yang gue miliki masih kurang, baik dalam berbicara, mendengar, menulis bahkan membaca, masih perlu banyak belajar dan belajar :D. Gue ngga akan lupa dengan pepatah ini, "Banyak belajar banyak lupa, sedikit belajar sedikit lupa, tidak belajar tidak lupa --karena nggak ada yang diingat :D"

Dari ocehan hasil kesotoyan gue, adalah betapa pentingnya kemampuan linguistik. Bagaimana kita bisa berkomunikasi jika minim kemampuan linguistik, tentunya satu kemampuan linguistik akan bersinergi dengan kemampuan lainnya, dilihat dari kemampuan berbicara, bagaimana mungkin bisa jadi pembicara yang baik jika tidak bisa menjadi pendengar yang baik, lalu, bagaimana bisa menyampaikan buah pikiran dengan berbicara jika kosa kata dan pengetahuan yang dimiliki --salah satunya berasal dari bahan bacaan-- kurang, dan menurut gue, salah satu indikasi jelas tidaknya hal yang disampaikan oleh seorang pembicara bisa dinilai dari kemampuannya untuk menuangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Dan hal penting lainnya –menurut gue lagi— adalah pengaruh perbuatan kita terhadap keberadaan individu di sekitar kita, utamanya dalam kegiatan aktif seperti berbicara dan menulis, tidak semua kebebasan yang dimiliki oleh diri kita serta merta dapat melenggang seenaknya, batas-batas, penghargaan dan tanggung jawab sudah seharusnya menyertainya.

Thursday, March 01, 2007

Catatan Terselip

Tempat ini cukup menarik, sangat ramai pengunjung, transaksi penjual dan pembeli, timbangan, truk-truk yang mengantar sayur mayur-buah-rempah-rempah, kuli-kuli angkut, bocah-bocah dekil, di satu sisi bau menyengat karena tumpukan sampah basah yang menggunung, di sisi lain tercium bau menusuk karena rempah-rempah. Terlihat cukup banyak anak-anak yang bekerja di beberapa blok penjual rempah-rempah, mengelompokkan, membersihkan lalu membungkusnya, begitu pula untuk orang-orang dewasa; ada yang berjaga di depan barang dagangannya, memindahkan barang dari truk, meletakkannya secara berkelompok sembari berharap ada orang yang membelinya. Tidak ketinggalan juga kuli-kuli angkut pasar, bukan hanya yang masih muda serta memiliki tubuh dan tenaga yang kuat, tapi yang rentapun terkadang masih bisa dijumpai, mengangkut beban yang berkisar 1-2 kali berat tubuhnya.

Sesekali terlihat sekumpulan anak yang wira-wiri membawa “barang temuan”, sepotong-dua potong ketela pohon/rambat yang terserak di sekitar truk turun muatan setidaknya berkah untuk mereka, lagipula si empunya tidak terlalu ambil pusing atau sampai enggan berbagi.

Gambaran lain dari salah satu sisi kehidupan yang menghiasai kota Jakarta, sederhana sekali tempat ini, bukan sekedar ungkapan "no pain no gain" yang kadang hanya sekedar tertulis ataupun terdengar, terkadang terpikir, bahkan untuk anak-anak kecil --seusia TK & sekolah dasar-- yang bekerja di tempat ini kata-kata itu sudah benar-benar terpatri dan mendarah-daging.

Catatan terselip : "Pasar Induk Kramat Jati" 11 Juni 2006

Wednesday, February 21, 2007

Redemption songs

Old pirates, yes, they rob i
Sold I to the merchant ships,
Minutes after they took i
From the bottomless pit.
But my hand was made strong
By the and of the almighty.
We forward in this generation
Triumphantly.
Wont you help to sing
These songs of freedom?
cause all I ever have
Redemption songs
Redemption songs.

Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our minds
Have no fear for atomic energy
cause none of them can stop the time
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look? ooh
Some say its just a part of it
Weve got to fulfil de book

Wont you help to sing
These songs of freedom
cause all I ever have
Redemption songs
Redemption songs
Redemption songs
---
/guitar break/
---
Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our mind
Wo! have no fear for atomic energy
cause none of them-a can-a stop-a the time
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look
Yes, some say its just a part of it
Weve got to fulfil de book
Wont you help to sing
Dese songs of freedom
cause all I ever had
Redemption songs
All I ever had
Redemption songs
These songs of freedom
Songs of freedom

#Bob Marley

Friday, January 19, 2007

insomnia(3)

Sedang mengingat masa-masa kecil dengan kebudayaan yang berada di sekitar, dulu ketika kecil, ketika ada acara hajatan, entah itu pernikahan, khitanan ataupun acara 17-an masih sempat menikmati eloknya kebudayaan. Nuansa kebudayaannya masih kental, gue masih ingat dengan jelas, ketika itu ada acara pernikahan di RT, seperti acara pernikahan pada umumnya, biasanya resepsi dilakukan di siang hari, sedangkan malam hari adalah waktunya suguhan hiburan bagi masyarakat setempat, saat itu, untuk sekedar melihat hiburan, lapangan yang biasanya sepi bisa menjadi sebuah tempat yang sangat ramai, suguhan acara dimulai dari sambutan MC, keluarga yang memiliki acara, permainan tanjidor, lenong betawi dan diakhiri pemutaran film misbar (gerimis bubar) alias layar tancap :D.

Gue penikmat permainan musik, menyenangkan sekali melihat pemain memainkan berbagai alat musik, mungkin suaranya yang dihasilkan tidak terlalu memikat namun buat gue seni bermain alat musik itu menjadi daya tarik tersendiri. Sampai sekarangpun gue belum bisa bermain satupun alat musik, benar-benar hanya menjadi seorang penikmat permainan. Seperti apapun permainan tanjidor, baik atau buruk, menarik atau tidak, tetap saja merupakan sebuah kekayaan budaya yang memperkaya khasanah musik.

Tentang lenong betawi, ketika kecil dulu gue bisa tertawa lepas melihat aksi pemain lenong --mungkin karena masih kecil yak--, humor yang ditawarkan masih santun, terkadang ada juga nilai yang disampaikan, waktu itu sih yang gue ingat, nilai yang disampaikan dari acara tersebut, jika setelah menikah kemudian pasangan tersebut mempunyai anak, maka, it doesn't really matter whether your child is a girl or a boy, sesuai dengan himbauan pemerintah saat itu untuk menekan angka kelahiran. "Cukup dua anak, laki dan perempuan sama saja". Walau sekarang ada juga acara sejenis yang disebut lenong dan disiarkan melalui televisi, tapi rasanya kok beda, baik dari segi penyampaian maupun isi, kecenderungannya berisi celaan, canda yang tidak santun, gue menilainya sebagai miskin kreativitas, sensenya juga beda.

Mengenai layar tancap, well, hiburan yang satu ini kalo gue nilai sebagai acara pamungkas dari rangkaian suguhan hiburan. Untuk pemutaran film, biasanya waktu awal filmnya biasa-biasa aja, lalu beranjak ke tengah malam dan menjelang subuh baru deh film andalan dimainkan, sebenarnya gue kurang tahu mana film biasa dan andalan, definisi semua itu didasarkan paada desas-desus yang beredar sesama penonton :D, ada unsur psikologisnya juga.

Salah satu momen yang sangat berkesan adalah ketika menikmatinya, penikmat tentu saja tetangga dan warga sekitar, baik dari RT yang sama ataupun RT tetangga, terkadang entah orang darimana tahu-tahu ada di tempat itu :D. Cemilan yang ada juga merakyat, jagung dan kacang rebus, kue cucur, gemblong, bajigur, pisang dan ubi rebus. Biasanya gue menikmati setiap rangkaian hiburan bersama teman-teman dengan beralaskan koran, kongkow-kongkow, ketawa-ketiwi sambil makan cemilan :D, saat ini, pengalaman tersebut menurut gue sangat berkesan dan bernilai. Jauh lebih bernilai ketimbang menikmati film yang dimainkan di bioskop yang berada dalam mall dengan kursi empuk dan hawa dingin.

Saat ini gue merasa kesulitan untuk menemukan acara sejenis yang gue nikmati ketika masa kecil, mungkin di daerah lain masih ada. Sedangkan hiburan yang disuguhkan, sering sekali, kalo kebetulan ada acara pernikahan, lalu gue melewati tempatnya selepas beraktivitas di siang hari, biasanya acara yang disuguhkan adalah dangdut dengan penampilan sang biduan yang sedikit (?), cukup (?), sangat(?) seronok. Tak ketinggalan anak-anak kecil, ibu-ibu, bapak-bapak, muda-mudi tumpah ruah di sekitar panggung untuk menikmatinya, jika waktunya tiba, orang dewasa beraksi dengan berjoget. Botol-botol minumanpun berada di sekitar orang yang berkelompok.

Hmmm.. romantisme budaya.

Wednesday, December 27, 2006

Insomnia (2)

Mungkin nantinya judul dari setiap tulisan di blog diganti insomnia terus kali yak, rasanya kok mood untuk update blog muncul kalo memang lagi gak bisa tidur :p. Mau cerita sedikit ah...

ceritanya tentang seorang anak manusia yang punya hobi jalan-jalan dan seringnya juga sendirian, "kayak orang bego" kata seorang teman, masa bodoh. Pun Sampai sekarang juga cuma jadi seorang pengamat --kelas teri pula, gue punya semboyan petualang, begini : "jejakkan kakimu di tanah yang baru, minum airnya, kenalilah masyarakatnya", untuk penggalan terakhir "kenalilah masyaraktnya" adalah hal menarik buat gue ketika berada di daerah baru, lalu bisa mengetahui kebudayaanya, pola interaksi sosial dan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dan sering juga hal-hal sederhana yang terjadi, rasanya kok menagih.

Pembaca suka ini ?

Pernah melihat garis cakrawala yang mempertemukan laut dan langit, menarik bukan ?, mungkin kalo ini sedikit beda, batas yang gue maksud adalah pepohonan yang terlihat kecil berderet. Duduk di sebuah angkutan umum yang menghubungkan antar satu kabupaten dengan kabupaten lain di jawa tengah tak lepas dari pemandangan permadani hijau yang sangat luas. Di saat musim penghujan seperti saat ini, para petani menanami sawah-sawah (mereka ?) dengan padi, dan di awal musim seperti ini umumnya tanaman masih menghijau --belum memiliki bulir padi. Menurut gue sangat menyenangkan melihat hal seperti ini, ditemani hembusan angin segar di siang hari, tak lupa suara siaran radio yang memperdengarkan lagu-lagu dengan bahasa setempat, begitupula dengan obrolan di antara satu-dua penumpangnya. Klasik itu asik.

Di sela-sela lukisan indah tersebut, rupanya ada seorang gadis berseragam SMU yang memasang senyum manis --mesam-mesem ngono loh-- dengan seorang lelaki sebayanya yang berada di sudut belakang angkutan, entah siapa yang memulai, si lelakipun membalas nya dengan curi-curi pandang dan senyum menggoda. Beberapa lama kemudian terdengar gelak tawa dan canda dari luar angkutan umum, rupanya ada empat anak perempuan berseragam SMP yang menaiki satu becak, dua orang di bangku utama dan dua orang lagi duduk di tempat pijakan, ditemani si mas yang mengayuh pedal dengan kepayahan sambil sesekali mengusap keringatnya, sedangkan pengiringnya adalah teman-teman lain baik laki maupun perempuan bersepeda --semi ontel-- beriringan sambil sesekali terjadi percakapan kecil di antara mereka. Ketika menyaksikan hal tersebut, pikiran yang terbesit di kepala gue adalah bahwa di antara mereka nantinya ada orang besar yang akan membawa kemajuan bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Selain tentunya akan ada juga yang terkapar karena terhambat masalah umum yaitu AKSES.

Melompat sedikit ke hal lain, untuk pembaca yang kebetulan peduli dengan nasib pendidikan di Indonesia, gambaran sederhana yang gue ceritakan di atas sekiranya bisa memberikan sedikit percikan semangat bahwa mereka & pendidikan --terutama AKSES-- memang patut untuk diperjuangkan, ah ya, gue pun belum --bahkan tidak-- bisa berbuat banyak kecuali sekedar menjadi pengamat kelas TERI yang miskin tindakan. Ah, sutralah (baca : sudahlah), kayaknya mulai melantur.

Thursday, December 14, 2006

Insomnia

Sialnya penyakit insomnia mulai kambuh, kabarnya salah satu penyebab penyakit insmonia adalah pikiran yang berjejal di dalam kepala, sialnya terkadang pikiran yang singgah di kepala juga ngga penting-penting amat, entahlah, tubuh inginnya istirahat, tapi kok pikiran masih jalan kemana-mana. Satu kata untuk menjelaskannya, KOMPLEKS. Atau ada penyebab lain ?, jangan-jangan, pengaruh kafein dalam segelas kopi yang gue minum di sore hari, abis haus. Haus kok minum kopi ?, lah yang disediain cuma kopi :p.

Tuesday, October 31, 2006

[Ra Genah] Kebijaksanaan & Tuan Telur

Bahkan kebijaksanaan yang sering lalu-lalang di depan mata, terdengar oleh telinga dan terbukti dengan perbuatan sangat sulit untuk dimengerti [gak mudeng-mudeng], semuanya terhalang oleh jiwa manusia yang kotor dan palsu.

Terima kasih untuk Tuan Telur yang telah menunjukkan pelajaran berharga, bahwa segala sesuatunya bukan cuma dibayangkan ataupun diangan-angan, seharusnya dilakukan supaya terwujud.

Sunday, October 29, 2006

Mohon Maaf Lahir & Batin

Taqabbalallahu minna wa minkum

Semoga Alloh SWT menerima amal & ibadah kita di bulan ramadhan, serta menjadikan kita golongan yang kembali pada fitrah. Mohon maaf lahir batin.

Mudah-mudahan jadi manusia dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya, hi..hi..hi.. mohon maaf lahir batin, mohon maaf atas segal perbuatan dan perkataan yang tidak berkenan, juga hutang dan janji yang tak terbayar, harapan si penulis si diikhlaskan aja hi..hi..hi..hi.., tapi kalo ngga ya silakan ditagih, surat tagihan bisa dilayangkan ke galuh100@yahoo.com. Mokasi.

Wednesday, October 11, 2006

[Catatan] 05 Mei 2006

Ku berada kembali di tempat ini
Semilir angin sore yang menentramkan
Tenang rasa hati
Pikiran yang kembali melayang
Ya, Dia telah menunjukkan kuasanya

Bagai cahaya langit utara
Indah dilihat tak bisa diraih

Ah.. sudah enam revolusi rupanya
Kembali, ketika kusadari bahwa rasa itu pernah datang
Di tengah gelap dan dingin yang menyelimuti diriku

Kini semua terbang jauh dan menghilang
Tertiup angin lembut kehidupan
Indah seperti bunga ilalang yang melayang
Tak menentu terombang-ambing bersama semilir angin dan harum rerumputan

05 Mei 2006

Tuesday, October 10, 2006

[Ra Genah] Ruang, Kanvas & Guci

Rasanya seperti berada di dalam ruangan yang penuh dengan barang pecah belah semisal kanvas, guci-guci yang indah berkilau, rasanya tak ingin sedikitpun melewati pesona dari masing-masing benda-benda tersebut, benar-benar membunuh rasa bosan, hingga pada akhirnya menyentuh setiap sudut setiap benda, lantaran ingin merasakan apa bahan pembuatnya, kehalusan, lekuk keindahannya, jiwa dan nafas si pembuat, namun ketika sedang tenggelam dalam keindahan, tanpa sengaja memecahkan satu dari sekian benda-benda tersebut, ah ya, kesempurnaan yang sebelumnya ada sekarang hilang, sepertinya semua keindahan itu hanya bisa dilihat, dimaknai dan dipikirkan, tidak bisa sekalipun disentuh. Ah, ya, ruang, kanvas & guci.

Wednesday, September 13, 2006

[Bus Kota] Cih !! Jakarta


Di sebuah pasar tak jauh dari terminal, siang menjelang sore hari, terik sinar matahari benar-benar menyengat orang yang lalu lalang di jalanan sempit itu, membakar, hembusan angin yang berbau amis busuk disertai debu karena angin kering dan semburan asap dari knalpot angkot yang berjubel tak teratur merupakan udara yang wajib dihirup jika ingin tetap hidup. Kesemrawutan suasana pasar, satu dua tukang becak yang tertidur lelap di dalam becaknya, pedagang yang tetap bertahan menjajakkan barang dagangannya, pakaian, kaset, terwelu, pernak-pernik, sayuran yang sudah layu, rempah-rempah seperti tidak terpengaruh dengan suasana sekitar. Di dalam sebuah angkot yang sepi penumpang, Seorang anak perempuan berumur kurang lebih 5 tahun, bertelanjang kaki, duduk di kursi 4, mulutnya masih ditebari remahan kue bolu coklat, sesekali ibunya bersusahpayah menyeka mulut anak perempuan tersebut, sesekali pula rengekannya terdengar karena keinginannya tidak terpenuhi.

Terdengar lagu dangdut remix disertai vokal penyanyinya, serta merta anak perempuan berumur kurang lebih 5 tahun tersebut berdiri dari tempat duduknya, menggoyang-goyangkn badannya disertai ayunan tangan bak penari yang sering muncul di TV dalam acara yang menarik banyak massa. Seketika itu pula wanita lain yang lebih tua --mungkin neneknya-- tertawa melihat tingkah polah tersebut.

Tak lama waktu berselang, permainan gas sang supir angkot di tengah hiruk-pikuk kemacetan dan suasana "panas" tak terelakkan, saling berebutan untuk mendapatkan jalan pun terjadi, "debuk !!" kepala anak perempuan berumur kurang lebih 5 tahun itu terbentur ke sandaran kursi, "brengsek !!", ucapan yang secara spontan terluncur dari mulut mungil itu. Si perempuan tua hanya tertawa sambil bertanya, "sakit nggak ?", "nggak", jawab anak perempuan berumur kurang lebih 5 tahun itu.

Cih!! Jakarta.

Setidaknya lingkaran penuh berwarna oranye di kala senja dengan tempelan gedung, rumah, pepohonan, menara listrik yang menjulang, kemacetan jalan tol dengan latar belakang awan kelabu di atas sebuah kanvas merupakan pemandangan yang menarik.

Monday, August 07, 2006

[Keseharian] Lobster ngantuk

Ini adalah gambar saya bersama lobster kecil, lobster kecil ini ada di dalam lubangnya, tersembunyi, tapi bagian belakangnya kelihatan, setelah di tarik-tarik akhirnya bisa ditemui wujud aslinya, sebelumnya dikira udang, tapi setelah diperhatikan lebih seksama ternyata ini adalah seekor lobster kecil, sepertinya terdampar ke belakang rumah karena air laut sedang pasang, sendirian. Setelah berfoto bersama lobster, akhirnya saya lepas, mesti dituntun supaya dia kembali ke liang persembunyiannya lagi, mungkin masih ngantuk :D

[Keseharian] Catat dong

Siapa menebar angin dia akan menuai badai, ya entah kapan mulanya, dan ngga bener juga jika menimpakan kesalahan pada mata pelajaran bernama akuntansi, saya punya kebiasaan jelek dalam melakukan manajemen keuangan, selama ada uang pake aja, sebenarnya ngga boros-boros juga, tapi karena tidak tercatat dan benar-benar pelupa akhirnya kesulitan juga untuk melacak uang yang menguap entah kemana, dan kembali bertanya-tanya dalam diri "kemana larinya tuh uang yak ?" lalu setelah melihat persediaan muncul lagi pertanyaan "loh kok tinggal segitu ?"

Malas mencatat keuangan sendiri karena terlanjur jengah kalo ingat neraca keuangan dalam bentuk tabulasi, ngga suka dengan prosedur yang berbelit, malas dalam mendokumentasikan, yo wish... siapa menebar angin dia akan menuai badai, rasakan akibatnya bagi diri sendiri :D.

Monday, July 10, 2006

[Bus Kota] Tidak melulu

Hari ini selepas pintu tol kebon jeruk ada seorang pengamen, dia adalah seorang lelaki berumur kurang lebih 30 tahun, berbeda dengan pengamen yang sering saya identikkan dengan pakaian lusuh, kulit dekil, aksesoris dan segala ketidakterawatannya.

Bapak ini seorang warga keturunan cina, menggunakan kaos berkerah dengan ikat pinggang terlihat, begitupula potongan rambutnya, rapi. Terlihat sekali kalo bapak ini baru dalam bidang mengamen --setidaknya menurut penilaian saya pribadi, pasalnya beliau terlalu banyak menyanyikan lagu, tidak menggunakan alat bantu apapun baik gitar maupun kecrekan --hanya menggunakan suara-- dan kurang cermat menentukan kapan waktu meminta uang kepada penumpang, hingga pada akhirnya hampir setengah dari penumpang bus terlanjur turun sebelum dia sempat meminta uang.

Lagunya antara lain lilin-lilin kecil, you raise me up (bener gak nih judulnya), melodi-memori, dibawakan dengan suara nyaring namun tidak asal, apa istilahnya ya ?

Satu gambaran lagi bagi saya pribadi --mudah-mudahan untuk pembaca juga, bahwa warna kulit di tanah Jakarta tidak melulu menjadi lambang kesejahteraan, tidak seperti selentingan yang sering saya dengar tentang ketidakadilan yang dialami warga pribumi terhadap non pribumi dalam hal memperoleh hak akses untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sip, semangat Pak !!

Tuesday, July 04, 2006

[Sosial] Demografi dan Konflik dalam Masyarakat

Benar-benar tak punya ide untuk menulis, ini ada bacaan menarik.

Sejak tumbangnya Orde Baru, perkembangan masyarakat di Indonesia ditandai oleh perbedaan pendapat yang akhir-akhir ini menjurus kepada ketidakserasian bangsa. Dampak dari rasa muak terhadap friksi yang tidak berkesudahan, mulai muncul di kalangan awam kerinduan atas keadaan masa lalu yang dianggap relatif stabil, aman, dan mudah mencari makan.
Konflik yang berkepanjangan tidak perlu terjadi apabila kekuatan politik yang ada memahami keadaan dan perkembangan struktur demografi Indonesia. Secara demografis, konflik di Indonesia sebenarnya dapat dijelaskan dari sisi perbedaan antargenerasi inter-generational gap). Struktur penduduk sebenarnya menggambarkan pengalaman anggota masyarakat di mana setiap orang yang ada di dalamnya telah melalui siklus kehidupan, dari sejak lahir, bayi, anak, akil balik, dewasa, tua dan akhirnya mati. Perjalanan kehidupan setiap orang dengan latar belakang yang mempengaruhi tata kehidupannya ini akan membentuk sikap, pandangan dan perilaku.

Selengkapnya bisa dilihat di sini

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0402/16/opi02.html
Tanggal akses : 4 Juli 2006, pukul 3.53 pm

Thursday, June 29, 2006

[Ra Genah] Melantur

Sepertinya segelintir sastra(wan/wati) sedikit demi sedikit sudah mulai kembali, ah ya, bersastra ria memang tidak bisa dipaksakan, sejatinya sebuah karya indah lahir dari buah pikiran yang dilingkupi dengan ketulusan dan kebesaran jiwa, bukan sebaliknya.

Selamat teman, buah karyamu sangat sempurna, semoga setiap orang yang melihat keindahannya terinspirasi untuk turut serta. Di salah satu sudut dunia ini, saya hanya bisa memandang dan meresapinya dari surat kabar Tengah Malam. Kertasnya adalah langit luas, ditulis dengan bintang yang bertaburan, ditandai dengan bulan pada setiap halamannya. Sebagai hadiah, anda bisa ingat, ini info berharga !!, setiap halaman 11, 12 dan 13 tengoklah dengan cermat, sebuah lukisan indah yang bermetamorfosa akan mengepakkan sayapnya, terbang, indah sekali.

Dengan berada dalam kebisingan dan hingar bingar yang memekakkan, kau bisa menyadari bahwa kesunyian yang senyap dan dingin adalah sebuah karunia.

Monday, June 26, 2006

[Ra Genah] Catatan

Di tempat ini beberapa samurai telah berkumpul dan memperkenalkan dirinya masing-masing, mulai dari latar belakang, asal-usul, garis keturunan dan pertalian darah, pengalaman bertempur hingga pada siapa mereka mengabdi. Sebagai samurai, tugas merupakan sebuah amanat yang harus dilaksanakan dengan segenap jiwa dan raga, apalagi jika tugas tersebut berakar pada kemuliaan untuk membangun masyarakat yang tinggal jauh dari pusat-pusat kebudayaan. Ya disinilah kami saat ini, beberapa perlengkapan tempur seperti tombak, pedang dan panah telah kami pelajari, begitu juga keahlian berkuda, menyusup ke daerah pertahanan lawan, penyamaran, mencari informasi serta mengelabui lawan sedikit demi sedikit sudah kami kuasai. Yang tinggal adalah terus mengasah kemampuan tersebut secara berlanjut dan menerapkannya untuk kemajuan penduduk di seluruh pelosok negeri ini.

Walaupun hari-hari kami isi dengan latihan dan menunggu hari pertempuran --diperkirakan akan berlangsung selama 30 hari penuh, secara umum keadaan masih tenang, kami masih bisa memanfaatkan waktu untuk bersantai, mengadakan upacara minum teh, melukis, mempertajam aksara dengan sastra, menikmati kue-kue kecil khas daerah setempat serta berkeliling desa untuk mengenal daerah.

Mudah-mudahan tugas ini dapat kami laksanakan dengan baik, harga yang harus dibayar untuk kegagalan adalah mengasingkan diri atau melakukan seppuke.

catatan : cerita di atas benar-benar ra genah (gak jelas), hanya fiksi, hiperbolis dan miskin makna luar biasa.

Friday, June 23, 2006

[Bahasa] Quote's

"Ketahuilah peranmu, milikilah kehormatan dan rasa hormat dan bekerja keraslah". Kata-kata salah satu rekan politik deng xiao ping, menurut gue kata-kata tersebut bagus.

"Lebih Baik Pulang Nama Daripada Gagal Dalam Tugas". Ya, kalo kata-kata ini gue benar-benar ingat karena setiap kali berangkat atau pulang sekolah ketika SMA pasti melihat monumen Korps Pasukan Khusus Baret Merah, monumen berada di tengah sebuah taman, kurang lebih 4 prajurit (lupa gue) dengan posisi siap tempur. Hebat seandainya jargon tersebut benar-benar tertanam di dalam jiwa para prajurit, terlepas dari tugas apa yang dilaksanakannya.

"Pantang pulang sebelum padam". Begitulah kira-kira kata-kata yang gue lihat (ha..ha..ha.. lupa lagi dimana), kata-kata tersebut adalah jargon bagi petugas pemadam kebakaran. Berterimakasihlah kita kepada petugas pemadam kebakaran yang bekerja keras dalam menjalankan tugasnya disertai dengan semangat "pantang pulang sebelum padam".

Sunday, June 04, 2006

Qumana

Nyoba posting pake Qumana