Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan
Semoga kita selalu berada dalam kebaikan dan termasuk orang yang kembali pada fitrah
Mohon maaf lahir dan batin atas semua kesalahan, terima kasih untuk semuanya atas segalanya.
catatan :
Yang punya piutang sama gue harap segera ditagih, baik materi maupun non-materi.
Friday, October 12, 2007
Sunday, September 30, 2007
Within You Without You
We were talking-about the space between us allAnd the people-who hide themselves behind a wall of illusionNever glimpse the truth-then it's far too late-when they pass away.
We were talking-about the love we all could share-when we find itTo try our best to hold it there-with our loveWith our love-we could save the world-if they only knew.
Try to realise it's all within yourself No-one else can make you change And to see you're really only very small, And life flows ON within you and without you.
We were talking-about the love that's gone so cold and the people,Who gain the world and lose their soul-They don't know-they can't see- are you one of them?
When you've seen beyond yourself-then you may find, peace of mind,Is waiting there-And the time will come when you seewe're all one, and life flows on within you and without you.
~George Harrison
We were talking-about the love we all could share-when we find itTo try our best to hold it there-with our loveWith our love-we could save the world-if they only knew.
Try to realise it's all within yourself No-one else can make you change And to see you're really only very small, And life flows ON within you and without you.
We were talking-about the love that's gone so cold and the people,Who gain the world and lose their soul-They don't know-they can't see- are you one of them?
When you've seen beyond yourself-then you may find, peace of mind,Is waiting there-And the time will come when you seewe're all one, and life flows on within you and without you.
~George Harrison
Sunday, September 23, 2007
Drama
Selama satu tahun terakhir ini gue diberi kesempatan untuk sedikit melihat kehidupan masyarakat Indonesia, tidak seluruhnya dan tidak secara mendalam pula, tapi cukup mewakili. Dan berbahagialah gue, karena yang gue temui adalah orang biasa, tidak memiliki jabatan penting atau harta yang banyak, tapi kaya dengan perjuangan hidupnya di bumi Indonesia, mungkin pada saatnya nanti gue akan menuliskannya.
Bahwa tanah ini kaya akan sumberdaya alam yang berlimpah tidak diragukan. Sejauh yang benar-benar gue lihat berupa : kayu-kayuan, tanaman budidaya, ikan-ikanan dan mineral logam. Keindahan alamnya juga luar biasa : laut, pantai, gunung, hutan dan persawahan. Ketika menikmatinya sendirian, kadang terucap syair seorang Gibran yang sempat gue baca di salah satu mini-market yang berada di daerah Waru - Surabaya, kira-kira begini "laut adalah saudara perempuanku, gunung adalah saudara lelakiku, kami adalah satu dalam kesendirian". Juga, adat istiadat dan kebudayaan yang beraneka ragam, bagi gue hal tersebut benar-benar kekayaan bangsa yang sangat bernilai.
Melimpah kekayaan sumberdaya alamnya, elok keindahan alamnya, kaya budaya dan adat-istiadatnya, terkalahkan oleh hal bernama kemiskinan, laut dan pantai adalah salah satu penandanya.
Bahwa tanah ini kaya akan sumberdaya alam yang berlimpah tidak diragukan. Sejauh yang benar-benar gue lihat berupa : kayu-kayuan, tanaman budidaya, ikan-ikanan dan mineral logam. Keindahan alamnya juga luar biasa : laut, pantai, gunung, hutan dan persawahan. Ketika menikmatinya sendirian, kadang terucap syair seorang Gibran yang sempat gue baca di salah satu mini-market yang berada di daerah Waru - Surabaya, kira-kira begini "laut adalah saudara perempuanku, gunung adalah saudara lelakiku, kami adalah satu dalam kesendirian". Juga, adat istiadat dan kebudayaan yang beraneka ragam, bagi gue hal tersebut benar-benar kekayaan bangsa yang sangat bernilai.
Melimpah kekayaan sumberdaya alamnya, elok keindahan alamnya, kaya budaya dan adat-istiadatnya, terkalahkan oleh hal bernama kemiskinan, laut dan pantai adalah salah satu penandanya.
Saturday, September 22, 2007
Pisang
Jika dalam novel rumah kaca dikatakan bahwa "negara yang bisa mendunia adalah negara yang menjajah", spertinya benar juga. Negara adidaya dengan segala jargon demokrasi, hak azasi & kemanusiaan serta kemerdekaan pada akhirnya menjajah negara yang lebih lemah. Setiap kebijakan diatur sesuai keinginannya. Menjalari kehidupan setiap orang dalam negara jajahan dengan penderitaan. Baik dengan cara yang kentara ataupun tersamar. Dengan senjata ataupun dengan pisang berwarna kuning terang tanpa bercak --seperti buah-buahan kayu-- yang dijajakkan pedagang buah trotoar jalan. Alternatif hidup seseorang di negara terjajah benar-benar berkurang. Tunduk dalam suatu kekuatan bernama modal.
Saturday, September 15, 2007
Sup Ikan Bandeng
Bahan dasar :
- Ikan bandeng basah
- Bawang merah 4 buah
- Bawang putih 2 buah
- Cabai merah 2 buah
- Jahe 5 X 3 cm
- Kunyit 5 X 1 Cm
- Jeruk nipis 1 buah
- Daun bawang & seledri
- Garam secukupnya
- Panci kecil
- Pengaduk
- Garpu
- Bersihkan ikan bandeng --sisik, isi perut dan insangnya, lalu potong menjadi beberapa bagian, seekor menjadi 3 bagian sepertinya paling oke.
- Bersihkan dan iris bumbu-bumbu yang telah disediakan sebelumnya, lalu rebus di dalam panci dengan air bervolume kira-kira 800 ml hingga mendidih.
- Masukkan potongan ikan bandeng ke dalam rebusan air bumbu tersebut, lalu tambahkan garam secukupnya.
- Aduk sesekali & tunggu hingga daging ikan bandeng empuk
- Hidangkan sup ikan di dalam sebuah mangkuk lalu beri perasan jeruk nipis
- Sup ikan bandeng siap disajikan
- Nimati sup ikan bandeng selagi panas dengan suasana malam hari & ada rintik-rintik hujan :D
- Tepat bagi yang mempunyai masalah dengan makanan berminyak dan/atau pedas
Wednesday, September 05, 2007
Bukan penyair
Kulumuri mata panah ini dengan racun terbaik, bisa ular dan getah tanaman hitam, hingga saatnya nanti, sedikit saja menggores kulit si korban, tak lama ia akan mengerang kesakitan dengan rasa tak tertahankan, hanya menunggu waktu hingga satu saat nafasnya terhenti. Tak lupa mandau, belati dan tombak yang akan terhunus garang meminta getah kehidupan lawan. Aku akan siap berdiri di tanah lapang dengan semua itu. Majulah kalian dari seluruh penjuru mata angin, perangi diriku dengan segenap tenaga, dera kuda-kuda perang kalian sekuat-kuatnya, hantam dan luluhlantakkan tubuhku dengan senjata-senjata terbaik yang kalian miliki. Kutahu, bukan kemenangan yang akan kudapatkan, bahkan hanya kebinasaan yang kuperoleh. Bagi diriku, hal itu adalah pencapaian.
Sunday, September 02, 2007
Fasilitas Lebih
Bagi pengguna angkutan umum, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kenyamanan dalam bepergian. Definisi kenyamanan bisa diidentikkan dengan ketersediaan fasilitas serta pelayanan yang diberikan armada transportasi, ketertiban dan kelancaran berlalulintas. Kemaceta lalu-lintas merupakan rutinitas bagi mereka yang kesehariannya beraktivitas di kota Jakarta atau sekadar melewatinya saja. Tapi, rasanya hal tersebut tidak berlaku untuk segelintir oknum pejabat tinggi yang memanfaatkan fasilitas lebih. Lebih karena mereka memiliki tim pembuka jalan, entah dimanapun, baik di ruas jalan tol atau umum, separah apapun kemacetannya mereka selalu bisa mendahului kendaraan yang lain diiringi suara sirine meraung dan pengeras suara.Pernah pada satu saat gue harus menunggu kurang lebih 20 menit untuk memasuki tol karena ada iringan mobil oknum pejabat tinggi yang akan lewat, isi kendaraan yang gue tumpangi penuh dengan orang-orang yang selesai beraktivitas selama seharian, yang jelas mereka ingin cepat sampai di rumah dan segera melepas lelah. Di bangku lain ada anak balita yang menangis keras karena tidak nyaman dengan keadaan saat itu, panas, asap buangan serta bisingnya suara deru mesin kendaraan yang bercampur jadi satu. Entah di bangku lain apa keperluan dari masing-masing orang, sama seperti gue, yang pasti mereka ingin segera sampai tujuan. Sementara kami harus menunggu oknum pejabat tinggi tersebut melintas, baru setelahnya kami diperbolehkan memasuki tol.
Benar-benar membingungkan perilaku oknum pejabat tinggi tersebut, secara sederhana kemacetan adalah realita kota Jakarta, kenapa untuk hal sesederhana itu mereka mengelak untuk merasakannya, rasanya seperti hidup dalam dunia imajiner saja. Jika ingin sampai tempat tujuan, toh pengguna jalan yang lain juga ingin. Kadang juga terdengar celoteh penumpang lain yang seolah mentolerir perilaku tersebut, wajar karena yang lewat adalah pejabat tinggi negara yang punya urusan super penting, jadi harus diutamakan. Hmm, sayangnya hasil kerjanya berkebalikan :P.
Sunday, August 19, 2007
Air Jeruk Panas
Kisahnya mengenai usaha untuk sedikit memanjakan diri di malam hari, sembari nonton film di televisi, ingin juga meredakan FLU yang tak kunjung sembuh. Terbesitlah untuk membuat air jeruk panas, jeruk dipilih, diiris dengan pisau, diperas ke dalam gelas, lalu air perasan tersebut dibersihkan dari bijinya, setelah itu ditambahkan gula secukupnya, seduh dengan air panas dan akhirnya diaduk agar semuanya tercampur.Direguklah minuman tersebut untuk pertama kalinya, sensasi yang dicari dan diharapkan ternyata buyar serta merta lantaran air jeruk bercampur dengan rasa bawang merah :D, selidik punya selidik ternyata pisau yang digunakan, sebelumnya dipakai untuk mengiris bawang merah, aih.. sayang sekali jika dibuang, akhirnya tetap juga diminum, hingga pada regukan terakhir mendapatkan bonus sebuah potongan siung bawang merah yang masih muda.
Antara perasaan kesal dan gembira, rasa yang tidak diharapkan tapi jika dipikirkan ternyata punya nilai filosofis. Bahwa setiap hal (kehidupan ?) yang sudah terencana, terukur serta terlaksana sesuai dengan prosedur bisa saja menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, kemungkinan faktor X muncul pasti ada, entah seberapapun kecil persentasenya. Usaha yang mungkin adalah membuat persentase kemunculan faktor X menjadi sekecil mungkin. Rencana, Prosedur, Hasil dan Faktor X. Begitulah kisahnya, mudah-mudahan tidak terulang, jangan sampai nanti muncul air jeruk rasa cabai, ikan atau cumi-cumi :D.
ps : Sejauh yang penulis tahu, vitamin C akan terurai jika berada dalam keadaan panas, jadi berharap mendapatkan asupan vitamin C dari air jeruk panas kayaknya ngga ngaruh deh
Tuesday, July 31, 2007
Laporan Pengamatan
Ya, sudah dua hari ini bulan purnama, langitnya juga cerah, bagus, tapi kok bintang-bintangnya ngga kelihatan. Sekarang musim kemarau ya, di siang hari hingga menjelang malam suasananya hangat, menjadi dingin jika sudah mendekati pagi. Eh, tapi jauh lebih baik melihat bulan di malam hari dibandingkan melihat spanduk, umbul-umbul, atribut-atribut pilkada DKI. Berulang kali, masa kampanye sama dengan masa berjanji, semua sama saja, yang sudah-sudah, janji tinggal janji, lempar janji sembunyi aksi jadi paten, ha..ha..ha..ha. (hush!!). Gombal ah....
Monday, July 23, 2007
huh...
Warna perjalanan
Cantik, indah, elok, kagum tanpa batas sampai mabuk kepayang
Tapi selalu, di balik semua itu tersingkap cuplikan kehidupan
Dinginnya menelisik tajam hingga ke sumsum, tersembunyi di balik selimut keindahan
Cantik, indah, elok, kagum tanpa batas sampai mabuk kepayang
Tapi selalu, di balik semua itu tersingkap cuplikan kehidupan
Dinginnya menelisik tajam hingga ke sumsum, tersembunyi di balik selimut keindahan
Sunday, June 24, 2007
Terima kasih butir-butir nasi
Pada pagi yang cerah di sebuah desa kecil, di salah satu rumah ada seorang anak yang sangat nakal, pagi itu ibunya menyiapkan sarapan sepiring nasi, lengkap dengan lauk-pauknya, berulang kali ibunya menyuruhnya untuk memakan sarapannya, tapi si anak nakal selalu enggan, dengan kesabaran dan kasih sayang, akhirnya si Ibu dapat membujuk anaknya untuk memulai sarapannya --dengan terpaksa tentunya--, ketika si Ibu meninggalkan rumah untuk pergi berbelanja ke Pasar, si anak nakal seolah mendapatkan angin segar untuk bertindak semaunya, akhirnya ia membuang nasi sarapannya ke tempat sampah.
Ternyata di tempat sampah butir-butir nasi tersebut bisa berbicara satu sama lain, mereka menangis sedih, "hu..hu..hu.. kita kok ngga dimakan sih", "keberadaan kita disia-siakan". Ketika hari menjelang siang, si anak nakal bermain ke luar rumah, tidak tanggung-tanggung, tempat main yang ditujunya adalah hutan yang terkenal menakutkan, setiap orang tua di desa tersebut sudah memperingatkan anak-anak mereka untuk tidak menuju tempat tersebut karena di sana ada raksasa pemakan manusia, tapi karena memang kenakalan si anak, akhirnya ia berkeras menuju tempat tersebut. Ketika ia berada di dalam hutan, semua binatang yang berjumpa dengan si anak nakal telah memperingatkan untuk tidak terlalu bermain jauh ke dalam hutan, karena ada raksasa pemakan manusia yang akan memangsa jika dia mencium bau manusia.
Si anak nakal keras kepala, tidak mengindahkan nasihat yang disampaikan kepadanya, ketika berada di dalam huta ia bertemu dengan raksasa pemakan manusia, lari tunggang-langgang menghindar, hingga pada akhirnya ia kehabisan tenaga, ia hanya bisa duduk dan menangis tersedu menunggu ajalnya seiring keberadaan raksasa yang mendekat dan berkata "aku mencium bau manusia, aku ingin memakannya, aku lapar...", beruntunglah penduduk kampung sekitar dapat segera menemukannya dan membawa dirinya ke luar dari hutan, sehingga nyawanya dapat diselamatkan. Penduduk kampung segera mencarinya segera setelah ada pemberitahuan dari Ibu anak tersebut yang khawatir terhadap keberadaan anaknya.
Pada akhirnya, si anak menyadari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, tidak menuruti nasihat orang tua dan hal yang paling penting, membuang nasi, sekiranya ia menghabiskan sarapannya, kemungkinan ia memiliki tenaga yang lebih banyak untuk menyelamatkan dirinya, ia benar-benar sangat menyesal telah membuang sarapannya.
Potongan cerita di atas adalah salah satu episode dari fim Si Unyil yang masih gue ingat, karena cukup berkesan. Setidaknya sejak saat itu, ketika makan, gue berusaha untuk selalu menghabiskannya, yang gue pahami bahwa ketika nasi-nasi itu masuk ke dalam mulut, lalu menghilang ke dalam perut –belum tahu sistem pencernaan-- , seketika itu juga mereka pasti merasa sangat senang dan ketawa-tawa karena tidak disia-siakan walaupun keberadaannya ngga ada lagi. Saat ini, hal ini jadi salah satu hal njelimet juga kalo dipikirkan lebih dalam. Kehidupan yang berarti, fungsi keberadaan :D. Terima kasih butir-butir nasi.
Ternyata di tempat sampah butir-butir nasi tersebut bisa berbicara satu sama lain, mereka menangis sedih, "hu..hu..hu.. kita kok ngga dimakan sih", "keberadaan kita disia-siakan". Ketika hari menjelang siang, si anak nakal bermain ke luar rumah, tidak tanggung-tanggung, tempat main yang ditujunya adalah hutan yang terkenal menakutkan, setiap orang tua di desa tersebut sudah memperingatkan anak-anak mereka untuk tidak menuju tempat tersebut karena di sana ada raksasa pemakan manusia, tapi karena memang kenakalan si anak, akhirnya ia berkeras menuju tempat tersebut. Ketika ia berada di dalam hutan, semua binatang yang berjumpa dengan si anak nakal telah memperingatkan untuk tidak terlalu bermain jauh ke dalam hutan, karena ada raksasa pemakan manusia yang akan memangsa jika dia mencium bau manusia.
Si anak nakal keras kepala, tidak mengindahkan nasihat yang disampaikan kepadanya, ketika berada di dalam huta ia bertemu dengan raksasa pemakan manusia, lari tunggang-langgang menghindar, hingga pada akhirnya ia kehabisan tenaga, ia hanya bisa duduk dan menangis tersedu menunggu ajalnya seiring keberadaan raksasa yang mendekat dan berkata "aku mencium bau manusia, aku ingin memakannya, aku lapar...", beruntunglah penduduk kampung sekitar dapat segera menemukannya dan membawa dirinya ke luar dari hutan, sehingga nyawanya dapat diselamatkan. Penduduk kampung segera mencarinya segera setelah ada pemberitahuan dari Ibu anak tersebut yang khawatir terhadap keberadaan anaknya.
Pada akhirnya, si anak menyadari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, tidak menuruti nasihat orang tua dan hal yang paling penting, membuang nasi, sekiranya ia menghabiskan sarapannya, kemungkinan ia memiliki tenaga yang lebih banyak untuk menyelamatkan dirinya, ia benar-benar sangat menyesal telah membuang sarapannya.
Potongan cerita di atas adalah salah satu episode dari fim Si Unyil yang masih gue ingat, karena cukup berkesan. Setidaknya sejak saat itu, ketika makan, gue berusaha untuk selalu menghabiskannya, yang gue pahami bahwa ketika nasi-nasi itu masuk ke dalam mulut, lalu menghilang ke dalam perut –belum tahu sistem pencernaan-- , seketika itu juga mereka pasti merasa sangat senang dan ketawa-tawa karena tidak disia-siakan walaupun keberadaannya ngga ada lagi. Saat ini, hal ini jadi salah satu hal njelimet juga kalo dipikirkan lebih dalam. Kehidupan yang berarti, fungsi keberadaan :D. Terima kasih butir-butir nasi.
Thursday, April 19, 2007
Wanita Boyolali
Ya, saat ini aku akan memanfaatkan waktu dengan lembaran karton hasil pemberian mbak yuniati, tadi setelah ia membeli beberapa potong asinan nenas dan kedondong aku memberanikan diri untuk meminta beberapa lembar karton yang terserak di sekitar bangunan yang dikhususkan untuk pengepakkan buku. Saat ini beberapa lembar sudah kugunting membentuk beberapa potongan hati dan kulekatkan dengan beberapa isolasi penempel, rencananya, setelah pekerjaan ini selesai nantinya akan kugabungkan dengan hiasan dari pipa minuman berwarna hijau yang kujalin sedemikian rupa sehingga berbentuk sulur tumbuhan merambat.
Sembari kulipat dan kulekatkan guntingan-guntingan ini aku kembali teringat adikku di Boyolali, masih kuingat isak tangisnya ketika aku pergi meninggalkannya menuju Ibu Kota, “mbakyu mau pergi ke Jakarta, supaya kamu bisa tetap sekolah, punya baju bagus dan mainan, terus bisa tetap bermain bersama teman-teman yang lain”, kataku, “kenapa harus ke Jakarta mbak ?”, selanya teriring ingus dan air mata, “katanya di sana banyak kesempatan untuk dapat pekerjaan, nanti punya banyak uang, dan seperti mbakyu bilang sebelumnya, supaya kamu bisa tetap sekolah, bisa beli baju dan bisa beli mainan”. Pikirku, sejauh apapun penjelasanku sepertinya adikku belum bisa mengerti. Dan, disinilah aku, Jakarta, saat ini aku sangat berharap agar lamaran pekerjaan sebagai buruh yang kuajukan di beberapa pabrik mendapatkan jawaban, tak terkecuali pabrik percetakkan yang berada di sebelah kedai. Kata mbak yuniati, karena saat ini pabrik percetakkan sedang berada dalam masa produksi, kemungkinan penambahan pekerja kontrak akan dilakukan, pekerjaannya bermacam-macam, tapi yang dikhususkan bagi wanita adalah penempelan sampul buku dan pengepakkan. besar harapanku agar diterima, setelah sebelumnya aku pernah bekerja di pabrik tekstil di Boyolali, saat ini pabrik tersebut ditutup, entah apa sebabnya.
Kurang lebih 1 bulan aku bekerja di kedai ini, bersama sami, sepupuku. Kedai milik kenalan bulik menjual berbagai macam penganan, mulai dari kopi, teh, mie seduh, gorengan, nasi campur, ketupat sayur sampai asinan. Kedai ini juga baru saja berjalan bersamaan dengan kehadiran kami di Jakarta, Bu Darni pemilik kedai ini cukup baik, bisa menerima kami sebagai penjaga kedai, sedari awal ia juga mengutarakan bahwa kami belum bisa mendapatkan upah bulanan, tapi ia berjanji, jika nantinya kedai ini ramai pembeli dan bisa berkembang kami akan mendapatkan upah bulanan, untuk saat ini, sebagai gantinya, Bu Darni memperbolehkan kami untuk makan di tempat ini, selain itu jika ada sisa makanan yang tidak terjual boleh kami bawa pulang ke rumah kontrakkan, bagiku semua hal ini lebih dari cukup untuk keadaan saat ini.
Walaupun bekerja sebagai penjaga kedai sangat membosankan, aku akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk keluarga di Boyolali, Ibu dan adik, uang yang Bapak hasilkan dari bekerja sebagai buruh bangunan di sini kurang mencukupi, hanya untuk makan keseharian dan bayar tagihan listrik, yang menjadi api penyemangatku adalah upaya untuk menyekolahkan toro, adikku, setidaknya sampai jenjang kejuruan. Saat ini ia duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar, ia anak yang berprestasi, dengan segala kekurangan yang ada ia selalu berada pada rangking 3 besar di kelasnya, besar harapan pada adikku tersayang.
Ya!, sudah jadi rupanya, kubingkai 2 buah foto toro dalam figura kecil terpisah, foto yang dibuat ketika hari raya Idul Fitri kemarin, ia mengenakan kemeja lengan panjang tanpa kerah berwarna putih, tersemat sajadah di salah satu pundaknya, dan peci kecil di kepalanya, tak lupa senyum yang kuminta ketika akan difoto. Semuanya terhias dengan lambang hati tanda sayangku, tidak lupa untaian sulur plastik hijau, semoga rangkaian sederhana ini bisa menjadi penawar rasa rindu dikala jenuh.
Sembari kulipat dan kulekatkan guntingan-guntingan ini aku kembali teringat adikku di Boyolali, masih kuingat isak tangisnya ketika aku pergi meninggalkannya menuju Ibu Kota, “mbakyu mau pergi ke Jakarta, supaya kamu bisa tetap sekolah, punya baju bagus dan mainan, terus bisa tetap bermain bersama teman-teman yang lain”, kataku, “kenapa harus ke Jakarta mbak ?”, selanya teriring ingus dan air mata, “katanya di sana banyak kesempatan untuk dapat pekerjaan, nanti punya banyak uang, dan seperti mbakyu bilang sebelumnya, supaya kamu bisa tetap sekolah, bisa beli baju dan bisa beli mainan”. Pikirku, sejauh apapun penjelasanku sepertinya adikku belum bisa mengerti. Dan, disinilah aku, Jakarta, saat ini aku sangat berharap agar lamaran pekerjaan sebagai buruh yang kuajukan di beberapa pabrik mendapatkan jawaban, tak terkecuali pabrik percetakkan yang berada di sebelah kedai. Kata mbak yuniati, karena saat ini pabrik percetakkan sedang berada dalam masa produksi, kemungkinan penambahan pekerja kontrak akan dilakukan, pekerjaannya bermacam-macam, tapi yang dikhususkan bagi wanita adalah penempelan sampul buku dan pengepakkan. besar harapanku agar diterima, setelah sebelumnya aku pernah bekerja di pabrik tekstil di Boyolali, saat ini pabrik tersebut ditutup, entah apa sebabnya.
Kurang lebih 1 bulan aku bekerja di kedai ini, bersama sami, sepupuku. Kedai milik kenalan bulik menjual berbagai macam penganan, mulai dari kopi, teh, mie seduh, gorengan, nasi campur, ketupat sayur sampai asinan. Kedai ini juga baru saja berjalan bersamaan dengan kehadiran kami di Jakarta, Bu Darni pemilik kedai ini cukup baik, bisa menerima kami sebagai penjaga kedai, sedari awal ia juga mengutarakan bahwa kami belum bisa mendapatkan upah bulanan, tapi ia berjanji, jika nantinya kedai ini ramai pembeli dan bisa berkembang kami akan mendapatkan upah bulanan, untuk saat ini, sebagai gantinya, Bu Darni memperbolehkan kami untuk makan di tempat ini, selain itu jika ada sisa makanan yang tidak terjual boleh kami bawa pulang ke rumah kontrakkan, bagiku semua hal ini lebih dari cukup untuk keadaan saat ini.
Walaupun bekerja sebagai penjaga kedai sangat membosankan, aku akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk keluarga di Boyolali, Ibu dan adik, uang yang Bapak hasilkan dari bekerja sebagai buruh bangunan di sini kurang mencukupi, hanya untuk makan keseharian dan bayar tagihan listrik, yang menjadi api penyemangatku adalah upaya untuk menyekolahkan toro, adikku, setidaknya sampai jenjang kejuruan. Saat ini ia duduk dibangku kelas 4 Sekolah Dasar, ia anak yang berprestasi, dengan segala kekurangan yang ada ia selalu berada pada rangking 3 besar di kelasnya, besar harapan pada adikku tersayang.
Ya!, sudah jadi rupanya, kubingkai 2 buah foto toro dalam figura kecil terpisah, foto yang dibuat ketika hari raya Idul Fitri kemarin, ia mengenakan kemeja lengan panjang tanpa kerah berwarna putih, tersemat sajadah di salah satu pundaknya, dan peci kecil di kepalanya, tak lupa senyum yang kuminta ketika akan difoto. Semuanya terhias dengan lambang hati tanda sayangku, tidak lupa untaian sulur plastik hijau, semoga rangkaian sederhana ini bisa menjadi penawar rasa rindu dikala jenuh.
Sunday, April 08, 2007
Kilat sambar pohon kanari
Sudah kurang lebih 3 minggu ini beta tinggal di Salerang, kota yang terkenal akan anyaman bambu dan keindahan sungai cisadane, rupanya itu cuman untuk masa lampau yang telah liwat, tidak untuk kurun waktu ini, lagipula sulit nian menikmati sungai cisadane dengan airnya yang terlihat keruh dan sarat dengan sampah. Dari segi bahasa beta juga tidak suka dengan kata Salerang, akhiran bahasanya itu loh, bikin rasa di hati jadi kurang sreg, “rang”, terdengar identik dengan kata gersang, kerontang, alhasil gambaran yang terbentuk jadi kacau-balau, ei.. setelah sedikit putar-putar di beberapa daerah itu punya tempat, ternyata tak jauh menyimpang dari yang dibayangkan, kesan asri dan rapih cuman ada di perumahan yang terbilang hanya mampu ditempati oleh manusia dengan rogohan kocek tebal, tak lain dan tak bukan, tempat-tempat lainnya terkesan berantakan dengan ragam manusia umum Mindonesia, miskin dan kumuh. Ditambah lagi dengan santernya hembusan berita tentang endemik flu burung, menjadi-jadi sajalah. Tapi tak selalu juga, ada saja hal-hal menarik yang mengaburkan kesan ketidaksukaan beta pada daerah itu. Apa mau ditanya ?, cita-cita, pengharapan & pencapaian butuh pengorbanan, begitu kata seorang kawan.
Seperti biasa, di akhir minggu beta harus pergi ke dataran yang lebih tinggi, naik bendi, bendinya macam-macam saja, ada yang ditarik dengan keledai, kuda, sampi dan kerbau. Lain padang lain ilalang, di daerah lain belum tentu punya binatang penarik seperti keledai, kuda, sampi ataupun kerbau, adalah yang menggunakan kambing, ayam, kura-kura bahkan ikan lele. Masing-masing punya tarip berbeda. Beta naik bendi kerbau, jalannya lambat kali, aih.., tapi tak apa, tak terburu, kapasitasnya juga cukup banyak, bisa lihat macam-macam wajah manusia. Sambil menikmati persawahan, jembatan batu, serta tiang pancang kota, tak lupa seniman dadakan yang selalu hadir mengisi hiburan perjalanan.
Kurang lebih 1.5 jam beta sampai di KudaMati, dimana tempat pemberhentian bendi yang cukup besar berada, tak seperti sebelumnya, beta biasa membunyikan lonceng tanda berhenti di pasar kuwali, rupanya kali ini si sais tak mengarahkan bendinya melewati tempat tersebut, tapi benar-benar langsung masuk ke stasiun pemberhentian bendi “KumpulSemua”, suasana riuh-ramai, banyak pula orang lalu-lalang dengan tujuan kota berbeda.
Dengan bawaan yang sedikit merepotkan, setidaknya jadi objek atau calon menjanjikan bagi pertanyaan calo dan kuli angkut sekitar stasiun, hmm.. sudah beta pikirkan antisipasinya, biasanya, jika beta datangi tempat tersebut dengan rencana bepergian entah kemana, selalu saja orang-orang tersebut berebut, sekiranya terucap tempat tujuan, mereka bersikap seolah membantu dengan langsung bawa barang-barang beta punya ke bendi tujuan, tanpa izin pula, kadang juga jadi sarana pengganti tarik tambang, tarik sana-tarik sini, tak nyamanlah jadinya, beta bisa menentukan pilihan sendiri. Benar saja, seketika turun dari bendi langsung saja ada yang menghampiri, orang pertama “bade kamana A ?”, ngga bang, ke situ, dekat saja, “Kamana A ?”, hmm.. memang dari awal terlanjur jumud dengan hal seperti ini, langsung saja beta katakan “Panakukang”, “Ooohh… “ jawabnya. Langsung diam. Lanjut orang berikutnya yang sudah menunggu dengan jarak kurang lebih 10 m, “Mau kemana Mas ?”, waduh.. ada lagi, “Panakukang mas”. Diam dan wajah bingung. Lanjut. Sekumpulan orang yang berdiri tak jauh dari tempat sebelumnya, seorang dari mereka langsung mendekat, lalu bertanya “Ose mau kemana ?”, langsung beta jawab “Panakukang”. Wajah plongak-plongok berbarengan makin menjadi. Haiya, rupa-rupanya berhasil, sebagai informasi, Panakukang adalah sebuah daerah di salah satu gugusan kepulauan Mindonesia, Kulawesi namanya, bahkan ke daerahnyapun belum pernah, cuman sering terdengar selintas, mudah diingat karena unik. Akhirnya, beta memilih bendi kecil dengan penarik kura-kura, duduk manislah di bawah atap jerami bersama penumpang lainnya, selang waktu tak lama si sais tua bertubuh kecil dan berkumis putih panjang menjuntai mendera sang kura-kura. Selama perjalanan, antara rasa berhasil dan melamun, lalu teringat ucapan salah seorang teman sewaktu menyantap hidangan malam bersama, karena ada momen tertentu dia ucapkan “Hmm kupikir ada sisi di hati tuan yang telah mati…”. Seandainya beta sebutkan kemana tujuan, dan mereka memang tidak ada kepentingan dengan tempat tersebut rasa-rasanya merekapun akan bergerak mundur dan tidak bertanya. Kata seorang tua, “cobalah melihat dari sudut pandang lain, mereka bekerja, cari nafkah, mungkin untuk diri sendiri, mungkin juga untuk keluarga yang menunggu, benar toh ?. Keadaan yang memaksa mereka berbuat demikian. Harusnya sadar. Jangan jadi manusia yang pendek pikiran dan hampa kebijaksanaan lantaran emosi sudah menggunung. sabar nyo..”, begitu katanya.
Kilat sambar.. pohon kenari....
Ejo jaro deng mongare...
Seperti biasa, di akhir minggu beta harus pergi ke dataran yang lebih tinggi, naik bendi, bendinya macam-macam saja, ada yang ditarik dengan keledai, kuda, sampi dan kerbau. Lain padang lain ilalang, di daerah lain belum tentu punya binatang penarik seperti keledai, kuda, sampi ataupun kerbau, adalah yang menggunakan kambing, ayam, kura-kura bahkan ikan lele. Masing-masing punya tarip berbeda. Beta naik bendi kerbau, jalannya lambat kali, aih.., tapi tak apa, tak terburu, kapasitasnya juga cukup banyak, bisa lihat macam-macam wajah manusia. Sambil menikmati persawahan, jembatan batu, serta tiang pancang kota, tak lupa seniman dadakan yang selalu hadir mengisi hiburan perjalanan.
Kurang lebih 1.5 jam beta sampai di KudaMati, dimana tempat pemberhentian bendi yang cukup besar berada, tak seperti sebelumnya, beta biasa membunyikan lonceng tanda berhenti di pasar kuwali, rupanya kali ini si sais tak mengarahkan bendinya melewati tempat tersebut, tapi benar-benar langsung masuk ke stasiun pemberhentian bendi “KumpulSemua”, suasana riuh-ramai, banyak pula orang lalu-lalang dengan tujuan kota berbeda.
Dengan bawaan yang sedikit merepotkan, setidaknya jadi objek atau calon menjanjikan bagi pertanyaan calo dan kuli angkut sekitar stasiun, hmm.. sudah beta pikirkan antisipasinya, biasanya, jika beta datangi tempat tersebut dengan rencana bepergian entah kemana, selalu saja orang-orang tersebut berebut, sekiranya terucap tempat tujuan, mereka bersikap seolah membantu dengan langsung bawa barang-barang beta punya ke bendi tujuan, tanpa izin pula, kadang juga jadi sarana pengganti tarik tambang, tarik sana-tarik sini, tak nyamanlah jadinya, beta bisa menentukan pilihan sendiri. Benar saja, seketika turun dari bendi langsung saja ada yang menghampiri, orang pertama “bade kamana A ?”, ngga bang, ke situ, dekat saja, “Kamana A ?”, hmm.. memang dari awal terlanjur jumud dengan hal seperti ini, langsung saja beta katakan “Panakukang”, “Ooohh… “ jawabnya. Langsung diam. Lanjut orang berikutnya yang sudah menunggu dengan jarak kurang lebih 10 m, “Mau kemana Mas ?”, waduh.. ada lagi, “Panakukang mas”. Diam dan wajah bingung. Lanjut. Sekumpulan orang yang berdiri tak jauh dari tempat sebelumnya, seorang dari mereka langsung mendekat, lalu bertanya “Ose mau kemana ?”, langsung beta jawab “Panakukang”. Wajah plongak-plongok berbarengan makin menjadi. Haiya, rupa-rupanya berhasil, sebagai informasi, Panakukang adalah sebuah daerah di salah satu gugusan kepulauan Mindonesia, Kulawesi namanya, bahkan ke daerahnyapun belum pernah, cuman sering terdengar selintas, mudah diingat karena unik. Akhirnya, beta memilih bendi kecil dengan penarik kura-kura, duduk manislah di bawah atap jerami bersama penumpang lainnya, selang waktu tak lama si sais tua bertubuh kecil dan berkumis putih panjang menjuntai mendera sang kura-kura. Selama perjalanan, antara rasa berhasil dan melamun, lalu teringat ucapan salah seorang teman sewaktu menyantap hidangan malam bersama, karena ada momen tertentu dia ucapkan “Hmm kupikir ada sisi di hati tuan yang telah mati…”. Seandainya beta sebutkan kemana tujuan, dan mereka memang tidak ada kepentingan dengan tempat tersebut rasa-rasanya merekapun akan bergerak mundur dan tidak bertanya. Kata seorang tua, “cobalah melihat dari sudut pandang lain, mereka bekerja, cari nafkah, mungkin untuk diri sendiri, mungkin juga untuk keluarga yang menunggu, benar toh ?. Keadaan yang memaksa mereka berbuat demikian. Harusnya sadar. Jangan jadi manusia yang pendek pikiran dan hampa kebijaksanaan lantaran emosi sudah menggunung. sabar nyo..”, begitu katanya.
Kilat sambar.. pohon kenari....
Ejo jaro deng mongare...
Monday, March 12, 2007
Katanya Sih...
Orang yang sukses dalam profesinya adalah orang yang tidak bisa membedakan, mana pekerjaan dan kesenangan
Saturday, March 10, 2007
Kemampuan linguistik
Sejauh yang gue ketahui, kemampuan linguistik meliputi kemampuan berbicara, mendengar, membaca dan menulis.
Kemampuan berbicara adalah kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik ketika ngobrol, presentasi, menyampaikan pendapat, eyel-eyelan (baca : berdebat) ataupun kegiatan lainnya. Kemampuan berbicara identik dengan penggunaan bahasa dan lisan yang tepat, sehingga pendengar dapat mengerti apa yang kita sampaikan. Selain itu, sikap dan pengetahuan menentukan waktu yang tepat untuk berbicara mendukung keberhasilan kita dalam berbicara.
Kemampuan mendengar tentunya lawan dari kemampuan berbicara, di sini si pendengar diposisikan sebagai pihak yang berusaha mengerti terhadap apa yang disampaikan oleh lawan dengarnya --dalam hal ini si pembicara. Untuk mengerti apa yang disampaikan oleh si pembicara tidak terlepas dari kemampuan untuk memberi perhatian terhadap hal yang disampaikan oleh si pembicara. Lagi-lagi masalah sikap.
Tentunya akan takberujungpangkal jika kedua pihak sama-sama berbicara tanpa mendengar, dan betapa anehnya jika kedua pihak berusaha untuk saling mendengar tapi tidak ada satupun yang berbicara --bayangkanlah dua orang saling bertatapan serius dan berusaha saling mendengarkan sementara tidak satupun berbicara. Mungkin perlu juga ya bahasa ekspresi wajah dan tatapan mata yang baku. Jadi jika satu kedipan mata berarti huruf A, kedua mata berkedip berarti B, bibir senyum berarti S, lidah melet artinya M dan seterusnya, intinya bagaimana bisa memetakan alphabet dengan ekspresi wajah :D.
Lalu kemampuan membaca, kemampuan untuk mengerti dan memahami bacaan, membaca itu penting, karena salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah dengan membaca, artinya, banyak baca jadi banyak tahu. Terlepas dari bahan apa yang dibaca, ada istilah "you're what you read", jadi secara tidak langsung untuk menilai pribadi seseorang kita dapat melihat apa yang dibacanya, lebih dari itu, mungkin membaca adalah sebuah cara yang tepat untuk melarikan diri yak, baik dari tempat, waktu, sampai kenyataan :D.
Menulis, aktivitas yang sedang gue lakukan saat ini, sampai sejauh ini kira-kira pembaca mengerti apa yang gue tulis apa nggak yak ? :D. Menulis adalah salah satu kegiatan positif, menulis merupakan cara untuk mengkomunikasikan apa yang ada di dalam pikiran kita ke dalam rangkaian aksara agar dimengerti orang lain, baik berupa ilmu pengetahuan, opini, ide, pengalaman, ocehan tak bermutu, sampai keluh kesah :D. Entah apapun tulisan yang dibuat, menurut gue akan sangat bernilai, jika si penulis melakukannya dengan segenap jiwa, jika bukan untuk orang lain ya berarti untuk kepuasan diri pribadi :D
Jujur saja, gue merasa kemampuan linguistik yang gue miliki masih kurang, baik dalam berbicara, mendengar, menulis bahkan membaca, masih perlu banyak belajar dan belajar :D. Gue ngga akan lupa dengan pepatah ini, "Banyak belajar banyak lupa, sedikit belajar sedikit lupa, tidak belajar tidak lupa --karena nggak ada yang diingat :D"
Dari ocehan hasil kesotoyan gue, adalah betapa pentingnya kemampuan linguistik. Bagaimana kita bisa berkomunikasi jika minim kemampuan linguistik, tentunya satu kemampuan linguistik akan bersinergi dengan kemampuan lainnya, dilihat dari kemampuan berbicara, bagaimana mungkin bisa jadi pembicara yang baik jika tidak bisa menjadi pendengar yang baik, lalu, bagaimana bisa menyampaikan buah pikiran dengan berbicara jika kosa kata dan pengetahuan yang dimiliki --salah satunya berasal dari bahan bacaan-- kurang, dan menurut gue, salah satu indikasi jelas tidaknya hal yang disampaikan oleh seorang pembicara bisa dinilai dari kemampuannya untuk menuangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Dan hal penting lainnya –menurut gue lagi— adalah pengaruh perbuatan kita terhadap keberadaan individu di sekitar kita, utamanya dalam kegiatan aktif seperti berbicara dan menulis, tidak semua kebebasan yang dimiliki oleh diri kita serta merta dapat melenggang seenaknya, batas-batas, penghargaan dan tanggung jawab sudah seharusnya menyertainya.
Kemampuan berbicara adalah kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik ketika ngobrol, presentasi, menyampaikan pendapat, eyel-eyelan (baca : berdebat) ataupun kegiatan lainnya. Kemampuan berbicara identik dengan penggunaan bahasa dan lisan yang tepat, sehingga pendengar dapat mengerti apa yang kita sampaikan. Selain itu, sikap dan pengetahuan menentukan waktu yang tepat untuk berbicara mendukung keberhasilan kita dalam berbicara.
Kemampuan mendengar tentunya lawan dari kemampuan berbicara, di sini si pendengar diposisikan sebagai pihak yang berusaha mengerti terhadap apa yang disampaikan oleh lawan dengarnya --dalam hal ini si pembicara. Untuk mengerti apa yang disampaikan oleh si pembicara tidak terlepas dari kemampuan untuk memberi perhatian terhadap hal yang disampaikan oleh si pembicara. Lagi-lagi masalah sikap.
Tentunya akan takberujungpangkal jika kedua pihak sama-sama berbicara tanpa mendengar, dan betapa anehnya jika kedua pihak berusaha untuk saling mendengar tapi tidak ada satupun yang berbicara --bayangkanlah dua orang saling bertatapan serius dan berusaha saling mendengarkan sementara tidak satupun berbicara. Mungkin perlu juga ya bahasa ekspresi wajah dan tatapan mata yang baku. Jadi jika satu kedipan mata berarti huruf A, kedua mata berkedip berarti B, bibir senyum berarti S, lidah melet artinya M dan seterusnya, intinya bagaimana bisa memetakan alphabet dengan ekspresi wajah :D.
Lalu kemampuan membaca, kemampuan untuk mengerti dan memahami bacaan, membaca itu penting, karena salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah dengan membaca, artinya, banyak baca jadi banyak tahu. Terlepas dari bahan apa yang dibaca, ada istilah "you're what you read", jadi secara tidak langsung untuk menilai pribadi seseorang kita dapat melihat apa yang dibacanya, lebih dari itu, mungkin membaca adalah sebuah cara yang tepat untuk melarikan diri yak, baik dari tempat, waktu, sampai kenyataan :D.
Menulis, aktivitas yang sedang gue lakukan saat ini, sampai sejauh ini kira-kira pembaca mengerti apa yang gue tulis apa nggak yak ? :D. Menulis adalah salah satu kegiatan positif, menulis merupakan cara untuk mengkomunikasikan apa yang ada di dalam pikiran kita ke dalam rangkaian aksara agar dimengerti orang lain, baik berupa ilmu pengetahuan, opini, ide, pengalaman, ocehan tak bermutu, sampai keluh kesah :D. Entah apapun tulisan yang dibuat, menurut gue akan sangat bernilai, jika si penulis melakukannya dengan segenap jiwa, jika bukan untuk orang lain ya berarti untuk kepuasan diri pribadi :D
Jujur saja, gue merasa kemampuan linguistik yang gue miliki masih kurang, baik dalam berbicara, mendengar, menulis bahkan membaca, masih perlu banyak belajar dan belajar :D. Gue ngga akan lupa dengan pepatah ini, "Banyak belajar banyak lupa, sedikit belajar sedikit lupa, tidak belajar tidak lupa --karena nggak ada yang diingat :D"
Dari ocehan hasil kesotoyan gue, adalah betapa pentingnya kemampuan linguistik. Bagaimana kita bisa berkomunikasi jika minim kemampuan linguistik, tentunya satu kemampuan linguistik akan bersinergi dengan kemampuan lainnya, dilihat dari kemampuan berbicara, bagaimana mungkin bisa jadi pembicara yang baik jika tidak bisa menjadi pendengar yang baik, lalu, bagaimana bisa menyampaikan buah pikiran dengan berbicara jika kosa kata dan pengetahuan yang dimiliki --salah satunya berasal dari bahan bacaan-- kurang, dan menurut gue, salah satu indikasi jelas tidaknya hal yang disampaikan oleh seorang pembicara bisa dinilai dari kemampuannya untuk menuangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Dan hal penting lainnya –menurut gue lagi— adalah pengaruh perbuatan kita terhadap keberadaan individu di sekitar kita, utamanya dalam kegiatan aktif seperti berbicara dan menulis, tidak semua kebebasan yang dimiliki oleh diri kita serta merta dapat melenggang seenaknya, batas-batas, penghargaan dan tanggung jawab sudah seharusnya menyertainya.
Thursday, March 01, 2007
Catatan Terselip
Tempat ini cukup menarik, sangat ramai pengunjung, transaksi penjual dan pembeli, timbangan, truk-truk yang mengantar sayur mayur-buah-rempah-rempah, kuli-kuli angkut, bocah-bocah dekil, di satu sisi bau menyengat karena tumpukan sampah basah yang menggunung, di sisi lain tercium bau menusuk karena rempah-rempah. Terlihat cukup banyak anak-anak yang bekerja di beberapa blok penjual rempah-rempah, mengelompokkan, membersihkan lalu membungkusnya, begitu pula untuk orang-orang dewasa; ada yang berjaga di depan barang dagangannya, memindahkan barang dari truk, meletakkannya secara berkelompok sembari berharap ada orang yang membelinya. Tidak ketinggalan juga kuli-kuli angkut pasar, bukan hanya yang masih muda serta memiliki tubuh dan tenaga yang kuat, tapi yang rentapun terkadang masih bisa dijumpai, mengangkut beban yang berkisar 1-2 kali berat tubuhnya.
Sesekali terlihat sekumpulan anak yang wira-wiri membawa “barang temuan”, sepotong-dua potong ketela pohon/rambat yang terserak di sekitar truk turun muatan setidaknya berkah untuk mereka, lagipula si empunya tidak terlalu ambil pusing atau sampai enggan berbagi.
Gambaran lain dari salah satu sisi kehidupan yang menghiasai kota Jakarta, sederhana sekali tempat ini, bukan sekedar ungkapan "no pain no gain" yang kadang hanya sekedar tertulis ataupun terdengar, terkadang terpikir, bahkan untuk anak-anak kecil --seusia TK & sekolah dasar-- yang bekerja di tempat ini kata-kata itu sudah benar-benar terpatri dan mendarah-daging.
Catatan terselip : "Pasar Induk Kramat Jati" 11 Juni 2006
Sesekali terlihat sekumpulan anak yang wira-wiri membawa “barang temuan”, sepotong-dua potong ketela pohon/rambat yang terserak di sekitar truk turun muatan setidaknya berkah untuk mereka, lagipula si empunya tidak terlalu ambil pusing atau sampai enggan berbagi.
Gambaran lain dari salah satu sisi kehidupan yang menghiasai kota Jakarta, sederhana sekali tempat ini, bukan sekedar ungkapan "no pain no gain" yang kadang hanya sekedar tertulis ataupun terdengar, terkadang terpikir, bahkan untuk anak-anak kecil --seusia TK & sekolah dasar-- yang bekerja di tempat ini kata-kata itu sudah benar-benar terpatri dan mendarah-daging.
Catatan terselip : "Pasar Induk Kramat Jati" 11 Juni 2006
Wednesday, February 21, 2007
Redemption songs
Old pirates, yes, they rob i
Sold I to the merchant ships,
Minutes after they took i
From the bottomless pit.
But my hand was made strong
By the and of the almighty.
We forward in this generation
Triumphantly.
Wont you help to sing
These songs of freedom?
cause all I ever have
Redemption songs
Redemption songs.
Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our minds
Have no fear for atomic energy
cause none of them can stop the time
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look? ooh
Some say its just a part of it
Weve got to fulfil de book
Wont you help to sing
These songs of freedom
cause all I ever have
Redemption songs
Redemption songs
Redemption songs
---
/guitar break/
---
Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our mind
Wo! have no fear for atomic energy
cause none of them-a can-a stop-a the time
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look
Yes, some say its just a part of it
Weve got to fulfil de book
Wont you help to sing
Dese songs of freedom
cause all I ever had
Redemption songs
All I ever had
Redemption songs
These songs of freedom
Songs of freedom
#Bob Marley
Sold I to the merchant ships,
Minutes after they took i
From the bottomless pit.
But my hand was made strong
By the and of the almighty.
We forward in this generation
Triumphantly.
Wont you help to sing
These songs of freedom?
cause all I ever have
Redemption songs
Redemption songs.
Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our minds
Have no fear for atomic energy
cause none of them can stop the time
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look? ooh
Some say its just a part of it
Weve got to fulfil de book
Wont you help to sing
These songs of freedom
cause all I ever have
Redemption songs
Redemption songs
Redemption songs
---
/guitar break/
---
Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our mind
Wo! have no fear for atomic energy
cause none of them-a can-a stop-a the time
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look
Yes, some say its just a part of it
Weve got to fulfil de book
Wont you help to sing
Dese songs of freedom
cause all I ever had
Redemption songs
All I ever had
Redemption songs
These songs of freedom
Songs of freedom
#Bob Marley
Friday, January 19, 2007
insomnia(3)
Sedang mengingat masa-masa kecil dengan kebudayaan yang berada di sekitar, dulu ketika kecil, ketika ada acara hajatan, entah itu pernikahan, khitanan ataupun acara 17-an masih sempat menikmati eloknya kebudayaan. Nuansa kebudayaannya masih kental, gue masih ingat dengan jelas, ketika itu ada acara pernikahan di RT, seperti acara pernikahan pada umumnya, biasanya resepsi dilakukan di siang hari, sedangkan malam hari adalah waktunya suguhan hiburan bagi masyarakat setempat, saat itu, untuk sekedar melihat hiburan, lapangan yang biasanya sepi bisa menjadi sebuah tempat yang sangat ramai, suguhan acara dimulai dari sambutan MC, keluarga yang memiliki acara, permainan tanjidor, lenong betawi dan diakhiri pemutaran film misbar (gerimis bubar) alias layar tancap :D.
Gue penikmat permainan musik, menyenangkan sekali melihat pemain memainkan berbagai alat musik, mungkin suaranya yang dihasilkan tidak terlalu memikat namun buat gue seni bermain alat musik itu menjadi daya tarik tersendiri. Sampai sekarangpun gue belum bisa bermain satupun alat musik, benar-benar hanya menjadi seorang penikmat permainan. Seperti apapun permainan tanjidor, baik atau buruk, menarik atau tidak, tetap saja merupakan sebuah kekayaan budaya yang memperkaya khasanah musik.
Tentang lenong betawi, ketika kecil dulu gue bisa tertawa lepas melihat aksi pemain lenong --mungkin karena masih kecil yak--, humor yang ditawarkan masih santun, terkadang ada juga nilai yang disampaikan, waktu itu sih yang gue ingat, nilai yang disampaikan dari acara tersebut, jika setelah menikah kemudian pasangan tersebut mempunyai anak, maka, it doesn't really matter whether your child is a girl or a boy, sesuai dengan himbauan pemerintah saat itu untuk menekan angka kelahiran. "Cukup dua anak, laki dan perempuan sama saja". Walau sekarang ada juga acara sejenis yang disebut lenong dan disiarkan melalui televisi, tapi rasanya kok beda, baik dari segi penyampaian maupun isi, kecenderungannya berisi celaan, canda yang tidak santun, gue menilainya sebagai miskin kreativitas, sensenya juga beda.
Mengenai layar tancap, well, hiburan yang satu ini kalo gue nilai sebagai acara pamungkas dari rangkaian suguhan hiburan. Untuk pemutaran film, biasanya waktu awal filmnya biasa-biasa aja, lalu beranjak ke tengah malam dan menjelang subuh baru deh film andalan dimainkan, sebenarnya gue kurang tahu mana film biasa dan andalan, definisi semua itu didasarkan paada desas-desus yang beredar sesama penonton :D, ada unsur psikologisnya juga.
Salah satu momen yang sangat berkesan adalah ketika menikmatinya, penikmat tentu saja tetangga dan warga sekitar, baik dari RT yang sama ataupun RT tetangga, terkadang entah orang darimana tahu-tahu ada di tempat itu :D. Cemilan yang ada juga merakyat, jagung dan kacang rebus, kue cucur, gemblong, bajigur, pisang dan ubi rebus. Biasanya gue menikmati setiap rangkaian hiburan bersama teman-teman dengan beralaskan koran, kongkow-kongkow, ketawa-ketiwi sambil makan cemilan :D, saat ini, pengalaman tersebut menurut gue sangat berkesan dan bernilai. Jauh lebih bernilai ketimbang menikmati film yang dimainkan di bioskop yang berada dalam mall dengan kursi empuk dan hawa dingin.
Saat ini gue merasa kesulitan untuk menemukan acara sejenis yang gue nikmati ketika masa kecil, mungkin di daerah lain masih ada. Sedangkan hiburan yang disuguhkan, sering sekali, kalo kebetulan ada acara pernikahan, lalu gue melewati tempatnya selepas beraktivitas di siang hari, biasanya acara yang disuguhkan adalah dangdut dengan penampilan sang biduan yang sedikit (?), cukup (?), sangat(?) seronok. Tak ketinggalan anak-anak kecil, ibu-ibu, bapak-bapak, muda-mudi tumpah ruah di sekitar panggung untuk menikmatinya, jika waktunya tiba, orang dewasa beraksi dengan berjoget. Botol-botol minumanpun berada di sekitar orang yang berkelompok.
Hmmm.. romantisme budaya.
Gue penikmat permainan musik, menyenangkan sekali melihat pemain memainkan berbagai alat musik, mungkin suaranya yang dihasilkan tidak terlalu memikat namun buat gue seni bermain alat musik itu menjadi daya tarik tersendiri. Sampai sekarangpun gue belum bisa bermain satupun alat musik, benar-benar hanya menjadi seorang penikmat permainan. Seperti apapun permainan tanjidor, baik atau buruk, menarik atau tidak, tetap saja merupakan sebuah kekayaan budaya yang memperkaya khasanah musik.
Tentang lenong betawi, ketika kecil dulu gue bisa tertawa lepas melihat aksi pemain lenong --mungkin karena masih kecil yak--, humor yang ditawarkan masih santun, terkadang ada juga nilai yang disampaikan, waktu itu sih yang gue ingat, nilai yang disampaikan dari acara tersebut, jika setelah menikah kemudian pasangan tersebut mempunyai anak, maka, it doesn't really matter whether your child is a girl or a boy, sesuai dengan himbauan pemerintah saat itu untuk menekan angka kelahiran. "Cukup dua anak, laki dan perempuan sama saja". Walau sekarang ada juga acara sejenis yang disebut lenong dan disiarkan melalui televisi, tapi rasanya kok beda, baik dari segi penyampaian maupun isi, kecenderungannya berisi celaan, canda yang tidak santun, gue menilainya sebagai miskin kreativitas, sensenya juga beda.
Mengenai layar tancap, well, hiburan yang satu ini kalo gue nilai sebagai acara pamungkas dari rangkaian suguhan hiburan. Untuk pemutaran film, biasanya waktu awal filmnya biasa-biasa aja, lalu beranjak ke tengah malam dan menjelang subuh baru deh film andalan dimainkan, sebenarnya gue kurang tahu mana film biasa dan andalan, definisi semua itu didasarkan paada desas-desus yang beredar sesama penonton :D, ada unsur psikologisnya juga.
Salah satu momen yang sangat berkesan adalah ketika menikmatinya, penikmat tentu saja tetangga dan warga sekitar, baik dari RT yang sama ataupun RT tetangga, terkadang entah orang darimana tahu-tahu ada di tempat itu :D. Cemilan yang ada juga merakyat, jagung dan kacang rebus, kue cucur, gemblong, bajigur, pisang dan ubi rebus. Biasanya gue menikmati setiap rangkaian hiburan bersama teman-teman dengan beralaskan koran, kongkow-kongkow, ketawa-ketiwi sambil makan cemilan :D, saat ini, pengalaman tersebut menurut gue sangat berkesan dan bernilai. Jauh lebih bernilai ketimbang menikmati film yang dimainkan di bioskop yang berada dalam mall dengan kursi empuk dan hawa dingin.
Saat ini gue merasa kesulitan untuk menemukan acara sejenis yang gue nikmati ketika masa kecil, mungkin di daerah lain masih ada. Sedangkan hiburan yang disuguhkan, sering sekali, kalo kebetulan ada acara pernikahan, lalu gue melewati tempatnya selepas beraktivitas di siang hari, biasanya acara yang disuguhkan adalah dangdut dengan penampilan sang biduan yang sedikit (?), cukup (?), sangat(?) seronok. Tak ketinggalan anak-anak kecil, ibu-ibu, bapak-bapak, muda-mudi tumpah ruah di sekitar panggung untuk menikmatinya, jika waktunya tiba, orang dewasa beraksi dengan berjoget. Botol-botol minumanpun berada di sekitar orang yang berkelompok.
Hmmm.. romantisme budaya.
Wednesday, December 27, 2006
Insomnia (2)
Mungkin nantinya judul dari setiap tulisan di blog diganti insomnia terus kali yak, rasanya kok mood untuk update blog muncul kalo memang lagi gak bisa tidur :p. Mau cerita sedikit ah...
ceritanya tentang seorang anak manusia yang punya hobi jalan-jalan dan seringnya juga sendirian, "kayak orang bego" kata seorang teman, masa bodoh. Pun Sampai sekarang juga cuma jadi seorang pengamat --kelas teri pula, gue punya semboyan petualang, begini : "jejakkan kakimu di tanah yang baru, minum airnya, kenalilah masyarakatnya", untuk penggalan terakhir "kenalilah masyaraktnya" adalah hal menarik buat gue ketika berada di daerah baru, lalu bisa mengetahui kebudayaanya, pola interaksi sosial dan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dan sering juga hal-hal sederhana yang terjadi, rasanya kok menagih.
Pembaca suka ini ?
Pernah melihat garis cakrawala yang mempertemukan laut dan langit, menarik bukan ?, mungkin kalo ini sedikit beda, batas yang gue maksud adalah pepohonan yang terlihat kecil berderet. Duduk di sebuah angkutan umum yang menghubungkan antar satu kabupaten dengan kabupaten lain di jawa tengah tak lepas dari pemandangan permadani hijau yang sangat luas. Di saat musim penghujan seperti saat ini, para petani menanami sawah-sawah (mereka ?) dengan padi, dan di awal musim seperti ini umumnya tanaman masih menghijau --belum memiliki bulir padi. Menurut gue sangat menyenangkan melihat hal seperti ini, ditemani hembusan angin segar di siang hari, tak lupa suara siaran radio yang memperdengarkan lagu-lagu dengan bahasa setempat, begitupula dengan obrolan di antara satu-dua penumpangnya. Klasik itu asik.
Di sela-sela lukisan indah tersebut, rupanya ada seorang gadis berseragam SMU yang memasang senyum manis --mesam-mesem ngono loh-- dengan seorang lelaki sebayanya yang berada di sudut belakang angkutan, entah siapa yang memulai, si lelakipun membalas nya dengan curi-curi pandang dan senyum menggoda. Beberapa lama kemudian terdengar gelak tawa dan canda dari luar angkutan umum, rupanya ada empat anak perempuan berseragam SMP yang menaiki satu becak, dua orang di bangku utama dan dua orang lagi duduk di tempat pijakan, ditemani si mas yang mengayuh pedal dengan kepayahan sambil sesekali mengusap keringatnya, sedangkan pengiringnya adalah teman-teman lain baik laki maupun perempuan bersepeda --semi ontel-- beriringan sambil sesekali terjadi percakapan kecil di antara mereka. Ketika menyaksikan hal tersebut, pikiran yang terbesit di kepala gue adalah bahwa di antara mereka nantinya ada orang besar yang akan membawa kemajuan bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Selain tentunya akan ada juga yang terkapar karena terhambat masalah umum yaitu AKSES.
Melompat sedikit ke hal lain, untuk pembaca yang kebetulan peduli dengan nasib pendidikan di Indonesia, gambaran sederhana yang gue ceritakan di atas sekiranya bisa memberikan sedikit percikan semangat bahwa mereka & pendidikan --terutama AKSES-- memang patut untuk diperjuangkan, ah ya, gue pun belum --bahkan tidak-- bisa berbuat banyak kecuali sekedar menjadi pengamat kelas TERI yang miskin tindakan. Ah, sutralah (baca : sudahlah), kayaknya mulai melantur.
ceritanya tentang seorang anak manusia yang punya hobi jalan-jalan dan seringnya juga sendirian, "kayak orang bego" kata seorang teman, masa bodoh. Pun Sampai sekarang juga cuma jadi seorang pengamat --kelas teri pula, gue punya semboyan petualang, begini : "jejakkan kakimu di tanah yang baru, minum airnya, kenalilah masyarakatnya", untuk penggalan terakhir "kenalilah masyaraktnya" adalah hal menarik buat gue ketika berada di daerah baru, lalu bisa mengetahui kebudayaanya, pola interaksi sosial dan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dan sering juga hal-hal sederhana yang terjadi, rasanya kok menagih.
Pembaca suka ini ?
Pernah melihat garis cakrawala yang mempertemukan laut dan langit, menarik bukan ?, mungkin kalo ini sedikit beda, batas yang gue maksud adalah pepohonan yang terlihat kecil berderet. Duduk di sebuah angkutan umum yang menghubungkan antar satu kabupaten dengan kabupaten lain di jawa tengah tak lepas dari pemandangan permadani hijau yang sangat luas. Di saat musim penghujan seperti saat ini, para petani menanami sawah-sawah (mereka ?) dengan padi, dan di awal musim seperti ini umumnya tanaman masih menghijau --belum memiliki bulir padi. Menurut gue sangat menyenangkan melihat hal seperti ini, ditemani hembusan angin segar di siang hari, tak lupa suara siaran radio yang memperdengarkan lagu-lagu dengan bahasa setempat, begitupula dengan obrolan di antara satu-dua penumpangnya. Klasik itu asik.
Di sela-sela lukisan indah tersebut, rupanya ada seorang gadis berseragam SMU yang memasang senyum manis --mesam-mesem ngono loh-- dengan seorang lelaki sebayanya yang berada di sudut belakang angkutan, entah siapa yang memulai, si lelakipun membalas nya dengan curi-curi pandang dan senyum menggoda. Beberapa lama kemudian terdengar gelak tawa dan canda dari luar angkutan umum, rupanya ada empat anak perempuan berseragam SMP yang menaiki satu becak, dua orang di bangku utama dan dua orang lagi duduk di tempat pijakan, ditemani si mas yang mengayuh pedal dengan kepayahan sambil sesekali mengusap keringatnya, sedangkan pengiringnya adalah teman-teman lain baik laki maupun perempuan bersepeda --semi ontel-- beriringan sambil sesekali terjadi percakapan kecil di antara mereka. Ketika menyaksikan hal tersebut, pikiran yang terbesit di kepala gue adalah bahwa di antara mereka nantinya ada orang besar yang akan membawa kemajuan bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Selain tentunya akan ada juga yang terkapar karena terhambat masalah umum yaitu AKSES.
Melompat sedikit ke hal lain, untuk pembaca yang kebetulan peduli dengan nasib pendidikan di Indonesia, gambaran sederhana yang gue ceritakan di atas sekiranya bisa memberikan sedikit percikan semangat bahwa mereka & pendidikan --terutama AKSES-- memang patut untuk diperjuangkan, ah ya, gue pun belum --bahkan tidak-- bisa berbuat banyak kecuali sekedar menjadi pengamat kelas TERI yang miskin tindakan. Ah, sutralah (baca : sudahlah), kayaknya mulai melantur.
Thursday, December 14, 2006
Insomnia
Sialnya penyakit insomnia mulai kambuh, kabarnya salah satu penyebab penyakit insmonia adalah pikiran yang berjejal di dalam kepala, sialnya terkadang pikiran yang singgah di kepala juga ngga penting-penting amat, entahlah, tubuh inginnya istirahat, tapi kok pikiran masih jalan kemana-mana. Satu kata untuk menjelaskannya, KOMPLEKS. Atau ada penyebab lain ?, jangan-jangan, pengaruh kafein dalam segelas kopi yang gue minum di sore hari, abis haus. Haus kok minum kopi ?, lah yang disediain cuma kopi :p.
Subscribe to:
Posts (Atom)