Thursday, October 25, 2007

Kutilang, Akar Nafas & Si Piyik

Pagi itu, seseorang cukup tercenung melihat perilaku burung kutilang yang menarik-narik akar nafas yang menggantung dari sebuah pohon beringin. Bisa jadi ia adalah satu dari sekian banyak orang yang sedang melamun di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota Jakarta di pagi hari, manusia kebanyakan. Lebih memilih untuk melamun dibandingkan misuh-misuh karena minimnya pelayanan pemerintah kota terhadap fasilitas publik. Ah sudahlah, pikirnya. Perilaku burung kutilang tersebut mengingatkan dirinya tentang kisah burung merpati yang dimilikinya semasa kecil. Mulai dari sepasang, beranak pinak hingga kurang lebih 20 ekor dan pada akhirnya semakin berkurang, hingga hanya seekor lalu pergi entah kemana.

Kembali pada kutilang, perilaku menarik akar nafas pohon beringin mengingatkan tentang aktivitas burung merpati yang akan membuat sarang pada masa bertelur dengan mengumpulkan ranting, daun ataupun rumput kering. Jika cuaca sering hujan maka kecenderungan telur-telur yang dihasilkan sehingga menetas menjadi anakan lebih kecil dibanding pada musim panas. Misal dari 4 telur maka maksimal hanya 2 yang akan menetas, sisanya yang 2, kemungkinan akan membusuk, belum lagi peran pemangsa seperti tikus yang akan semakin memperkecil jumlah telur.

Ini kisah generasi (ke 4) terakhir burung merpati, satu saat seekor --dan memang satu-satunya-- merpati betina dari garis keturunan terakhir si coklat dan si hitam mendapatkan pasangan seekor merpati jantan liar, entah kedatangannya dari mana, dari perawakannya jelas ia lebih sering bertarung dibandingkan terbang, sayapnya cukup panjang hingga mencapai ekornya, bulu-bulu yang ada pada lehernya tidak bisa tumbuh kembali, sebelah matanya berwarna kuning jagung, yang lain berwarna merah tua, bulu-bulu berwarna abu-abu tua yang menempel pada tubuhnya benar-benar lusuh dan tidak terawat, si jantan lebih tepat disebut sebagai bromocorah untuk ukuran merpati, tidak punya tuan, limpung kesana-kemari tanpa tujuan dan tak segan bertarung untuk mendapatkan makanan.

Berbahagialah ia karena pada suatu saat Penguasa Alam Semesta mempertemukannya dengan pasangannya. Si anak --tuan merpati betina-- sebenarnya kurang setuju atas takdir ini. Tapi seperti kata orang, namanya jodoh, akhirnya direstui. Hiduplah sepasang merpati itu bersama, menikmati setiap waktu seperti pasangan muda, layaknya manusia, mungkin mereka pikir dunia cuma milik berdua. Hingga pada saatnya, ketika memasuki musim bertelur, si betina maupun si jantan bersama mengumpulkan ranting, rumput dan daun-daunan kering untuk sarang tempat bertelur. Selang beberapa lama kemudian si betina bertelur, telur yang dihasilkan hanya satu butir, ukurannya cukup besar. Aih, saat itu akhir musim kemarau dan awal musim penghujan, udara di dalam kandang cukup lembab dan basah, alas triplek kandang juga sering basah, kecil kemungkinan telur akan menetas tanpa usaha ekstra kedua induk.

Hanya pada kira-kira minggu pertama si betina mengerami secara bergantian dengan si jantan, frekuensi dan lama waktu mengerami si betina lebih panjang daripada si jantan, si betina akan keluar dari kandang hanya untuk sekedar makan, minum dan sedikit beristirahat, lalu kembali lagi ke kandang untuk menggantikan si jantan. Pada satu pagi setelah malam diguyur hujan lebat, si betina tergeletak kaku berada di luar kandang, di lehernya ada semacam gigitan, entah kucing atau tikus, keparat --pikir si anak, bagaimana nasib telur yang sedang dieraminya, berharap pada si jantan untuk menggantikan peran si betina sepertinya hampir tidak mungkin.

Satu saat si anak ingin mengambil telur yang berada di dalam kandang, tapi seketika itu pula ada hentakan keras dan patukan tajam dari dalam kandang disertai suara geruk merpati. Ah, rupanya si jantan sedang mengerami telur tersebut. Di tunggu sekian lama oleh si anak dalam hari-hari selanjutnya ternyata merpati jantan tidak pernah keluar dari kandang, benar-benar luar biasa, ternyata peran si betina diambil alih sepenuhnya oleh si jantan. Si anak, hanya bisa membantu untuk meletakkan biji-bijian dan air ke dalam kandang, sedikit membantu si jantan yang sedang mengerami agar tidak perlu jauh ke luar kandang untuk mencari makan dan minuman.

Hari-hari berjalan, hujan deras juga sering mengguyur, di malam hari sesekali terdengar hentakkan sayap dan gerukan kasar dari si merpati jantan, kemungkinan besar ia sedang menghalau pemangsa yang menginginkan dirinya atau telur yang sedang dieraminya. Beberapa minggu kemudian usaha si jantan membuahkan hasil, telur menetas menjadi anakan pejantan --diketahui jika sudah besar, yiiikk..yiiikk..yiiik... begitu suaranya, mungkin ini yang menyebabkan anakan sebangsa burung sering disebut piyik.

Setelah anakan lahir, si jantan sudah sering keluar kandang, benar-benar terlihat bertambah lusuh, lemah dan tidak terawat, jumlah biji-bijian yang dimakannya sangat banyak, sebagian untuk dirinya sendiri, sebagian untuk anaknya. Si piyik punya nafsu makan yang cukup kuat, semakin lama ia tumbuh semakin besar, belum seluruh bulu halusnya tanggal terganti dengan bulu dewasa, ia sudah ditinggal mati induk jantannya, mati tertembus timah kecil yang berasal dari senapan angin pemuda-pemuda yang merasa memilikinya.

Si piyik pada akhirnya harus berusaha kuat untuk memakan biji-bijian sendiri, paruhnya sendiri masih terlihat muda dan lemah, rasa lapar mengalahkan segalanya, sedikit-demi-sedikit biji-bijian yang sudah dipecahkan si anak dimakannya, hari berjalan ia smenjadi kuat untuk memakan biji-bijian tanpa dipecah terlebih dahulu, hari berjalan tubuhnya semakin besar, setiap kali si anak memasukkan makanan ke dalam kandang, setiap kali itu pula ia mendapatkan hentakkan keras sayap dan patukan dari si piyik yang menganggapnya serangan pada dirinya.

Pada saatnya ketika sudah tumbuh sedemikian kuat ia melihat dunia luar, dipandangnya dunia yang kali pertama dilihatnya, terang-benderang cahaya menerpa tubuhnya, silir-semilir angin berhembus, ditapakinya genting-genting rumah hingga mencapai puncak tertinggi atap dengan tertatih-tatih menyeimbangkan tubuhnya. Benar-benar seperti makhluk yang kehilangan identitas kodratinya, sejauh ini sayapnya hanya untuk digunakan untuk menyerang hal asing yang dirasakan menyerang dirinya, tidak pernah melihat bagaimana induknya terbang ataupun mengajarinya mengepakkan sayap, mudah-mudahan usaha si anak mengepak-ngepakkan tangan yang bertindak seolah sebagai sayap punya andil, walaupun sesungguhnya hanya insting pemberian Penguasa Alam Semesta yang menuntun si piyik.

Pada saatnya si piyik, kuat untuk terbang, terbang mengitari sekeliling atap rumah, terbang dari kandang ke puncak tertinggi rumah, dari satu titik ke titik yang lain, melongok-longok ke segala penjuru yang bisa diraih pandangannya, terkagum-kagum akan kebesaran hal yang bisa ditemuinya di luar kandangnya sendiri. Hampir mirip dengan keadaan induknya yang jantan, seperti limpung, tak tahu tujuan, sering-kali bertarung dengan tangan si anak yang hendak memberikan makan, tapi sepertinya keadaannya lebih buruk. Si piyik benar-benar kehilangan identitas.

Di siang menjelang sore, kembali si piyik bertengger di puncak tertinggi atap rumah, melongok-longok ke segala penjuru, terlihat sekali keragu-raguannya, tapi kembali bahwa insting benar-benar memberanikan keberadaannya sebagai salah satu makhluk penjelajah. Dikepakkan sayapnya sekuat-kuatnya menuju arah timur, tanpa pernah kembali lagi ke kandang. Mungkin, di arah sana ia akan mendapatkan sekumpulan kawanannya. Mungkin, di arah sana ia akan bertemu pasanganya dan kembali mengulang skenario induk jantannya. Dan mungkin juga, di arah sana ia akan mati tertembus peluru timah senapan angin.

Wednesday, October 24, 2007

Bebas Terikat

Mode sok-tahu ON. Manusia terlahir bebas sekaligus terikat. Bebas terhadap manusia lainnya. Terikat atas kesadaran tentang pemahaman keberadaannya. Dibalik keterikatan ada unsur pembebasan. Jadi, berusahalah menjadi manusia bebas tanpa terikat oleh manusia lainnya. Entah pria ataupun wanita sama saja, sama-sama manusia. Cuma secuil sekat dogma yang membatasi. Yang paling hebat jadi manusia terikat sekaligus bisa membebaskan. Sering kali gue temui jenis yang satu ini, penghargaan setinggi-tingginya dari gue sebagai pribadi. Mode sok-tahu OFF.

Monday, October 22, 2007

Mengenai Pekerjaan

Satu saat ingin menjadi seorang tukang ukir kayu di sebuah desa kecil, bekerja dengan semangat, teliti, rapi, memperhatikan detail setiap guratan kayu yang diserpih, hingga menjadi sebuah seni yang indah --walaupun relatif, sehingga memberikan kepuasan tertinggi bagi pribadi.

Saat lain ingin menjadi pembuat kue, kue yang lembut, manis dan harum, sambil mendengar gelak-tawa anak-anak kecil yang sedang menikmatinya sambil bercanda, rasanya benar-benar senang.

Saat lain ingin menjadi petani tanaman bunga, menikmati setiap usaha yang dilakukan untuk membibitkan, membuat komposisi tanahnya, memupuk, menyiram serta menyiangi, dan pada saatnya nanti bisa melihat bunga warna-warni yang cerah.

Saat lain lagi ingin menjadi seorang petualang sejati, menikmati setiap jengkal kehidupan dunia, tak terlewatkan satupun, dicatat-didokumentasikan-difoto hingga satu saat nanti jika ada orang yang membaca dan melihatnya dapat menambah pengetahuan dan wawasannya, seperti melihat dunia dari sebuah jendela kecil yang terang benderang di dalam ruang yang gelap. Tercerahkan.

Setiap momen pekerjaan dirasai sebagai sebuah proses yang sangat mengasyikkan, halangan "rumput tetangga selalu lebih hijau" terlampaui, persetanlah, bangga akan karya dan memiliki penghargaan yang tinggi akan kemampuan pribadi. Merdeka sebagai individu yang berkarya serta bermanfaat bagi sesama.

~hmm... lama-lama kok jadi kayak puisi

Friday, October 12, 2007

Taqabbalallahu minna wa minkum

Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan
Semoga kita selalu berada dalam kebaikan dan termasuk orang yang kembali pada fitrah

Mohon maaf lahir dan batin atas semua kesalahan, terima kasih untuk semuanya atas segalanya.

catatan :

Yang punya piutang sama gue harap segera ditagih, baik materi maupun non-materi.

Sunday, September 30, 2007

Within You Without You

We were talking-about the space between us allAnd the people-who hide themselves behind a wall of illusionNever glimpse the truth-then it's far too late-when they pass away.

We were talking-about the love we all could share-when we find itTo try our best to hold it there-with our loveWith our love-we could save the world-if they only knew.

Try to realise it's all within yourself No-one else can make you change And to see you're really only very small, And life flows ON within you and without you.

We were talking-about the love that's gone so cold and the people,Who gain the world and lose their soul-They don't know-they can't see- are you one of them?

When you've seen beyond yourself-then you may find, peace of mind,Is waiting there-And the time will come when you seewe're all one, and life flows on within you and without you.

~George Harrison

Sunday, September 23, 2007

Drama

Selama satu tahun terakhir ini gue diberi kesempatan untuk sedikit melihat kehidupan masyarakat Indonesia, tidak seluruhnya dan tidak secara mendalam pula, tapi cukup mewakili. Dan berbahagialah gue, karena yang gue temui adalah orang biasa, tidak memiliki jabatan penting atau harta yang banyak, tapi kaya dengan perjuangan hidupnya di bumi Indonesia, mungkin pada saatnya nanti gue akan menuliskannya.

Bahwa tanah ini kaya akan sumberdaya alam yang berlimpah tidak diragukan. Sejauh yang benar-benar gue lihat berupa : kayu-kayuan, tanaman budidaya, ikan-ikanan dan mineral logam. Keindahan alamnya juga luar biasa : laut, pantai, gunung, hutan dan persawahan. Ketika menikmatinya sendirian, kadang terucap syair seorang Gibran yang sempat gue baca di salah satu mini-market yang berada di daerah Waru - Surabaya, kira-kira begini "laut adalah saudara perempuanku, gunung adalah saudara lelakiku, kami adalah satu dalam kesendirian". Juga, adat istiadat dan kebudayaan yang beraneka ragam, bagi gue hal tersebut benar-benar kekayaan bangsa yang sangat bernilai.

Melimpah kekayaan sumberdaya alamnya, elok keindahan alamnya, kaya budaya dan adat-istiadatnya, terkalahkan oleh hal bernama kemiskinan, laut dan pantai adalah salah satu penandanya.

Saturday, September 22, 2007

Pisang

Jika dalam novel rumah kaca dikatakan bahwa "negara yang bisa mendunia adalah negara yang menjajah", spertinya benar juga. Negara adidaya dengan segala jargon demokrasi, hak azasi & kemanusiaan serta kemerdekaan pada akhirnya menjajah negara yang lebih lemah. Setiap kebijakan diatur sesuai keinginannya. Menjalari kehidupan setiap orang dalam negara jajahan dengan penderitaan. Baik dengan cara yang kentara ataupun tersamar. Dengan senjata ataupun dengan pisang berwarna kuning terang tanpa bercak --seperti buah-buahan kayu-- yang dijajakkan pedagang buah trotoar jalan. Alternatif hidup seseorang di negara terjajah benar-benar berkurang. Tunduk dalam suatu kekuatan bernama modal.

Saturday, September 15, 2007

Sup Ikan Bandeng

Bahan dasar :
  • Ikan bandeng basah
Bumbu :
  • Bawang merah 4 buah
  • Bawang putih 2 buah
  • Cabai merah 2 buah
  • Jahe 5 X 3 cm
  • Kunyit 5 X 1 Cm
  • Jeruk nipis 1 buah
  • Daun bawang & seledri
  • Garam secukupnya
Peralatan :
  • Panci kecil
  • Pengaduk
  • Garpu
Cara membuat :
  • Bersihkan ikan bandeng --sisik, isi perut dan insangnya, lalu potong menjadi beberapa bagian, seekor menjadi 3 bagian sepertinya paling oke.
  • Bersihkan dan iris bumbu-bumbu yang telah disediakan sebelumnya, lalu rebus di dalam panci dengan air bervolume kira-kira 800 ml hingga mendidih.
  • Masukkan potongan ikan bandeng ke dalam rebusan air bumbu tersebut, lalu tambahkan garam secukupnya.
  • Aduk sesekali & tunggu hingga daging ikan bandeng empuk
  • Hidangkan sup ikan di dalam sebuah mangkuk lalu beri perasan jeruk nipis
  • Sup ikan bandeng siap disajikan
Saran
  • Nimati sup ikan bandeng selagi panas dengan suasana malam hari & ada rintik-rintik hujan :D
  • Tepat bagi yang mempunyai masalah dengan makanan berminyak dan/atau pedas

Wednesday, September 05, 2007

Bukan penyair

Kulumuri mata panah ini dengan racun terbaik, bisa ular dan getah tanaman hitam, hingga saatnya nanti, sedikit saja menggores kulit si korban, tak lama ia akan mengerang kesakitan dengan rasa tak tertahankan, hanya menunggu waktu hingga satu saat nafasnya terhenti. Tak lupa mandau, belati dan tombak yang akan terhunus garang meminta getah kehidupan lawan. Aku akan siap berdiri di tanah lapang dengan semua itu. Majulah kalian dari seluruh penjuru mata angin, perangi diriku dengan segenap tenaga, dera kuda-kuda perang kalian sekuat-kuatnya, hantam dan luluhlantakkan tubuhku dengan senjata-senjata terbaik yang kalian miliki. Kutahu, bukan kemenangan yang akan kudapatkan, bahkan hanya kebinasaan yang kuperoleh. Bagi diriku, hal itu adalah pencapaian.

Sunday, September 02, 2007

Fasilitas Lebih

Bagi pengguna angkutan umum, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kenyamanan dalam bepergian. Definisi kenyamanan bisa diidentikkan dengan ketersediaan fasilitas serta pelayanan yang diberikan armada transportasi, ketertiban dan kelancaran berlalulintas. Kemaceta lalu-lintas merupakan rutinitas bagi mereka yang kesehariannya beraktivitas di kota Jakarta atau sekadar melewatinya saja. Tapi, rasanya hal tersebut tidak berlaku untuk segelintir oknum pejabat tinggi yang memanfaatkan fasilitas lebih. Lebih karena mereka memiliki tim pembuka jalan, entah dimanapun, baik di ruas jalan tol atau umum, separah apapun kemacetannya mereka selalu bisa mendahului kendaraan yang lain diiringi suara sirine meraung dan pengeras suara.

Pernah pada satu saat gue harus menunggu kurang lebih 20 menit untuk memasuki tol karena ada iringan mobil oknum pejabat tinggi yang akan lewat, isi kendaraan yang gue tumpangi penuh dengan orang-orang yang selesai beraktivitas selama seharian, yang jelas mereka ingin cepat sampai di rumah dan segera melepas lelah. Di bangku lain ada anak balita yang menangis keras karena tidak nyaman dengan keadaan saat itu, panas, asap buangan serta bisingnya suara deru mesin kendaraan yang bercampur jadi satu. Entah di bangku lain apa keperluan dari masing-masing orang, sama seperti gue, yang pasti mereka ingin segera sampai tujuan. Sementara kami harus menunggu oknum pejabat tinggi tersebut melintas, baru setelahnya kami diperbolehkan memasuki tol.

Benar-benar membingungkan perilaku oknum pejabat tinggi tersebut, secara sederhana kemacetan adalah realita kota Jakarta, kenapa untuk hal sesederhana itu mereka mengelak untuk merasakannya, rasanya seperti hidup dalam dunia imajiner saja. Jika ingin sampai tempat tujuan, toh pengguna jalan yang lain juga ingin. Kadang juga terdengar celoteh penumpang lain yang seolah mentolerir perilaku tersebut, wajar karena yang lewat adalah pejabat tinggi negara yang punya urusan super penting, jadi harus diutamakan. Hmm, sayangnya hasil kerjanya berkebalikan :P.

Sunday, August 19, 2007

Air Jeruk Panas

Kisahnya mengenai usaha untuk sedikit memanjakan diri di malam hari, sembari nonton film di televisi, ingin juga meredakan FLU yang tak kunjung sembuh. Terbesitlah untuk membuat air jeruk panas, jeruk dipilih, diiris dengan pisau, diperas ke dalam gelas, lalu air perasan tersebut dibersihkan dari bijinya, setelah itu ditambahkan gula secukupnya, seduh dengan air panas dan akhirnya diaduk agar semuanya tercampur.

Direguklah minuman tersebut untuk pertama kalinya, sensasi yang dicari dan diharapkan ternyata buyar serta merta lantaran air jeruk bercampur dengan rasa bawang merah :D, selidik punya selidik ternyata pisau yang digunakan, sebelumnya dipakai untuk mengiris bawang merah, aih.. sayang sekali jika dibuang, akhirnya tetap juga diminum, hingga pada regukan terakhir mendapatkan bonus sebuah potongan siung bawang merah yang masih muda.

Antara perasaan kesal dan gembira, rasa yang tidak diharapkan tapi jika dipikirkan ternyata punya nilai filosofis. Bahwa setiap hal (kehidupan ?) yang sudah terencana, terukur serta terlaksana sesuai dengan prosedur bisa saja menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, kemungkinan faktor X muncul pasti ada, entah seberapapun kecil persentasenya. Usaha yang mungkin adalah membuat persentase kemunculan faktor X menjadi sekecil mungkin. Rencana, Prosedur, Hasil dan Faktor X. Begitulah kisahnya, mudah-mudahan tidak terulang, jangan sampai nanti muncul air jeruk rasa cabai, ikan atau cumi-cumi :D.

ps : Sejauh yang penulis tahu, vitamin C akan terurai jika berada dalam keadaan panas, jadi berharap mendapatkan asupan vitamin C dari air jeruk panas kayaknya ngga ngaruh deh

Tuesday, July 31, 2007

Laporan Pengamatan

Ya, sudah dua hari ini bulan purnama, langitnya juga cerah, bagus, tapi kok bintang-bintangnya ngga kelihatan. Sekarang musim kemarau ya, di siang hari hingga menjelang malam suasananya hangat, menjadi dingin jika sudah mendekati pagi. Eh, tapi jauh lebih baik melihat bulan di malam hari dibandingkan melihat spanduk, umbul-umbul, atribut-atribut pilkada DKI. Berulang kali, masa kampanye sama dengan masa berjanji, semua sama saja, yang sudah-sudah, janji tinggal janji, lempar janji sembunyi aksi jadi paten, ha..ha..ha..ha. (hush!!). Gombal ah....

Monday, July 23, 2007

huh...

Warna perjalanan
Cantik, indah, elok, kagum tanpa batas sampai mabuk kepayang
Tapi selalu, di balik semua itu tersingkap cuplikan kehidupan
Dinginnya menelisik tajam hingga ke sumsum, tersembunyi di balik selimut keindahan

Sunday, June 24, 2007

Terima kasih butir-butir nasi

Pada pagi yang cerah di sebuah desa kecil, di salah satu rumah ada seorang anak yang sangat nakal, pagi itu ibunya menyiapkan sarapan sepiring nasi, lengkap dengan lauk-pauknya, berulang kali ibunya menyuruhnya untuk memakan sarapannya, tapi si anak nakal selalu enggan, dengan kesabaran dan kasih sayang, akhirnya si Ibu dapat membujuk anaknya untuk memulai sarapannya --dengan terpaksa tentunya--, ketika si Ibu meninggalkan rumah untuk pergi berbelanja ke Pasar, si anak nakal seolah mendapatkan angin segar untuk bertindak semaunya, akhirnya ia membuang nasi sarapannya ke tempat sampah.

Ternyata di tempat sampah butir-butir nasi tersebut bisa berbicara satu sama lain, mereka menangis sedih, "hu..hu..hu.. kita kok ngga dimakan sih", "keberadaan kita disia-siakan". Ketika hari menjelang siang, si anak nakal bermain ke luar rumah, tidak tanggung-tanggung, tempat main yang ditujunya adalah hutan yang terkenal menakutkan, setiap orang tua di desa tersebut sudah memperingatkan anak-anak mereka untuk tidak menuju tempat tersebut karena di sana ada raksasa pemakan manusia, tapi karena memang kenakalan si anak, akhirnya ia berkeras menuju tempat tersebut. Ketika ia berada di dalam hutan, semua binatang yang berjumpa dengan si anak nakal telah memperingatkan untuk tidak terlalu bermain jauh ke dalam hutan, karena ada raksasa pemakan manusia yang akan memangsa jika dia mencium bau manusia.

Si anak nakal keras kepala, tidak mengindahkan nasihat yang disampaikan kepadanya, ketika berada di dalam huta ia bertemu dengan raksasa pemakan manusia, lari tunggang-langgang menghindar, hingga pada akhirnya ia kehabisan tenaga, ia hanya bisa duduk dan menangis tersedu menunggu ajalnya seiring keberadaan raksasa yang mendekat dan berkata "aku mencium bau manusia, aku ingin memakannya, aku lapar...", beruntunglah penduduk kampung sekitar dapat segera menemukannya dan membawa dirinya ke luar dari hutan, sehingga nyawanya dapat diselamatkan. Penduduk kampung segera mencarinya segera setelah ada pemberitahuan dari Ibu anak tersebut yang khawatir terhadap keberadaan anaknya.

Pada akhirnya, si anak menyadari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, tidak menuruti nasihat orang tua dan hal yang paling penting, membuang nasi, sekiranya ia menghabiskan sarapannya, kemungkinan ia memiliki tenaga yang lebih banyak untuk menyelamatkan dirinya, ia benar-benar sangat menyesal telah membuang sarapannya.

Potongan cerita di atas adalah salah satu episode dari fim Si Unyil yang masih gue ingat, karena cukup berkesan. Setidaknya sejak saat itu, ketika makan, gue berusaha untuk selalu menghabiskannya, yang gue pahami bahwa ketika nasi-nasi itu masuk ke dalam mulut, lalu menghilang ke dalam perut –belum tahu sistem pencernaan-- , seketika itu juga mereka pasti merasa sangat senang dan ketawa-tawa karena tidak disia-siakan walaupun keberadaannya ngga ada lagi. Saat ini, hal ini jadi salah satu hal njelimet juga kalo dipikirkan lebih dalam. Kehidupan yang berarti, fungsi keberadaan :D. Terima kasih butir-butir nasi.

Thursday, April 19, 2007

Wanita Boyolali

Ya, saat ini aku akan memanfaatkan waktu dengan lembaran karton hasil pemberian mbak yuniati, tadi setelah ia membeli beberapa potong asinan nenas dan kedondong aku memberanikan diri untuk meminta beberapa lembar karton yang terserak di sekitar bangunan yang dikhususkan untuk pengepakkan buku. Saat ini beberapa lembar sudah kugunting membentuk beberapa potongan hati dan kulekatkan dengan beberapa isolasi penempel, rencananya, setelah pekerjaan ini selesai nantinya akan kugabungkan dengan hiasan dari pipa minuman berwarna hijau yang kujalin sedemikian rupa sehingga berbentuk sulur tumbuhan merambat.

Sembari kulipat dan kulekatkan guntingan-guntingan ini aku kembali teringat adikku di Boyolali, masih kuingat isak tangisnya ketika aku pergi meninggalkannya menuju Ibu Kota, “mbakyu mau pergi ke Jakarta, supaya kamu bisa tetap sekolah, punya baju bagus dan mainan, terus bisa tetap bermain bersama teman-teman yang lain”, kataku, “kenapa harus ke Jakarta mbak ?”, selanya teriring ingus dan air mata, “katanya di sana banyak kesempatan untuk dapat pekerjaan, nanti punya banyak uang, dan seperti mbakyu bilang sebelumnya, supaya kamu bisa tetap sekolah, bisa beli baju dan bisa beli mainan”. Pikirku, sejauh apapun penjelasanku sepertinya adikku belum bisa mengerti. Dan, disinilah aku, Jakarta, saat ini aku sangat berharap agar lamaran pekerjaan sebagai buruh yang kuajukan di beberapa pabrik mendapatkan jawaban, tak terkecuali pabrik percetakkan yang berada di sebelah kedai. Kata mbak yuniati, karena saat ini pabrik percetakkan sedang berada dalam masa produksi, kemungkinan penambahan pekerja kontrak akan dilakukan, pekerjaannya bermacam-macam, tapi yang dikhususkan bagi wanita adalah penempelan sampul buku dan pengepakkan. besar harapanku agar diterima, setelah sebelumnya aku pernah bekerja di pabrik tekstil di Boyolali, saat ini pabrik tersebut ditutup, entah apa sebabnya.

Kurang lebih 1 bulan aku bekerja di kedai ini, bersama sami, sepupuku. Kedai milik kenalan bulik menjual berbagai macam penganan, mulai dari kopi, teh, mie seduh, gorengan, nasi campur, ketupat sayur sampai asinan. Kedai ini juga baru saja berjalan bersamaan dengan kehadiran kami di Jakarta, Bu Darni pemilik kedai ini cukup baik, bisa menerima kami sebagai penjaga kedai, sedari awal ia juga mengutarakan bahwa kami belum bisa mendapatkan upah bulanan, tapi ia berjanji, jika nantinya kedai ini ramai pembeli dan bisa berkembang kami akan mendapatkan upah bulanan, untuk saat ini, sebagai gantinya, Bu Darni memperbolehkan kami untuk makan di tempat ini, selain itu jika ada sisa makanan yang tidak terjual boleh kami bawa pulang ke rumah kontrakkan, bagiku semua hal ini lebih dari cukup untuk keadaan saat ini.

Walaupun bekerja sebagai penjaga kedai sangat membosankan, aku akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk keluarga di Boyolali, Ibu dan adik, uang yang Bapak hasilkan dari bekerja sebagai buruh bangunan di sini kurang mencukupi, hanya untuk makan keseharian dan bayar tagihan listrik, yang menjadi api penyemangatku adalah upaya untuk menyekolahkan toro, adikku, setidaknya sampai jenjang kejuruan. Saat ini ia duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar, ia anak yang berprestasi, dengan segala kekurangan yang ada ia selalu berada pada rangking 3 besar di kelasnya, besar harapan pada adikku tersayang.

Ya!, sudah jadi rupanya, kubingkai 2 buah foto toro dalam figura kecil terpisah, foto yang dibuat ketika hari raya Idul Fitri kemarin, ia mengenakan kemeja lengan panjang tanpa kerah berwarna putih, tersemat sajadah di salah satu pundaknya, dan peci kecil di kepalanya, tak lupa senyum yang kuminta ketika akan difoto. Semuanya terhias dengan lambang hati tanda sayangku, tidak lupa untaian sulur plastik hijau, semoga rangkaian sederhana ini bisa menjadi penawar rasa rindu dikala jenuh.

Sunday, April 08, 2007

Kilat sambar pohon kanari

Sudah kurang lebih 3 minggu ini beta tinggal di Salerang, kota yang terkenal akan anyaman bambu dan keindahan sungai cisadane, rupanya itu cuman untuk masa lampau yang telah liwat, tidak untuk kurun waktu ini, lagipula sulit nian menikmati sungai cisadane dengan airnya yang terlihat keruh dan sarat dengan sampah. Dari segi bahasa beta juga tidak suka dengan kata Salerang, akhiran bahasanya itu loh, bikin rasa di hati jadi kurang sreg, “rang”, terdengar identik dengan kata gersang, kerontang, alhasil gambaran yang terbentuk jadi kacau-balau, ei.. setelah sedikit putar-putar di beberapa daerah itu punya tempat, ternyata tak jauh menyimpang dari yang dibayangkan, kesan asri dan rapih cuman ada di perumahan yang terbilang hanya mampu ditempati oleh manusia dengan rogohan kocek tebal, tak lain dan tak bukan, tempat-tempat lainnya terkesan berantakan dengan ragam manusia umum Mindonesia, miskin dan kumuh. Ditambah lagi dengan santernya hembusan berita tentang endemik flu burung, menjadi-jadi sajalah. Tapi tak selalu juga, ada saja hal-hal menarik yang mengaburkan kesan ketidaksukaan beta pada daerah itu. Apa mau ditanya ?, cita-cita, pengharapan & pencapaian butuh pengorbanan, begitu kata seorang kawan.

Seperti biasa, di akhir minggu beta harus pergi ke dataran yang lebih tinggi, naik bendi, bendinya macam-macam saja, ada yang ditarik dengan keledai, kuda, sampi dan kerbau. Lain padang lain ilalang, di daerah lain belum tentu punya binatang penarik seperti keledai, kuda, sampi ataupun kerbau, adalah yang menggunakan kambing, ayam, kura-kura bahkan ikan lele. Masing-masing punya tarip berbeda. Beta naik bendi kerbau, jalannya lambat kali, aih.., tapi tak apa, tak terburu, kapasitasnya juga cukup banyak, bisa lihat macam-macam wajah manusia. Sambil menikmati persawahan, jembatan batu, serta tiang pancang kota, tak lupa seniman dadakan yang selalu hadir mengisi hiburan perjalanan.

Kurang lebih 1.5 jam beta sampai di KudaMati, dimana tempat pemberhentian bendi yang cukup besar berada, tak seperti sebelumnya, beta biasa membunyikan lonceng tanda berhenti di pasar kuwali, rupanya kali ini si sais tak mengarahkan bendinya melewati tempat tersebut, tapi benar-benar langsung masuk ke stasiun pemberhentian bendi “KumpulSemua”, suasana riuh-ramai, banyak pula orang lalu-lalang dengan tujuan kota berbeda.

Dengan bawaan yang sedikit merepotkan, setidaknya jadi objek atau calon menjanjikan bagi pertanyaan calo dan kuli angkut sekitar stasiun, hmm.. sudah beta pikirkan antisipasinya, biasanya, jika beta datangi tempat tersebut dengan rencana bepergian entah kemana, selalu saja orang-orang tersebut berebut, sekiranya terucap tempat tujuan, mereka bersikap seolah membantu dengan langsung bawa barang-barang beta punya ke bendi tujuan, tanpa izin pula, kadang juga jadi sarana pengganti tarik tambang, tarik sana-tarik sini, tak nyamanlah jadinya, beta bisa menentukan pilihan sendiri. Benar saja, seketika turun dari bendi langsung saja ada yang menghampiri, orang pertama “bade kamana A ?”, ngga bang, ke situ, dekat saja, “Kamana A ?”, hmm.. memang dari awal terlanjur jumud dengan hal seperti ini, langsung saja beta katakan “Panakukang”, “Ooohh… “ jawabnya. Langsung diam. Lanjut orang berikutnya yang sudah menunggu dengan jarak kurang lebih 10 m, “Mau kemana Mas ?”, waduh.. ada lagi, “Panakukang mas”. Diam dan wajah bingung. Lanjut. Sekumpulan orang yang berdiri tak jauh dari tempat sebelumnya, seorang dari mereka langsung mendekat, lalu bertanya “Ose mau kemana ?”, langsung beta jawab “Panakukang”. Wajah plongak-plongok berbarengan makin menjadi. Haiya, rupa-rupanya berhasil, sebagai informasi, Panakukang adalah sebuah daerah di salah satu gugusan kepulauan Mindonesia, Kulawesi namanya, bahkan ke daerahnyapun belum pernah, cuman sering terdengar selintas, mudah diingat karena unik. Akhirnya, beta memilih bendi kecil dengan penarik kura-kura, duduk manislah di bawah atap jerami bersama penumpang lainnya, selang waktu tak lama si sais tua bertubuh kecil dan berkumis putih panjang menjuntai mendera sang kura-kura. Selama perjalanan, antara rasa berhasil dan melamun, lalu teringat ucapan salah seorang teman sewaktu menyantap hidangan malam bersama, karena ada momen tertentu dia ucapkan “Hmm kupikir ada sisi di hati tuan yang telah mati…”. Seandainya beta sebutkan kemana tujuan, dan mereka memang tidak ada kepentingan dengan tempat tersebut rasa-rasanya merekapun akan bergerak mundur dan tidak bertanya. Kata seorang tua, “cobalah melihat dari sudut pandang lain, mereka bekerja, cari nafkah, mungkin untuk diri sendiri, mungkin juga untuk keluarga yang menunggu, benar toh ?. Keadaan yang memaksa mereka berbuat demikian. Harusnya sadar. Jangan jadi manusia yang pendek pikiran dan hampa kebijaksanaan lantaran emosi sudah menggunung. sabar nyo..”, begitu katanya.

Kilat sambar.. pohon kenari....
Ejo jaro deng mongare...

Monday, March 12, 2007

Katanya Sih...

Orang yang sukses dalam profesinya adalah orang yang tidak bisa membedakan, mana pekerjaan dan kesenangan

Saturday, March 10, 2007

Kemampuan linguistik

Sejauh yang gue ketahui, kemampuan linguistik meliputi kemampuan berbicara, mendengar, membaca dan menulis.

Kemampuan berbicara adalah kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik ketika ngobrol, presentasi, menyampaikan pendapat, eyel-eyelan (baca : berdebat) ataupun kegiatan lainnya. Kemampuan berbicara identik dengan penggunaan bahasa dan lisan yang tepat, sehingga pendengar dapat mengerti apa yang kita sampaikan. Selain itu, sikap dan pengetahuan menentukan waktu yang tepat untuk berbicara mendukung keberhasilan kita dalam berbicara.

Kemampuan mendengar tentunya lawan dari kemampuan berbicara, di sini si pendengar diposisikan sebagai pihak yang berusaha mengerti terhadap apa yang disampaikan oleh lawan dengarnya --dalam hal ini si pembicara. Untuk mengerti apa yang disampaikan oleh si pembicara tidak terlepas dari kemampuan untuk memberi perhatian terhadap hal yang disampaikan oleh si pembicara. Lagi-lagi masalah sikap.

Tentunya akan takberujungpangkal jika kedua pihak sama-sama berbicara tanpa mendengar, dan betapa anehnya jika kedua pihak berusaha untuk saling mendengar tapi tidak ada satupun yang berbicara --bayangkanlah dua orang saling bertatapan serius dan berusaha saling mendengarkan sementara tidak satupun berbicara. Mungkin perlu juga ya bahasa ekspresi wajah dan tatapan mata yang baku. Jadi jika satu kedipan mata berarti huruf A, kedua mata berkedip berarti B, bibir senyum berarti S, lidah melet artinya M dan seterusnya, intinya bagaimana bisa memetakan alphabet dengan ekspresi wajah :D.

Lalu kemampuan membaca, kemampuan untuk mengerti dan memahami bacaan, membaca itu penting, karena salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah dengan membaca, artinya, banyak baca jadi banyak tahu. Terlepas dari bahan apa yang dibaca, ada istilah "you're what you read", jadi secara tidak langsung untuk menilai pribadi seseorang kita dapat melihat apa yang dibacanya, lebih dari itu, mungkin membaca adalah sebuah cara yang tepat untuk melarikan diri yak, baik dari tempat, waktu, sampai kenyataan :D.

Menulis, aktivitas yang sedang gue lakukan saat ini, sampai sejauh ini kira-kira pembaca mengerti apa yang gue tulis apa nggak yak ? :D. Menulis adalah salah satu kegiatan positif, menulis merupakan cara untuk mengkomunikasikan apa yang ada di dalam pikiran kita ke dalam rangkaian aksara agar dimengerti orang lain, baik berupa ilmu pengetahuan, opini, ide, pengalaman, ocehan tak bermutu, sampai keluh kesah :D. Entah apapun tulisan yang dibuat, menurut gue akan sangat bernilai, jika si penulis melakukannya dengan segenap jiwa, jika bukan untuk orang lain ya berarti untuk kepuasan diri pribadi :D

Jujur saja, gue merasa kemampuan linguistik yang gue miliki masih kurang, baik dalam berbicara, mendengar, menulis bahkan membaca, masih perlu banyak belajar dan belajar :D. Gue ngga akan lupa dengan pepatah ini, "Banyak belajar banyak lupa, sedikit belajar sedikit lupa, tidak belajar tidak lupa --karena nggak ada yang diingat :D"

Dari ocehan hasil kesotoyan gue, adalah betapa pentingnya kemampuan linguistik. Bagaimana kita bisa berkomunikasi jika minim kemampuan linguistik, tentunya satu kemampuan linguistik akan bersinergi dengan kemampuan lainnya, dilihat dari kemampuan berbicara, bagaimana mungkin bisa jadi pembicara yang baik jika tidak bisa menjadi pendengar yang baik, lalu, bagaimana bisa menyampaikan buah pikiran dengan berbicara jika kosa kata dan pengetahuan yang dimiliki --salah satunya berasal dari bahan bacaan-- kurang, dan menurut gue, salah satu indikasi jelas tidaknya hal yang disampaikan oleh seorang pembicara bisa dinilai dari kemampuannya untuk menuangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Dan hal penting lainnya –menurut gue lagi— adalah pengaruh perbuatan kita terhadap keberadaan individu di sekitar kita, utamanya dalam kegiatan aktif seperti berbicara dan menulis, tidak semua kebebasan yang dimiliki oleh diri kita serta merta dapat melenggang seenaknya, batas-batas, penghargaan dan tanggung jawab sudah seharusnya menyertainya.

Thursday, March 01, 2007

Catatan Terselip

Tempat ini cukup menarik, sangat ramai pengunjung, transaksi penjual dan pembeli, timbangan, truk-truk yang mengantar sayur mayur-buah-rempah-rempah, kuli-kuli angkut, bocah-bocah dekil, di satu sisi bau menyengat karena tumpukan sampah basah yang menggunung, di sisi lain tercium bau menusuk karena rempah-rempah. Terlihat cukup banyak anak-anak yang bekerja di beberapa blok penjual rempah-rempah, mengelompokkan, membersihkan lalu membungkusnya, begitu pula untuk orang-orang dewasa; ada yang berjaga di depan barang dagangannya, memindahkan barang dari truk, meletakkannya secara berkelompok sembari berharap ada orang yang membelinya. Tidak ketinggalan juga kuli-kuli angkut pasar, bukan hanya yang masih muda serta memiliki tubuh dan tenaga yang kuat, tapi yang rentapun terkadang masih bisa dijumpai, mengangkut beban yang berkisar 1-2 kali berat tubuhnya.

Sesekali terlihat sekumpulan anak yang wira-wiri membawa “barang temuan”, sepotong-dua potong ketela pohon/rambat yang terserak di sekitar truk turun muatan setidaknya berkah untuk mereka, lagipula si empunya tidak terlalu ambil pusing atau sampai enggan berbagi.

Gambaran lain dari salah satu sisi kehidupan yang menghiasai kota Jakarta, sederhana sekali tempat ini, bukan sekedar ungkapan "no pain no gain" yang kadang hanya sekedar tertulis ataupun terdengar, terkadang terpikir, bahkan untuk anak-anak kecil --seusia TK & sekolah dasar-- yang bekerja di tempat ini kata-kata itu sudah benar-benar terpatri dan mendarah-daging.

Catatan terselip : "Pasar Induk Kramat Jati" 11 Juni 2006

Wednesday, February 21, 2007

Redemption songs

Old pirates, yes, they rob i
Sold I to the merchant ships,
Minutes after they took i
From the bottomless pit.
But my hand was made strong
By the and of the almighty.
We forward in this generation
Triumphantly.
Wont you help to sing
These songs of freedom?
cause all I ever have
Redemption songs
Redemption songs.

Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our minds
Have no fear for atomic energy
cause none of them can stop the time
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look? ooh
Some say its just a part of it
Weve got to fulfil de book

Wont you help to sing
These songs of freedom
cause all I ever have
Redemption songs
Redemption songs
Redemption songs
---
/guitar break/
---
Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our mind
Wo! have no fear for atomic energy
cause none of them-a can-a stop-a the time
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look
Yes, some say its just a part of it
Weve got to fulfil de book
Wont you help to sing
Dese songs of freedom
cause all I ever had
Redemption songs
All I ever had
Redemption songs
These songs of freedom
Songs of freedom

#Bob Marley

Friday, January 19, 2007

insomnia(3)

Sedang mengingat masa-masa kecil dengan kebudayaan yang berada di sekitar, dulu ketika kecil, ketika ada acara hajatan, entah itu pernikahan, khitanan ataupun acara 17-an masih sempat menikmati eloknya kebudayaan. Nuansa kebudayaannya masih kental, gue masih ingat dengan jelas, ketika itu ada acara pernikahan di RT, seperti acara pernikahan pada umumnya, biasanya resepsi dilakukan di siang hari, sedangkan malam hari adalah waktunya suguhan hiburan bagi masyarakat setempat, saat itu, untuk sekedar melihat hiburan, lapangan yang biasanya sepi bisa menjadi sebuah tempat yang sangat ramai, suguhan acara dimulai dari sambutan MC, keluarga yang memiliki acara, permainan tanjidor, lenong betawi dan diakhiri pemutaran film misbar (gerimis bubar) alias layar tancap :D.

Gue penikmat permainan musik, menyenangkan sekali melihat pemain memainkan berbagai alat musik, mungkin suaranya yang dihasilkan tidak terlalu memikat namun buat gue seni bermain alat musik itu menjadi daya tarik tersendiri. Sampai sekarangpun gue belum bisa bermain satupun alat musik, benar-benar hanya menjadi seorang penikmat permainan. Seperti apapun permainan tanjidor, baik atau buruk, menarik atau tidak, tetap saja merupakan sebuah kekayaan budaya yang memperkaya khasanah musik.

Tentang lenong betawi, ketika kecil dulu gue bisa tertawa lepas melihat aksi pemain lenong --mungkin karena masih kecil yak--, humor yang ditawarkan masih santun, terkadang ada juga nilai yang disampaikan, waktu itu sih yang gue ingat, nilai yang disampaikan dari acara tersebut, jika setelah menikah kemudian pasangan tersebut mempunyai anak, maka, it doesn't really matter whether your child is a girl or a boy, sesuai dengan himbauan pemerintah saat itu untuk menekan angka kelahiran. "Cukup dua anak, laki dan perempuan sama saja". Walau sekarang ada juga acara sejenis yang disebut lenong dan disiarkan melalui televisi, tapi rasanya kok beda, baik dari segi penyampaian maupun isi, kecenderungannya berisi celaan, canda yang tidak santun, gue menilainya sebagai miskin kreativitas, sensenya juga beda.

Mengenai layar tancap, well, hiburan yang satu ini kalo gue nilai sebagai acara pamungkas dari rangkaian suguhan hiburan. Untuk pemutaran film, biasanya waktu awal filmnya biasa-biasa aja, lalu beranjak ke tengah malam dan menjelang subuh baru deh film andalan dimainkan, sebenarnya gue kurang tahu mana film biasa dan andalan, definisi semua itu didasarkan paada desas-desus yang beredar sesama penonton :D, ada unsur psikologisnya juga.

Salah satu momen yang sangat berkesan adalah ketika menikmatinya, penikmat tentu saja tetangga dan warga sekitar, baik dari RT yang sama ataupun RT tetangga, terkadang entah orang darimana tahu-tahu ada di tempat itu :D. Cemilan yang ada juga merakyat, jagung dan kacang rebus, kue cucur, gemblong, bajigur, pisang dan ubi rebus. Biasanya gue menikmati setiap rangkaian hiburan bersama teman-teman dengan beralaskan koran, kongkow-kongkow, ketawa-ketiwi sambil makan cemilan :D, saat ini, pengalaman tersebut menurut gue sangat berkesan dan bernilai. Jauh lebih bernilai ketimbang menikmati film yang dimainkan di bioskop yang berada dalam mall dengan kursi empuk dan hawa dingin.

Saat ini gue merasa kesulitan untuk menemukan acara sejenis yang gue nikmati ketika masa kecil, mungkin di daerah lain masih ada. Sedangkan hiburan yang disuguhkan, sering sekali, kalo kebetulan ada acara pernikahan, lalu gue melewati tempatnya selepas beraktivitas di siang hari, biasanya acara yang disuguhkan adalah dangdut dengan penampilan sang biduan yang sedikit (?), cukup (?), sangat(?) seronok. Tak ketinggalan anak-anak kecil, ibu-ibu, bapak-bapak, muda-mudi tumpah ruah di sekitar panggung untuk menikmatinya, jika waktunya tiba, orang dewasa beraksi dengan berjoget. Botol-botol minumanpun berada di sekitar orang yang berkelompok.

Hmmm.. romantisme budaya.

Wednesday, December 27, 2006

Insomnia (2)

Mungkin nantinya judul dari setiap tulisan di blog diganti insomnia terus kali yak, rasanya kok mood untuk update blog muncul kalo memang lagi gak bisa tidur :p. Mau cerita sedikit ah...

ceritanya tentang seorang anak manusia yang punya hobi jalan-jalan dan seringnya juga sendirian, "kayak orang bego" kata seorang teman, masa bodoh. Pun Sampai sekarang juga cuma jadi seorang pengamat --kelas teri pula, gue punya semboyan petualang, begini : "jejakkan kakimu di tanah yang baru, minum airnya, kenalilah masyarakatnya", untuk penggalan terakhir "kenalilah masyaraktnya" adalah hal menarik buat gue ketika berada di daerah baru, lalu bisa mengetahui kebudayaanya, pola interaksi sosial dan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dan sering juga hal-hal sederhana yang terjadi, rasanya kok menagih.

Pembaca suka ini ?

Pernah melihat garis cakrawala yang mempertemukan laut dan langit, menarik bukan ?, mungkin kalo ini sedikit beda, batas yang gue maksud adalah pepohonan yang terlihat kecil berderet. Duduk di sebuah angkutan umum yang menghubungkan antar satu kabupaten dengan kabupaten lain di jawa tengah tak lepas dari pemandangan permadani hijau yang sangat luas. Di saat musim penghujan seperti saat ini, para petani menanami sawah-sawah (mereka ?) dengan padi, dan di awal musim seperti ini umumnya tanaman masih menghijau --belum memiliki bulir padi. Menurut gue sangat menyenangkan melihat hal seperti ini, ditemani hembusan angin segar di siang hari, tak lupa suara siaran radio yang memperdengarkan lagu-lagu dengan bahasa setempat, begitupula dengan obrolan di antara satu-dua penumpangnya. Klasik itu asik.

Di sela-sela lukisan indah tersebut, rupanya ada seorang gadis berseragam SMU yang memasang senyum manis --mesam-mesem ngono loh-- dengan seorang lelaki sebayanya yang berada di sudut belakang angkutan, entah siapa yang memulai, si lelakipun membalas nya dengan curi-curi pandang dan senyum menggoda. Beberapa lama kemudian terdengar gelak tawa dan canda dari luar angkutan umum, rupanya ada empat anak perempuan berseragam SMP yang menaiki satu becak, dua orang di bangku utama dan dua orang lagi duduk di tempat pijakan, ditemani si mas yang mengayuh pedal dengan kepayahan sambil sesekali mengusap keringatnya, sedangkan pengiringnya adalah teman-teman lain baik laki maupun perempuan bersepeda --semi ontel-- beriringan sambil sesekali terjadi percakapan kecil di antara mereka. Ketika menyaksikan hal tersebut, pikiran yang terbesit di kepala gue adalah bahwa di antara mereka nantinya ada orang besar yang akan membawa kemajuan bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Selain tentunya akan ada juga yang terkapar karena terhambat masalah umum yaitu AKSES.

Melompat sedikit ke hal lain, untuk pembaca yang kebetulan peduli dengan nasib pendidikan di Indonesia, gambaran sederhana yang gue ceritakan di atas sekiranya bisa memberikan sedikit percikan semangat bahwa mereka & pendidikan --terutama AKSES-- memang patut untuk diperjuangkan, ah ya, gue pun belum --bahkan tidak-- bisa berbuat banyak kecuali sekedar menjadi pengamat kelas TERI yang miskin tindakan. Ah, sutralah (baca : sudahlah), kayaknya mulai melantur.

Thursday, December 14, 2006

Insomnia

Sialnya penyakit insomnia mulai kambuh, kabarnya salah satu penyebab penyakit insmonia adalah pikiran yang berjejal di dalam kepala, sialnya terkadang pikiran yang singgah di kepala juga ngga penting-penting amat, entahlah, tubuh inginnya istirahat, tapi kok pikiran masih jalan kemana-mana. Satu kata untuk menjelaskannya, KOMPLEKS. Atau ada penyebab lain ?, jangan-jangan, pengaruh kafein dalam segelas kopi yang gue minum di sore hari, abis haus. Haus kok minum kopi ?, lah yang disediain cuma kopi :p.

Tuesday, October 31, 2006

[Ra Genah] Kebijaksanaan & Tuan Telur

Bahkan kebijaksanaan yang sering lalu-lalang di depan mata, terdengar oleh telinga dan terbukti dengan perbuatan sangat sulit untuk dimengerti [gak mudeng-mudeng], semuanya terhalang oleh jiwa manusia yang kotor dan palsu.

Terima kasih untuk Tuan Telur yang telah menunjukkan pelajaran berharga, bahwa segala sesuatunya bukan cuma dibayangkan ataupun diangan-angan, seharusnya dilakukan supaya terwujud.

Sunday, October 29, 2006

Mohon Maaf Lahir & Batin

Taqabbalallahu minna wa minkum

Semoga Alloh SWT menerima amal & ibadah kita di bulan ramadhan, serta menjadikan kita golongan yang kembali pada fitrah. Mohon maaf lahir batin.

Mudah-mudahan jadi manusia dengan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya, hi..hi..hi.. mohon maaf lahir batin, mohon maaf atas segal perbuatan dan perkataan yang tidak berkenan, juga hutang dan janji yang tak terbayar, harapan si penulis si diikhlaskan aja hi..hi..hi..hi.., tapi kalo ngga ya silakan ditagih, surat tagihan bisa dilayangkan ke galuh100@yahoo.com. Mokasi.

Wednesday, October 11, 2006

[Catatan] 05 Mei 2006

Ku berada kembali di tempat ini
Semilir angin sore yang menentramkan
Tenang rasa hati
Pikiran yang kembali melayang
Ya, Dia telah menunjukkan kuasanya

Bagai cahaya langit utara
Indah dilihat tak bisa diraih

Ah.. sudah enam revolusi rupanya
Kembali, ketika kusadari bahwa rasa itu pernah datang
Di tengah gelap dan dingin yang menyelimuti diriku

Kini semua terbang jauh dan menghilang
Tertiup angin lembut kehidupan
Indah seperti bunga ilalang yang melayang
Tak menentu terombang-ambing bersama semilir angin dan harum rerumputan

05 Mei 2006

Tuesday, October 10, 2006

[Ra Genah] Ruang, Kanvas & Guci

Rasanya seperti berada di dalam ruangan yang penuh dengan barang pecah belah semisal kanvas, guci-guci yang indah berkilau, rasanya tak ingin sedikitpun melewati pesona dari masing-masing benda-benda tersebut, benar-benar membunuh rasa bosan, hingga pada akhirnya menyentuh setiap sudut setiap benda, lantaran ingin merasakan apa bahan pembuatnya, kehalusan, lekuk keindahannya, jiwa dan nafas si pembuat, namun ketika sedang tenggelam dalam keindahan, tanpa sengaja memecahkan satu dari sekian benda-benda tersebut, ah ya, kesempurnaan yang sebelumnya ada sekarang hilang, sepertinya semua keindahan itu hanya bisa dilihat, dimaknai dan dipikirkan, tidak bisa sekalipun disentuh. Ah, ya, ruang, kanvas & guci.

Wednesday, September 13, 2006

[Bus Kota] Cih !! Jakarta


Di sebuah pasar tak jauh dari terminal, siang menjelang sore hari, terik sinar matahari benar-benar menyengat orang yang lalu lalang di jalanan sempit itu, membakar, hembusan angin yang berbau amis busuk disertai debu karena angin kering dan semburan asap dari knalpot angkot yang berjubel tak teratur merupakan udara yang wajib dihirup jika ingin tetap hidup. Kesemrawutan suasana pasar, satu dua tukang becak yang tertidur lelap di dalam becaknya, pedagang yang tetap bertahan menjajakkan barang dagangannya, pakaian, kaset, terwelu, pernak-pernik, sayuran yang sudah layu, rempah-rempah seperti tidak terpengaruh dengan suasana sekitar. Di dalam sebuah angkot yang sepi penumpang, Seorang anak perempuan berumur kurang lebih 5 tahun, bertelanjang kaki, duduk di kursi 4, mulutnya masih ditebari remahan kue bolu coklat, sesekali ibunya bersusahpayah menyeka mulut anak perempuan tersebut, sesekali pula rengekannya terdengar karena keinginannya tidak terpenuhi.

Terdengar lagu dangdut remix disertai vokal penyanyinya, serta merta anak perempuan berumur kurang lebih 5 tahun tersebut berdiri dari tempat duduknya, menggoyang-goyangkn badannya disertai ayunan tangan bak penari yang sering muncul di TV dalam acara yang menarik banyak massa. Seketika itu pula wanita lain yang lebih tua --mungkin neneknya-- tertawa melihat tingkah polah tersebut.

Tak lama waktu berselang, permainan gas sang supir angkot di tengah hiruk-pikuk kemacetan dan suasana "panas" tak terelakkan, saling berebutan untuk mendapatkan jalan pun terjadi, "debuk !!" kepala anak perempuan berumur kurang lebih 5 tahun itu terbentur ke sandaran kursi, "brengsek !!", ucapan yang secara spontan terluncur dari mulut mungil itu. Si perempuan tua hanya tertawa sambil bertanya, "sakit nggak ?", "nggak", jawab anak perempuan berumur kurang lebih 5 tahun itu.

Cih!! Jakarta.

Setidaknya lingkaran penuh berwarna oranye di kala senja dengan tempelan gedung, rumah, pepohonan, menara listrik yang menjulang, kemacetan jalan tol dengan latar belakang awan kelabu di atas sebuah kanvas merupakan pemandangan yang menarik.

Monday, August 07, 2006

[Keseharian] Lobster ngantuk

Ini adalah gambar saya bersama lobster kecil, lobster kecil ini ada di dalam lubangnya, tersembunyi, tapi bagian belakangnya kelihatan, setelah di tarik-tarik akhirnya bisa ditemui wujud aslinya, sebelumnya dikira udang, tapi setelah diperhatikan lebih seksama ternyata ini adalah seekor lobster kecil, sepertinya terdampar ke belakang rumah karena air laut sedang pasang, sendirian. Setelah berfoto bersama lobster, akhirnya saya lepas, mesti dituntun supaya dia kembali ke liang persembunyiannya lagi, mungkin masih ngantuk :D

[Keseharian] Catat dong

Siapa menebar angin dia akan menuai badai, ya entah kapan mulanya, dan ngga bener juga jika menimpakan kesalahan pada mata pelajaran bernama akuntansi, saya punya kebiasaan jelek dalam melakukan manajemen keuangan, selama ada uang pake aja, sebenarnya ngga boros-boros juga, tapi karena tidak tercatat dan benar-benar pelupa akhirnya kesulitan juga untuk melacak uang yang menguap entah kemana, dan kembali bertanya-tanya dalam diri "kemana larinya tuh uang yak ?" lalu setelah melihat persediaan muncul lagi pertanyaan "loh kok tinggal segitu ?"

Malas mencatat keuangan sendiri karena terlanjur jengah kalo ingat neraca keuangan dalam bentuk tabulasi, ngga suka dengan prosedur yang berbelit, malas dalam mendokumentasikan, yo wish... siapa menebar angin dia akan menuai badai, rasakan akibatnya bagi diri sendiri :D.

Monday, July 10, 2006

[Bus Kota] Tidak melulu

Hari ini selepas pintu tol kebon jeruk ada seorang pengamen, dia adalah seorang lelaki berumur kurang lebih 30 tahun, berbeda dengan pengamen yang sering saya identikkan dengan pakaian lusuh, kulit dekil, aksesoris dan segala ketidakterawatannya.

Bapak ini seorang warga keturunan cina, menggunakan kaos berkerah dengan ikat pinggang terlihat, begitupula potongan rambutnya, rapi. Terlihat sekali kalo bapak ini baru dalam bidang mengamen --setidaknya menurut penilaian saya pribadi, pasalnya beliau terlalu banyak menyanyikan lagu, tidak menggunakan alat bantu apapun baik gitar maupun kecrekan --hanya menggunakan suara-- dan kurang cermat menentukan kapan waktu meminta uang kepada penumpang, hingga pada akhirnya hampir setengah dari penumpang bus terlanjur turun sebelum dia sempat meminta uang.

Lagunya antara lain lilin-lilin kecil, you raise me up (bener gak nih judulnya), melodi-memori, dibawakan dengan suara nyaring namun tidak asal, apa istilahnya ya ?

Satu gambaran lagi bagi saya pribadi --mudah-mudahan untuk pembaca juga, bahwa warna kulit di tanah Jakarta tidak melulu menjadi lambang kesejahteraan, tidak seperti selentingan yang sering saya dengar tentang ketidakadilan yang dialami warga pribumi terhadap non pribumi dalam hal memperoleh hak akses untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sip, semangat Pak !!

Tuesday, July 04, 2006

[Sosial] Demografi dan Konflik dalam Masyarakat

Benar-benar tak punya ide untuk menulis, ini ada bacaan menarik.

Sejak tumbangnya Orde Baru, perkembangan masyarakat di Indonesia ditandai oleh perbedaan pendapat yang akhir-akhir ini menjurus kepada ketidakserasian bangsa. Dampak dari rasa muak terhadap friksi yang tidak berkesudahan, mulai muncul di kalangan awam kerinduan atas keadaan masa lalu yang dianggap relatif stabil, aman, dan mudah mencari makan.
Konflik yang berkepanjangan tidak perlu terjadi apabila kekuatan politik yang ada memahami keadaan dan perkembangan struktur demografi Indonesia. Secara demografis, konflik di Indonesia sebenarnya dapat dijelaskan dari sisi perbedaan antargenerasi inter-generational gap). Struktur penduduk sebenarnya menggambarkan pengalaman anggota masyarakat di mana setiap orang yang ada di dalamnya telah melalui siklus kehidupan, dari sejak lahir, bayi, anak, akil balik, dewasa, tua dan akhirnya mati. Perjalanan kehidupan setiap orang dengan latar belakang yang mempengaruhi tata kehidupannya ini akan membentuk sikap, pandangan dan perilaku.

Selengkapnya bisa dilihat di sini

Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0402/16/opi02.html
Tanggal akses : 4 Juli 2006, pukul 3.53 pm

Thursday, June 29, 2006

[Ra Genah] Melantur

Sepertinya segelintir sastra(wan/wati) sedikit demi sedikit sudah mulai kembali, ah ya, bersastra ria memang tidak bisa dipaksakan, sejatinya sebuah karya indah lahir dari buah pikiran yang dilingkupi dengan ketulusan dan kebesaran jiwa, bukan sebaliknya.

Selamat teman, buah karyamu sangat sempurna, semoga setiap orang yang melihat keindahannya terinspirasi untuk turut serta. Di salah satu sudut dunia ini, saya hanya bisa memandang dan meresapinya dari surat kabar Tengah Malam. Kertasnya adalah langit luas, ditulis dengan bintang yang bertaburan, ditandai dengan bulan pada setiap halamannya. Sebagai hadiah, anda bisa ingat, ini info berharga !!, setiap halaman 11, 12 dan 13 tengoklah dengan cermat, sebuah lukisan indah yang bermetamorfosa akan mengepakkan sayapnya, terbang, indah sekali.

Dengan berada dalam kebisingan dan hingar bingar yang memekakkan, kau bisa menyadari bahwa kesunyian yang senyap dan dingin adalah sebuah karunia.

Monday, June 26, 2006

[Ra Genah] Catatan

Di tempat ini beberapa samurai telah berkumpul dan memperkenalkan dirinya masing-masing, mulai dari latar belakang, asal-usul, garis keturunan dan pertalian darah, pengalaman bertempur hingga pada siapa mereka mengabdi. Sebagai samurai, tugas merupakan sebuah amanat yang harus dilaksanakan dengan segenap jiwa dan raga, apalagi jika tugas tersebut berakar pada kemuliaan untuk membangun masyarakat yang tinggal jauh dari pusat-pusat kebudayaan. Ya disinilah kami saat ini, beberapa perlengkapan tempur seperti tombak, pedang dan panah telah kami pelajari, begitu juga keahlian berkuda, menyusup ke daerah pertahanan lawan, penyamaran, mencari informasi serta mengelabui lawan sedikit demi sedikit sudah kami kuasai. Yang tinggal adalah terus mengasah kemampuan tersebut secara berlanjut dan menerapkannya untuk kemajuan penduduk di seluruh pelosok negeri ini.

Walaupun hari-hari kami isi dengan latihan dan menunggu hari pertempuran --diperkirakan akan berlangsung selama 30 hari penuh, secara umum keadaan masih tenang, kami masih bisa memanfaatkan waktu untuk bersantai, mengadakan upacara minum teh, melukis, mempertajam aksara dengan sastra, menikmati kue-kue kecil khas daerah setempat serta berkeliling desa untuk mengenal daerah.

Mudah-mudahan tugas ini dapat kami laksanakan dengan baik, harga yang harus dibayar untuk kegagalan adalah mengasingkan diri atau melakukan seppuke.

catatan : cerita di atas benar-benar ra genah (gak jelas), hanya fiksi, hiperbolis dan miskin makna luar biasa.

Friday, June 23, 2006

[Bahasa] Quote's

"Ketahuilah peranmu, milikilah kehormatan dan rasa hormat dan bekerja keraslah". Kata-kata salah satu rekan politik deng xiao ping, menurut gue kata-kata tersebut bagus.

"Lebih Baik Pulang Nama Daripada Gagal Dalam Tugas". Ya, kalo kata-kata ini gue benar-benar ingat karena setiap kali berangkat atau pulang sekolah ketika SMA pasti melihat monumen Korps Pasukan Khusus Baret Merah, monumen berada di tengah sebuah taman, kurang lebih 4 prajurit (lupa gue) dengan posisi siap tempur. Hebat seandainya jargon tersebut benar-benar tertanam di dalam jiwa para prajurit, terlepas dari tugas apa yang dilaksanakannya.

"Pantang pulang sebelum padam". Begitulah kira-kira kata-kata yang gue lihat (ha..ha..ha.. lupa lagi dimana), kata-kata tersebut adalah jargon bagi petugas pemadam kebakaran. Berterimakasihlah kita kepada petugas pemadam kebakaran yang bekerja keras dalam menjalankan tugasnya disertai dengan semangat "pantang pulang sebelum padam".

Sunday, June 04, 2006

Qumana

Nyoba posting pake Qumana


Thursday, June 01, 2006

[Buku] Melacak Alam

Melacak Alam, buku yang sangat berkesan dan memberikan inspirasi buat gue terhadap pengamatan alam, gue temukan kembali di sebuah lapak penjual buku dengan harga Rp.5000 di Kwitang, Pasar Senen, buku ini dapat dikategorikan sebagai ensiklopedia mini yang membahas hewan dan tumbuh-tumbuhan di lingkungan sekitar, pengelompokan kasusnya didasarkan pada musim dan habitat, disertai ilustrasi yang digambar dengan tangan, ditulis oleh Hans Jurgen Press dengan judul asli Der Natur Auf Der Spur, terdiri dari 234 kasus, cetakan dalam bahasa Indonesia diterbitkan pertama kali tahun 1984. Isi yang ada di dalam buku ini sebagian besar merupakan catatan pengamatan penulis semasa kecil, pengamatan dilakukan pertama kali ketika suatu saat penulis dan anak lainnya di dalam kelas mendapatkan tugas dari Guru Ilmu Hayat untuk mengamati lingkungan sekitar, mencatatnya, serta memberikan ilustrasi gambar, hal tersebut pada akhirnya terus berlanjut. Buku ini merupakan salah satu seri dari kumpulan buku "Dasar-dasar Pengetahuan", buku lainnya berkisar pada masalah teknik (hukum-hukum fisika) yang dibahas dengan permainan dengan bantuan alat-alat sederhana yang mudah ditemui. Bermain sambil belajar.

Sedikit nostalgia, pada saat itu kami kelas 4 atau 5 SD. Waktu itu gue sedang melihat gambar-gambar sebuah buku yang berkaitan dengan tata surya. Ketika itu ABP membacakan kasus no. 9, dan menurut dia kata-kata "hu-hu-hu" itu lucu, menurut gue ngga sama sekali :D, sehingga akhirnya gue memutuskan untuk membaca sendiri, lalu dilanjutkan membaca penjelasan-penjelasan yang lain, hingga pada akhirnya gue benar-benar tertarik dengan isi buku tersebut, meminjamnya dari perpustakaan dan tidak berniat mengembalikan :D (penjahat cilik !). Berikut salah satu kasus yang dibacakan teman gue tersebut.

Panggilan di tengah Malam (No. 9)

Terutama pada masa birahinya, pada bulan Februari, di tengah malam burung hantu memperdengarkan suara "hu-hu-hu"-nya yang menyedihkan dan menakutkan. Suara itu dapat kita tiru dengan merapatkan kedua tangan seperti dalam gambar dan meniupnya melalui lubang di antara kedua ibu jari, seperti yang ditunjukkan panah. Mungkin burung hantu itu akan datang mendekat. Terhadap cahaya lampu baterai, burung ini tidak takut sedikitpun sehingga dia mudah diamati.

Masih banyak lagi hal-hal sederhana dan menarik yang dijelaskan melalui buku ini. Terekomendasi untuk teman-teman yang mempunyai anak, keponakan atau adik yang berada di bangku sekolah dasar.

ps: cover buku menyusul

Tuesday, May 23, 2006

[Memasak] Membuat Pisang Goreng Mentega

Bahan
- Pisang (jenis pisang sesuai selera)
- Mentega
- Gula
- Susu kental

Alat memasak
- Kompor
- Wajan
- Alat untuk menggoreng

Cara memasak
- Kupas pisang lalu potong menjadi beberapa bagian, masing-masing bagian dipotong memanjang sampai setengah (jangan sampe terbelah menjadi dua), tujuannya supaya ketika digoreng menteganya bisa sampai pada bagian dalam, rasanya lebih enak.
- Nyalakan kompor dan letakkan wajan di atasnya
- Masukkan mentega secukupnya ke dalam wajan
- Masukkan potongan-potongan pisang
- Goreng sampai warnanya menjadi agak kemerah-merahan (jangan sampe gosong)
- Angkat, letakkan sebentar di penyaring agar minyaknya berkurang
- Setelah itu, letakkan di piring
- Taburi gula dan susu kental, jadi deh

Enak dinikmati dikala suasana dingin datang, malam hari atau ketika hujan sambil menikmati kopi atau air jeruk hangat. Mudah, sederhana, memiliki kadar karbohidrat tinggi dan tentunya nikmat.

Catatan : Gue memasaknya berdasarkan kebutuhan, kesenangan dan mood. Jadi, bagi pihak tertentu jangan berharap banyak :D.

Tuesday, May 16, 2006

Aneh rasanya :D

Benar-benar liar dan menggila,
laksana api yang melahap hamparan ilalang di musim kering
Kobarannya benar-benar memberi sensasi luar biasa
Aneh rasanya,
Rasa takjub ini penuh mengisi relung jiwa
Senang, ringan dan melayang jauh
Ku tak ingin lepas dari rasa ini

Wednesday, May 03, 2006

Tentang yang satu itu

Suatu masa tertentu gue benar-benar benci sama kata cinta, sucks lah :D, ternyata pengetahuan gue cuma sebatas pada cinta dengan lawan jenis, ha..ha..ha.. betapa merasa tololnya gue bersikap dan mendefinisikan cinta cuma sebatas itu, jauh gue pikir ada yang lebih tinggi dari itu --terserah kalo dibilang gombal, beberapa hal yang bisa sedikit --sangat-sangat sedikit mungkin-- gue pahami adalah cinta Pencipta kepada makhluknya dan sebaliknya, cinta orang tua kepada anaknya dan sebaliknya, cinta seorang manusia pada alam semesta dan isinya, cinta seorang manusia terhadap manusia lain dalam konteks sosial (bisa luas lagi nih) serta cinta seorang manusia terhadap lawan jenisnya (cuma ini yg bakal sedikit dibahas).

Jenis cinta terakhir yang umumnya sedang dirasakan oleh muda-mudi masa kini :p, gue belum bisa memahaminya dengan baik, yang jelas ada hubungannya dengan tahapan dalam perkembangan biologis maupun psikologis, kedua hal tersebut lebih cenderung berada pada sisi manusia, sisi material. Sehingga, gue agak kurang sreg jika ada muda-mudi masa kini yang mengutarakan cinta terhadap lawan jenis terlepas dari kedua hal tersebut (spiritual misalnya), walaupun tidak menutup kemungkinan bisa dicapai dan lagipula gue juga belum paham.

Mencoba berbagi pikiran dan perasaan dengan teman-teman (pria dan wanita) yang sedang merasa gundah dengan problematika hidup yang satu ini, entah merasa ditinggalkan, disakiti, berada pada hubungan yang ngga jelas, tersiksa dalam manisnya cinta, atau apalah, terkecuali yang sedang berada pada daerah merah jambu :p. Berusaha untuk tidak menyudutkan kaum wanita apalagi membela kaum pria, jadi, (bisa gak ya ?) kalo kamu-kamu berada pada keadaan tersebut, mungkin prinsip bahwa dunia ngga selebar daun pinus bisa dipake, lagipula yang gue pahami hidup tuh gak dibatasi pada hal beginian doang kok, janganlah berlarut-larut, tetap jalani hidup dengan semangat dan ceria, masa lalu yang ngga enak itu jangan disesali tapi dirubah jadi pengalaman yang bisa jadi bahan pembelajaran. Gitu guys, Maaflah ya kalo gue sok tahu :p.

Lagu : Vina Panduwinata, Aku melangkah Lagi.

Thursday, April 27, 2006

Instalasi Linux Ubuntu (gagal)

Mencoba menginstall Linux Ubuntu, sayang sekali gagal, penyebabnya adalah kualitas CD yang kurang baik, well, padahal itu CD original, dapat langsung dari distributor utama Ubuntu, dan lebih mengesalkan lagi karena gue mencoba menginstallnya pada virtual PC, karena PC gue berada dalam jajaran PC berumur dan performance yang agak lain dari PC umumnya saat ini (nggak mau menyebut tua :D dan bapuk), akibatnya untuk melakukan instalasi perlu kesabaran tingkat tinggi, lah !! tak tahunya (terdengar aneh bahasanya) gagal pada persentase tertentu, lantaran CD nya berkualitas kurang baik (males nyebut jelek) atau jangan-jangan CDROMnya ? (wah ini lagi, isu dari Tuan A punya kata-kata bahwa sekarang yang menjual CDROM dah jarang, minimal DVDCombo lah, walah ! lagi-lagi merasa tertinggal. Hehh.. namanya juga isu, validitasnya diragukan ;p. Kembali ke topik semula, seandainya instalasi berhasil, gue bisa memberlakukan satu PC (host) aktif sebagai 2 host yang berbeda, lumayan nih untuk belajar-belajar jaringan, tapi apa mau dikata ?, ada yang punya rekomendasi distro yang bagus untuk instalasi ?, [mode : orang indonesia ON] kalo pake GUI (Graphic User Interface) ngga ngabisin space banyak, mudah instalasinya, dan yang paling utama : installation requirement nya tercapai oleh PC gue (memori : 128, processor : 600 MHz, vga : 4 MB), ups.. maaf salah, yang jelas kalo menggunakan Virtual PC spesifikasinya lebih rendah dari yang gue sebutkan [mode : orang indonesia OFF]. Tutian Bgt (baca : kesian banget). Omong-omong, sebenarnya gue sudah install Fedora Core 4 (bisa disebut redhat ?) tanpa menggunakan Virtual PC, tapi karena kesoktahuan gue melakukan setting, hasilnya adalah ketika pertama kali booting, pada fase tertentu (berkaitan dengan konfigurasi network device) lama banget, bisa lumutan (hiperbolis) kalo nunggu selese, mau coba memecahkan masalahnya lewat console melalui grub, but how ?, sudah tanya ke seorang pengguna linux juga, yang bersangkutan menyarankan untuk melakukan penyuntingan file something.conf, tapi ketika gue praktekan di grub ngga bisa, lah wong membaca filenya aja gak bisa, ngga tahu kenape. Ha..ha.. kayaknya dari dulu gue selalu bermasalah dengan instalasi linux selain distro mandrake, padahal menarik, lihat dunia baru. Ngga yang itu-itu aja.

Tuesday, April 18, 2006

Flamboyan


Kabarnya dahulu bunga ini merupakan bunga yang memberikan ciri khas kota jakarta, seperti bunga sakura di jepang dan bunga tulip di belanda, bunga ini sering disebut juga flame flower karena warnanya yang merah cerah seperti api. Jenis pohonnya merupakan tumbuhan khas daerah tropis, memiliki kayu yang keras dan bisa mencapai ukuran yang cukup besar. Gue masih ingat ketika kecil, tepian sepanjang Jalan Raya Bogor (Jakarta Timur) masih sangat banyak ditumbuhi tumbuhan jenis ini, pepohonan ini tumbuh di tepi kali ciliwung, saat in masi ada, tapi semakin lama pepohonan ini semakin berkurang, banyak penyebabnya, biasanya karena umur yang sudah sangat tua sehingga akhirnya harus ditebang, tumbang karena angin ribut atau roboh karena tanah tempat berpijak longsor, di UI juga ada, tanamannya umumnya masih berukuran sedang. Ketika harus menuju kampus di pagi & siang hari, sesekali gue biasanya menyempatkan untuk menelusuri jalan yang berasal dari Statsiun Pondok Cina - Balairung - Rektorat - Fasilkom, di siang hari biasanya jalan ini sepi, selain bisa melihat beberapa pohon flamboyan yang berbunga mungkin kalo beruntung bisa melihat tupai-tupai yang berkejar-kejaran. Sampe sekarang dugaan gue, tupai-tupai tersebut termasuk binatang yang mengkonsumsi biji flamboyan ini selain biji dari tumbuhan-tumbuhan lainnya. Hmmm gue gak tahu pasti sih, jenis pohon ini musiman apa nggak, yang jelas selama musim penghujan pohon-pohon flamboyan banyak yang gue lihat sedang berbunga, bagus!.

Monday, April 17, 2006

koleksi musik tambahan

waduh dah lama gak nulis, rasanya kaku, kak..kak..kak.. ku...ku...ku... :D, yeah mo cerita aja, beberapa hari yang lalu gue dan salah seorang teman lama pergi ke mangga dua dilanjutkan ke glodok, barang yang dicari dan akhirnya dibeli oleh teman gue tersebut adalah harddisk USB, sedangkan gue ?, lebih banyak window shopping dan kadang terhenti pada pajangan beberapa barang tertentu dengan mata berbinar-binar, entah karena memang benar-benar menginginkannya (digicam) atau juga karena baru tahu bentuk fisik barang tertentu yang sering dibicarakan (berkaitan dengan perangkat wireless) :D, norak banget. Setelah selesai dari mangga dua, akhinya kami pergi ke Glodok dengan tujuan mencari beberapa koleksi classic/progressive rock, kebetulan temen yang gue ajak merupakan salah seorang yang selama ini gue minta untuk memberikan rekomendasi terhadap kelompok-kelompok musik classic-progressive rock yang asik, alhasil berikut daftar mp3 yang gue beli :

1. Deff Lepard ~
2. Pink Floyd *
3. Deep Purple ~
4. Rush *
5. Oasis ~
6. Green Day ~
7. Chicago ~
8. Led Zeppelin ~
9. Genesis ~
10. Cake *
11. CCR *

keterangan
~ : pilihan gue sendiri, untuk menambah koleksi
* : rekomendasi teman, beberapa sudah gue dengarkan, menarik

Nggak semua bagus, beberapa kualitas CD-nya kacau :D

Suasana perjalanan :

Naik motor - siang - terik panas matahari - asap kendaran - lalu-lintas semawut - tancap bleh !!

Hujan lebat - kena muka sakit - pakaian basah kuyup - hajar aja !! - banjir - macet - cari jalan alternatif - nyasar :D

Menyenangkan

Monday, April 03, 2006

Tanah Jajahan

Here i am, memandang luas bentangan tanah lapang dan ilalang, entah pohon ini namanya apa, yang jelas dahan-dahan kecilnya cukup kuat untuk menahan beban tubuh ini, dari tempat ini saya bisa memandang tanah 'jajahan' dengan pasti, ditemani hembusan semilir angin sore, jingganya langit dan kicauan sekawanan burung pipit yang sibuk berebut tempat di rumpunan ilalang untuk menanti datangnya malam, saya dapat duduk berlama-lama di tempat ini sambil memakan buah-buahan liar hasil panen. Sesekali ada pikiran-pikiran yang melintas dan mengganggu, entah PR sekolah, acara menarik di TV atau panggilan orang tua, tapi semua itu segera sirna seiring rasa gatal di beberapa bagian tubuh akibat gigitan nyamuk. Saya bisa tahu dengan detail bahwa di balik tajamnya duri-duri tanaman itu ada tempat pengintaian yang sangat nyaman, tanahnya lembut, enak untuk dipijak, atau di atas pohon tertentu dengan ketinggian +- 15 m, saya bisa dengan leluasa mengamati lalu-lalang orang di jalan setapak yang menghubungkan dua Rukun Tetangga serta pembicaraan yang terjadi di antara mereka, atau di pohon tempat saya saat ini, tersembunyi, nyaman dan memiliki daerah pantau yang cukup luas. Banyak hal & permainan yang bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu di lahan luas ini : cari buah, main kincir daun (daun singkong atau pepaya), panah dengan ilalang, tombak dengan batang-batang pohon muda, angsa-angsa'an yang dibuat dengan jenis bunga tertentu, gelembung sabun dari pohon sejenis biji karet kecil, mencari serangga, mencari ikan gabus di kubangan lumpur, perosotan di tanah berbukit, mencari benda-benda dan masih banyak lagi. Saya benar-benar menikmatinya, hingga pada akhirnya tersadar, ah.. ternyata hanya sepotong kisah masa kecil.


catatan : saat ini tanah 'jajahan' itu sudah berubah menjadi sebuah bangunan besar, sedangkan lahan luas yang masih tersisa terlindung oleh tembok beton yang dipancang mengeliling.

Wednesday, March 29, 2006

Laut, Langit, Matahari & Garis Cakrawala



Cool isn't it, hmm.. :)

Tuesday, March 28, 2006

ie & firefox

blog ini jika dilihat dengan menggunakan ie lumayan rapih, tapi kalo dilihat pake mozilla firefox jadi berantakan :D. kapan-kapan dibenerin lagi.

~aneh

Thursday, March 23, 2006

Sedikit tulisan

(mode sok tahu : ON)

Paradigma berpikir

Terkadang ketika kita menghadapi sebuah hal, tanpa banyak tahu mengenai hal tersebut kita bisa memberikan judgement, wajar saja, tidak bisa disangkal juga bahwa sesuatu yang telah kita lakukan tersebut terkadang tidak sesuai dengan yang kita kira sebelumnya, nah di sinilah letak paradigma diposisikan, alangkah baiknya sebelum kita memberikan judgment dan melakukan penyikapan, sejauh mungkin kita memposisikan diri pada berbagai "pos" (individu, keadaan, waktu, tempat dan sebagainya), dengan begini mudah-mudahan didapatkan sudut pandang yang berbeda dan pada akhirnya bisa memberikan alternatif penyikapan yang berbeda pula pada hal-hal yang dihadapi.


Kondisi Cuaca

Dalam minggu terakhir ini, angin benar-benar semarak, (AFAIK) dari pengamatan gue, angin bergerak dari arah barat daya-barat-barat laut ke timur, jika posisi kita berada di Jakarta, daerah arah mata angin tersebut terhadap Indonesia, vegetasi yang ada merupakan hutan hujan tropis, sama halnya untuk Indonesia terhadap Asia, mungkin ini penyebab curah hujan yang cukup tinggi. Ada hal yang menyenangkan setelah hujan, jika hujannya terjadi di siang-sore hari, biasanya langit di malam hari benar-benar cerah, dengan begini benda-benda langit bisa terlihat lebih jelas dibanding hari biasanya, seperti malam ini, bintang-bintang di daerah langit barat bertaburan, sangat menarik. Di sisi lain, ada juga yang tidak menyenangkan, bencana banjir, di daerah perkotaan maupun pedesaan tidak lepas dari masalah yang satu ini.


(mode aneh : ON)

Blog-Ku Sayang Blog-Ku Malang

Gue sedang memahami si blog nih, jarang diisi dan terkesan tidak terurus, tapi untungnya si blog ngga rewel dan bawel sih atau sampai bersikap manja dengan merengek-rengek, dari tulisan di atas (paradigma berpikir) mungkin si blog sudah sampai pada pemahaman alternatif dalam bersikap, jadi dia ngga terlalu banyak menuntut tuannya, paling tidak dia bisa memposisikan diri 'cuti' untuk menampilkan tulisan tuannya tanpa memiliki batas waktu yang ditentukan, santai aja ya, yang ngerti kan cuma kau dan aku :D.


Penutup

Sepertinya gue terlalu sok tahu :D

mode sok tahu : OFF
mode aneh : OFF

Monday, March 13, 2006

Pengobral Dosa

Iwan Fals - Pengobral Dosa

Di sudut dekat gerbong yang tak terpakai
Perempuan ber make-up tebal dengan rokok di tangan
Menunggu tamunya datang

Terpisah dari ramai
Berteman nyamuk nakal dan segumpal harapan
Kapankah datang tuan berkantong tebal

Reff:
Habis berbatang-batang tuan belum datang
Dalam hati resah menjerit bimbang
Apakah esok hari anak-anakku dapat makan
Oh Tuhan beri setetes rezeki

Dalam hati yang bimbang berdoa
Beri terang jalan anak hamba
Kabulkanlah Tuhan

comment: ironi bos ..

Wednesday, March 08, 2006

Puisi (J) Kaim

Jenis : Puisi
Untuk seorang teman : Musafir

(J) Kaim ?
Kamu memang aneh..
Kau musafir sih.. (begitu kata temenya maman)
Padahal, aku sedang tidak punya ide untuk menulis ..
Lagipula moodku entah tersimpan dimana (lupa) ..
Lalu... dengan kata-kata itu kau menikamku ..
Ugh.. terasa sakit, kamu bilang aku (J) Kaim ?
Malet Banges seh..

Ketika matahari terbit, bunga-bunga bermekaran
Lalu aku lihat di taman..
Ada yang putih dan ada yang merah ..
Setiap hari ku siram semua ..
Mawar melati semuanya indah .. (horee !!)

Ketika matahari tenggelam, burung camar kembali ke sarang
Ikan lumba-lumba beristirahat, Ikan-ikan kecil bergegas pergi mencari plankton
Koala aktif di malam hari dan bobo di siang hari
Mengapa begini ?, Mengapa begitu ?, banyak pertanyaan di dunia ini

Wahai musafir, terima kasih ya sudah menyemangati ..
Saya benar-benar menghargainya, walaupun kamu benar-benar sotoy ..
Btw, Kamu suka sotoy apa ?
Kalo aku sotoy babat (jeruk nipisnya yang banyak) .. kamu ?

Tuesday, February 14, 2006

Komunitas Terdidik: Belajar dari Jepang



Posted in Management by Romi Satria Wahono on the February 7th, 2006

Opini kecil, yang saya tulis sewaktu masih tinggal di Jepang. Pernah dimuat di kolom Opini, Surat Kabar Republika, tanggal 15 Juli 2002.

Tiada hari terlewatkan tanpa membaca surat kabar Indonesia melalui Internet. Di sana-sini bermunculan berita mengenai rusaknya moral dan carut marutnya kepribadian masyarakat Indonesia, layaknya sebuah bangsa yang tidak terdidik. Dan kerusakan ini secara signifikan dan menyeluruh melanda berbagai golongan masyarakat Indonesia, dari pejabat atas, menengah sampai rendah, dari anggota DPR sampai menular ke masyarakat umum. Kemudian kalau kita menyimak berita-berita Internasional, sudah menjadi hal yang lazim, bahwa Indonesia selalu memenangi kontes-kontes internasional yang berhubungan dengan sifat buruk. Dari masalah besarnya jumlah korupsi, pelanggaran HAM, pembajakan software, sampai rendahnya masalah sumber daya manusia (SDM).

Pada tulisan ini, penulis mencoba menguraikan tentang bagaimana sebuah komunitas terdidik (knowledged community) dan beradab itu sebenarnya bisa terbentuk dari sesuatu hal yang sangat sederhana.

Dari mengamati perilaku kehidupan masyarakat Jepang, sebenarnya tergambar bagaimana sebuah komunitas terdidik terlahir dari suatu sifat dan sikap yang sederhana. Yang pertama mari kita lihat bagaimana orang Jepang mengedepankan rasa “malu”. Fenomena “malu” yang telah mendarah daging dalam sikap dan budaya masyarakat Jepang ternyata membawa implikasi yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan. Penulis cermati bahwa di Jepang sebenarnya banyak hal baik lain terbentuk dari sikap malu ini, termasuk didalamnya masalah penghormatan terhadap HAM, masalah law enforcement, masalah kebersihan moral aparat, dsb.

Bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah suatu contoh nyata. Orang Jepang lebih senang memilih memakai jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffic light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada kendaraan yang lewat lagi. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

Hal menarik berikutnya adalah bagaimana orang Jepang berprinsip sangat “ekonomis” dalam masalah perbelanjaan rumah tangga. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Sekitar 8 tahun yang lalu, masa awal-awal mulai kehidupan di Jepang, penulis sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar pukul 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 10 atau 20 yen. Juga bagaimana orang Jepang lebih memilih naik densha (kereta listrik) swasta daripada densha milik negeri, karena untuk daerah Tokyo dan sekitarnya ternyata densha swasta lebih murah daripada milik negeri. Dan masih banyak lagi contoh yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa orang Jepang itu sangat ekonomis.

Secara perekonomian mereka bukan bangsa yang miskin karena boleh dikata sekarang memiliki peringkat GDP yang sangat tinggi di dunia. Mereka juga bukan bangsa yang tidak sibuk atau lebih punya waktu berhidup ekonomis, karena mereka bekerja dengan sangat giat bahkan terkenal dengan bangsa yang gila kerja (workaholic). Tetapi hebatnya mereka tetap memegang prinsip hidup ekonomis. Ini sangat bertolak belakang dengan masyarakat negara-negara berkembang (baca: Indonesia) yang bersifat sangat konsumtif. Terus terang kita memang sangat malas untuk bersifat ekonomis. Baru dapat uang sedikit saja sudah siap-siap pergi ke singapore untuk shopping, atau beli telepon genggam baru.

Sifat berikutnya adalah masalah “sopan santun dan menghormati orang lain”. Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakkan orang lain. Kalau kita berjalan tergesa-gesa dan menabrak orang Jepang, sebelum kita sempat mengatakan maaf, orang Jepang dengan cepat akan mengatakan maaf kepada kita. Demikian juga apabila kita bertabrakan sepeda dengan mereka. Tidak peduli siapa yang sebenarnya pada pihak yang salah, mereka akan secara refleks mengucapkan gomennasai (maaf).

Kalau moral dan sifat-sifat sederhana dari orang Jepang, seperti malu, hidup ekonomis, menghormati orang lain sudah sangat jauh melebihi kita, ditambah dengan majunya perekonomian dan sistem kehidupan. Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita, hal baik apa yang kira-kira bisa kita banggakan sebagai bangsa Indonesia kepada mereka ?

Bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh dan tidak mengerti moral. Kita bisa menyaksikan bahwa mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar Jepang, Jerman, Amerika dan di negara -negara lain, banyak sekali yang berprestasi dan tidak kalah secara ilmu dan kepintaran. Demikian juga kalau kita bandingkan bagaimana para pengamat dan komentator Indonesia menguraiakan analisanya di televisi Indonesia. Selama hidup 8 tahun di Jepang penulis belum pernah menemukan analisa pengamat dan komentator di televisi Jepang yang lebih hebat analisanya daripada pengamat dan komentator Indonesia. Dan ini menyeluruh, dari masalah ekonomi, politik, sistem pemerintahan bahkan sampai masalah sepak bola.

Akan tetapi sangat disayangkan bahwa fakta menunjukkan, secara politik dan sistem pemerintahan kita tidak lebih stabil daripada Jepang, secara ekonomi kita jauh dibawah Jepang. Dalam masalah sepakbola juga dalam waktu singkat Jepang sudah berprestasi menembus 16 besar pada piala dunia tahun 2002 ini, sementara kita sendiri masih berputar-putar dengan permasalahan yang tidak mutu, dari masalah wasit, pemain sampai kisruhnya suporter.

Mengambil pelajaran dari kasus yang telah diuraikan penulis diatas. Ternyata kepintaran dan kepandaian otak kita adalah tidak cukup untuk membawa kita menuju suatu komunitas yang terdidik. Justru sikap dan prinsip hidup yang sebenarnya terlihat sederhana itulah akan secara silmultan membentuk suatu bangsa menjadi bangsa besar dan berperadaban.

Sumber : http://romisatriawahono.net/?p=95#more-95
Tanggal akses : 15 Februari 2006

Friday, February 03, 2006

Batu Besar Penghalang Jalan


Ada batu besar yang mengahalangi perjalanan sebuah rombongan, alhasil di dalam rombongan itu terdapat penyikapan-penyikapan yang berbeda, ada yang cuek dan berpangku tangan pada orang lain, ada yang ngedumel tanpa melakukan apa-apa, ada yang terlalu lama membicarakan konsep bagaimana cara menyingkirkan batu tersebut, hingga pada akhirnya terlalu banyak waktu yang terbuang, ada juga yang benar-benar terlihat tolol dengan berusaha memecahkan batu menggunakan pahat dan palu, padahal jelas-jelas batu tersebut butuh waktu yang tidak sedikit.

Wednesday, January 11, 2006

E-Learning & E-Book


Informasi :

Untuk yang mau ikut e-learning gratis dari ilmukomputer.com, bisa akses ke sini, semoga bermanfaat.


Untuk mendapatkan e-book gratis bisa akses ke sini, jenis bukunya lumayan variatif, bukan cuma IT aja --walaupun kebanyakan jenis ini--, semoga bermanfaat.

Monday, January 09, 2006

Astaga...


kamu duduk manis di sini, stop dan cukup bermain-mainnya, oke sekarang kerjakan tugas dan jangan jail lagi, ini sapu tangan, ayo seka ingus kamu, sekarang tahu akibatnya kan kalo bermain dengan hujan sedangkan kamu sendiri sedang tidak dalam kondisi yang baik, nah, bagus. kalo mau main keluar selesaikan dulu tugas-tugas mu, inget ya jadi anak manis, duduk rapi, pegang pinsil kamu dan kerjakan tugas menggambarmu, kamu boleh menggamabar apa saja sesuka hatimu, bukan rapihnya (karena sedikit kesalahan) atau tepatnya sudut atau proporsionalnya garis yang kamu buat, yang saya nilai itu ketulusan kamu dalam menggambar, coba deh ekspresikan dirimu di lembaran itu sebebas-bebasnya, jangan takut salah dan teruslah belajar, suatu saat nanti kamu akan mengerti kenapa saya meminta begitu.

Thursday, December 29, 2005

Chatting 2 hari lalu


Chatting 2 hari lalu berbeda dari biasanya, karena gue online dengan tujuan ngobrol abis, biasanya online kalo memang ada perlu aja dengan pekerjaan, tapi kemarin nggak. Yeah online dari jam 11.00 sampe dengan 17.00 tanpa terhenti untuk idle karena ada aja teman yang bisa diajak ngobrol dan berkirim kabar. Mulai dari kodingan yang nggak tahu solusinya, nanya alamat blog, ada teman yang cerita mengenai pekerjaannya, cela-cela'an karena ada teman berasal dari daerah terpencil --nun jauh di sana-- baru pulang dari luar negeri, ada juga yang kirim berita mengenai keadaan teman yg di-Drop-Out sampai conference untuk berdiskusi masalah kambing dan pada akhirnya chatting terselesaikan gara-gara ada masalah di proxy servernya.


pada satu sesi (seingat gue) :

MIH : Gal, kayaknya WWPK di DO deh
gue : Ha ?, lo tau dari mana ?
MIH : Yee.. gue kan satu jurusan sama dia di Eletro, ya taulah gue
gue : kok bisa begitu man ?
MIH : Iya, padahal gue udah coba bantu ngerjain tugasnya, tapi dianya sendiri kayaknya kurang semangat
MIH : Di ITB ada tiga jenis DO, TPB, Tingkat 2-3 dan Sarjana, dia di DO Tingkat 2-3
gue : Hmm.. tebakan gue, anak ini kebanyakan kegiatan di luar
MIH : Yup betul sekali, gue pikir dia salah ngeset prioritas
gue : ...
MIH : ...

Yah kurang lebih itu potongan YM gue dan salah seorang teman SMA, WWPK ini teman sebangku gue ketika kelas 2, dari sejarahnya ketika masuk SMA masuk ke dalam 10 besar NEM tertinggi dari 624 siswa, di kelas 1 selalu juara 3 besar, kelas 2 masuk kedalam 3 besar juga, dan ketika lulus NEMnya juga sangat-sangat tinggi, dulu sewaktu sekelas, untuk semua mata pelajaran nggak ada yang nggak bisa, dari pelajaran IPA, IPS maupun Bahasa bisa dikuasai, setiap pagi ketika gue dateng ke kelas pasti bangku gue didudukin sama anak kelas lain yang nanya ke WWPK ini sebagai tutor yang baik hati, gue bisa sebangku sama WWPK karena hal konyol juga, biasanya ketika hari pertama masuk kan rebutan bangku tuh, karena gue terlambat akhirnya bangku yang tersisa adalah bangku di sebelahnya yang berada pada barisan ke dua dari depan --gue biasanya lebih milih baris-baris belakang kalo untuk urusan begini--, dari gosip-gosipnya yang lain juga pada canggung kalo duduk sama WWPK ini, karena dia nggak mau kasih contekan kalo lagi ulangan, yah udah nasib gue, sebenarnya nggak terlalu bermasalah juga sih, kecuali untuk mata pelajaran akuntansi, sejarah, seni musik dan agama islam, --gue mengkategorikan sebagai mata pelajaran hitung kancing dan untung-untungan--, WWPK siswa yang aktif, dari kelas 1 sudah ikut kegiatan-kegiatan sekolah (Remaja Masjid, Paskibra, KIR dll), selain itu WWPK gue kategorikan sebagai seorang yang sholeh, gue : "Biasanya loe tidur jam berapa ?", WWPK : "Tidur jam 9 malem terus bangun jam 3, sholat malam, terus belajar", gue "Tidur lagi gak ?", WWPK : "Nggak". Lah gue ?,(pokoknya beda 180 derajat) yang bisa gue banggain dari diri gue terhadap WWPK adalah gue lebih jago main catur --soalnya dia juga baru gue ajarin--, walhasil setiap istirahat gue sering diajak untuk sholat Dhuha, setiap sabtu selepas sekolah diajak ngaji dan dikenalin sama temen-temennya, kalo gue nggak ngerti mengenai pelajaran dan nanya sama dia, pasti dijelasin dengan detail. Sedangkan gue, WWPK lebih sering gue kerjain dan gue ajak bercanda, kalo pelajaran akuntansi gue ajak maen catur sambil ngumpet-ngumpet (gue bikin bidak pake kertas digambar dan sampul buku sebagai papan catur), pernah satu waktu ketika guru akuntasi mendekat ke arah kami yang sedang maen catur, akhirnya untuk penyelamatan gue tutup sampul buku, akibatnya catur yang dimainin berantakan, kita berdua cuma cengengesan aja setelah guru akuntansi menjauh, bwekek..kek..kek.. yang penting penyelamatan berhasil, kalo dipikir gue lebih merusak. Hmm setelah pisah kelas di kelas 3, WWPK juga masih sering gue kerjain, pernah satu saat ketika jam istirahat gue tulis di papan tulis "Met Ultah WWPK" gede-gede, dan keesokan harinya WWPK bagi-bagi kue, permen dan coklat di kelas, ngakunya sih Ultah beneran tapi gue nggak tahu bener apa nggak. Setelah lulus --dalam 4 tahun-- hanya 1 kali gue bisa ngobrol dengan WWPK, selebihnya entah no. hpnya gak bisa dihubungi, no. telp rumah yang biasa gue hubungi ketika SMA ternyata sudah berubah, alamat e-mail dari teman yang ngga valid, pokoknya sulit banget untuk kontak.

Setelah tahu kabar tersebut, ngenes juga, ini orang potensial banget sebenarnya, kalo orangnya kayak gue sih gak apa --begajulan--, duh.., seperti fenomena yang gue lihat juga ketika kuliah dulu, masalah aktivitas di luar akademis, gue suka melihat teman-teman gue dengan aktivitas yang banyak di luar akademis dengan tujuan berkontribusi untuk masyarakat, tapi kalo keadaan diri sendiri terabaikan gara-gara manajemen dan penentuan prioritas kurang baik gimana ?, tujuannya kan ingin memperbaiki keadaan, kok keadaan dirinya sendiri nggak diperhatikan, bukannya hal ini nantinya malah menambah masalah juga ?, lebih sering gue lihat memang pada akhirnya orang-orang tersebut harus berjuang sendirian, bukan karena nggak ada perhatian, tapi karena teman-teman yang lain juga sibuk dengan urusannya masing-masing. Walaupun, nggak jarang juga gue melihat ada teman-teman yang berhasil di kedua bidang tersebut (kegiatan akademis dan non akademis). Kalo dilihat dari tanggung jawab, gue pikir sangat sedikit orang tua yang mengingikan anaknya menjadi seorang aktivis ketika memasuki dunia perkuliahan , umumnya mereka menginginkan anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang baik karena sudah bersusah-payah menyediakan biaya pendidikan yang nggak kira-kira. Idealnya --menurut gue--, oke kegiatan non-akademis sebanyak apapun, tapi kegiatan akademis tetap harus diutamakan, jadi sesuaikan antara kemampuan diri dengan tanggung jawab yang dipegang.

Monday, December 26, 2005

916


ehmm... i'm stuck in this problem again, can't do anything, and there's no reference, i don't know what should i do, ehh.. junglish ?

menulis aneh, ada yang ingat tulisan di buku SD, terbitan depdikbud kurikulum 198* (lupa gue)


I3ud1 b3I2m41n b0l4

4d1k t1duI2 d1 k4m4I2

4y4h m3mb4c4 k0124n

1bu mem454k d1 d4pu12


pengen juga sekali-kali nulis di blog yang panjang pake tulisan aneh :D, dapet ide tulisan aneh dari chatt YM

Tadi malam


Tadi malam gue baru aja nonton film cast away, sebenarnya termasuk film jadul yak :D, mm.. tapi gue suka sedikit sama filmnya, terutama mengenai perjuangan aktor utamanya (chuck) cmiiw untuk bertahan hidup di pulau itu sendirian.

(potongan cerita) Karena sendirian dan gak ada teman akhirnya bola voli pun jadi teman dan diajak ngobrol, ketika pada satu saat dia melempar bola itu ke luar gua, dia sangat merasa menyesal dan benar-benar kehilangan, hingga pada akhirnya ditemukan juga dan dia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya itu.

Lagi, ketika chuck menceritakan bagaimana dia bisa bertahan hidup, lebih jauh motivasi apa yang ada di dalam dirinya, itu semua alami "just to keep breathing", dan ada satu kalimat yang bagus "bahwa matahari esok pagi akan selalu bersinar".

Pelajaran yang bisa didapat dari potongan cerita ini :

1. Manusia, alaminya, butuh seseorang/sesuatu di dalam hidupnya di dunia yang bisa diajak berbagi (*).
2. Betapa nilai persahabatan itu dijunjung tinggi ya ?, walau cuma sebuah bola voli, chuck sampe sebegitu emosionalnya.
3. Kalo kata Ace "John, saya percaya bahwa di sana selalu ada harapan", yeah optimisme, that's great.


loncat (1)
Within You Without You

We were talking - about the space between us all
And the people - who hide themselves behind a wall of illusion
Never glimpse the truth - then it's far too late when they pass away

We were talking - about the love we all could share
When we find it - to try our best to hold it there - with our love
With our love we could save the world - if they only knew

Try to realise it's all within yourself - no-one else can make you change
And to see you're really only very small
And life flows on within you and without you.

We were talking - about the love that's gone so cold
And the people who gain the world and lose their soul
They don't know, they can't see - are you one of them ?

When you've seen beyond yourself
then you may find peace of mind is waiting there
And the time will come when you see we're all one
And life flows on within you and without you


Lagu di atas dibuat dan dinyanyikan oleh george harison --salah satu personel the beatles--, mmm.. dia emang agak filosofis kalo bikin lirik lagu. Hmm... jadi terbesit untuk cari instrumen yang dimainkan full pake sitar.

loncat (2)
mp(mba psikolog) : kamu punya masalah dalam mengambil keputusan ?

gue : mmm nggak juga mba, mungkin ketika saya mengambil sebuah keputusan, saya lebih mempertimbangkan keadaan orang di sekitar saya, apa dampak dari keputusan yang saya ambil terhadap orang-orang tersebut.

mp : hmmm, kok beda ya ?, dari hasil tes, kamu itu cendrung untuk bersikap nggak mau ambil pusing dan masa bodoh alias cuek.

gue : hmm.. begitu ya mba,(dalam hati) ternyata gue begitu ya menurut hasil tes, ini yang bener hasil tes atau saya ya mba ?


(*) ada pemikiran aneh di dalam kepala gue :D.

Tuesday, December 20, 2005

Mengapa Blog ?


Blog, ekspresi diri seseorang/kelompok dalam tulisan, blog berjenis A dengan karakternya masing-masing menceritakan kegiatan yang dialami individu, atau blog berjenis B dengan isi yang memang ditujukan untuk berbagi informasi, buku, hobi, dan masih banyak lagi. Penulis wajib mengetahui bahwa tulisannya bisa diakses oleh siapapun di belahan dunia ini --dengan akses internet tentunya--, dengan berbagai macam interpretasi dan latar belakang pembaca yang berbeda-beda. Jadi alangkah baiknya --dan memang sudah seharusnya-- (menurut saya) bahwa si penulis bertanggung jawab penuh terhadap tulisannya dan tentunya sebagai keharusan, si pembaca harus bisa memilah dengan cermat.

Kalo dicermati sebenarnya blog itu --gue pikir-- sarana yang sangat efektif untuk pembentukan opini, opini dalam hal apapun, terkadang ada penulis yang menceritakan mengenai pengalamannya ketika berbelanja di mall tertentu dengan penyebutan nama, secara tidak langsung di sini blog bisa dikategorikan sebagai media promosi, atau ada juga yang menceritakan pengalamannya di tempat dia bekerja, sedikit banyak kita bisa mengetahui bagaimana kebijakan atau manajemen perusahaan/lembaga tempat dia bekerja, dan secara tidak langsung kalo satu waktu kita membutuhkan produk atau jasa yang kebetulan disediakan oleh perusahaan tersebut, minimal kita bisa mendapatkan satu rujukan, lagi-lagi media promosi.

Lain lagi jika ada penulis yang menyampaikan pengalamannya di negeri lain, seperti pada tulisan gue sebelumnya "Wak...waw..", informasi seputar daerah yang ditinggalinya gue pikir sangat menarik, mengenai adat istiadat, kebudayaan, dan sifat-sifat masyarakatnya, hmm kalo di sini blog bisa jadi sarana penyebar informasi.

Sepertinya tulisan gue sudah mulai ngawur, btw gue jadi bertanya-tanya, jenis blog gue apa ya ?, temanya gak jelas dan lompat-lompat. Gue juga sebenarnya bukan jenis orang yang rajin menulis, kayaknya lebih suka untuk membaca blog orang lain, hmm blog ini juga baru diupdate kurang lebih 4 bulan lalu, itu juga karena ada yang nanya alamat blog gue apa, hehh.. udah dulu nulisnya.

Thursday, December 15, 2005

Wak...waw...



Wajah orang itu, lekukannya menggambarkan keras kehidupan, sesekali wajah itu hilang seiring hilangnya lampu jalan, kemudian muncul lagi dan berulang, di dalam bis yang pengap dan jalanan macet, lebih dari 6 lagu dibawakan, hanya bermodal kunci D, G dan A, hanya saja terkadang antara lagu dan kunci yang dimainkan gak pas, logat jawa, rambut gondrong klimis, tubuh kurus, celana jeans bolong dan dekil, baju lengan panjang, salah satu gambaran kota jakarta.

Yo, mas !! golek urip (baca : cari penghidupan), mungkin panggilan itu tidak berpengaruh ya mas, yang penting hari ini perut bisa keisi, pikiran bisa sedikit tentram, masalah besok bagaimana itu urusan nanti, hari ini ya hari ini, besok ya besok :D. Mas, coba loe bisa akses internet kayak gue, ha..ha..ha.. loe bisa melihat sedikit dunia mas, banyak banget informasi yang bisa didapat, dunia loe gak sebatas emperan, warteg, bus kota atau tempat-tempat tongkrongan, loe bisa tahu kalo di luar negeri sana ada hujan salju, festival kesenian, adat istiadat, kebudayaan, tempat-tempat yang indah dan sebagainya. Mas, di satu waktu loe bisa iri dengan kehidupan orang-orang yang lebih baik dari loe, tapi di satu waktu juga loe bisa merasa sangat bersyukut atas semua hal yang loe dapat saat ini. Yeah mas, bicara masalah kehidupan, gue ngaku kalah deh, pasti loe lebih dari gue, ampun... bos !!, kita cengengesan aja mas he..he..he.., yang penting terus berusaha dan berdoa mas, kalo bisa kita injak-injak aja mas yang namanya keluh kesah.

Sunday, December 11, 2005

Kumpulan Puisi

Mode : gak jelas
Tipe : puisi
Manfaat : minus



Mengantuk.

Aku merasa sangat mengantuk...
Ughh.. aku benar-benar mengantuk...
Aku.. aku... menguap..
Huammm...wamm..wamm.. wamm..mmmmuuuaaahhh... (lho ?)


Say

Say.. aku merasa membutuhkanmu
Say.. keberadaanmu sangat berarti untukku
Say.. sarimu mengalir dalam darahku
Setiap hari, aku berharap ..
Engkau bagian tak terpisahkan dari keseharianku..
Say... please ya selalu hadir..

say... say...
Sayurr...., aku mau makan sayur.....


Nantikan puisi gue yang lain

ps : jadi inget film doraemon, giant yang suka nyanyi

Thursday, December 01, 2005

Log Harian


Sebenarnya menulis LOG harian itu penting, tapi kok untuk kontinu sulit rasanya, log cukup sederhana dan nggak terlalu detail, berupa point-point atau coret-coretan, yang perlu diperhatikan mungkin manajemen log tersebut, mulai dari frekuensi menulis dan media penyimpanannya, tulisan-tulisan sederhana tersebut akan terasa bermanfaat kalo kembali dilihat dalam jangka waktu tertentu untuk penilaian, apakah waktu yang kita gunakan hari itu efektif --belum sampai taraf efisien-- atau sebaliknya, bisa juga untuk sekedar mengingat kejadian hari itu yang cukup berkesan, jadi mirip diary. Jadi ingat, ketika zaman KP (Kerja Praktek) dulu, Mr. X selalu mengingatkan untuk rajin menulis log (termasuk unsur penilaian juga sih), "saya tidak melihat hasil, tapi proses" katanya, dan ketika harus bertemu (untuk hal sesederhana apapun) gue diharuskan membawa catatan dan alat tulis, dengan tujuan, pertemuan itu bukan sekedar pertemuan tapi ada sesuatu yang dibicarakan dan hasilnya TERTULIS. Mr. X, thanks untuk pelajarannya.

Menikmati cuaca


Ada seorang berkomentar mengenai cuaca, "bagi saya, cuaca yang bagus itu bukan digambarkan dengan birunya langit ataupun cerahnya sinar matahari, cuaca yang bagus itu adalah cuaca yang diakibatkan oleh perubahan yang cepat", wajar aja, yang berkomentar itu seorang fotografer, soalnya yang bersangkutan ingin mendapatkan gambaran yang ekstrim mengenai perubahan cuaca.

Kalo gue, yeah.. nikmati aja cuaca yang ada hari ini, hujan, cerah, mendung, it's oke, tergantung gimana cara menikmatinya, kalo sekarang ini (mendung dan hujan) tinggal cari waktu yang tepat, biasanya (menurut pengamatan gue) kalo sore hari hujan lebat, malam harinya langit cerah banget, bisa lihat benda-benda angkasa dengan jelas, atau kalo hujan itu berlangsung di malam hari, biasanya udaranya dingin menusuk, kopi,teh atau susu coklat panas oke untuk menikmati suasana tersebut and just listen your favorite songs.